Praktik Baik

Upaya warga sekadau beralih dari jamban sungai untuk atasi cemaran

Sekadau Bebas BAB Sembarangan dengan ‘Gentong Mas Santun’

Setelah bertahun-tahun bergantung pada Sungai Sekadau untuk berbagai keperluan, termasuk buang air besar sembarangan (BABS), Kabupaten Sekadau, Kalimantan Barat, berhasil membuat perubahan signifikan. Pada 7 Agustus 2025, Sekadau resmi mendeklarasikan status Open Defecation Free (ODF) atau bebas buang air besar sembarangan, menjadikannya kabupaten pertama di Kalimantan Barat yang mencapai target ini.

Tantangan Historis: Sanitasi di Bumi Lawang Kuari

Akses terhadap fasilitas sanitasi yang layak telah lama menjadi tantangan di Sekadau, yang sebagian besar wilayahnya terutama Sekadau Hilir adalah dataran rendah, rawan banjir, dan memiliki daya resap tanah yang buruk.

  • Ketergantungan Sungai: Kebiasaan BABS di sungai berlangsung turun-temurun. Warga seperti Rita, menyoroti kendala biaya tinggi untuk membangun kloset dan keterbatasan lahan di rumah yang sempit.
  • Kerusakan Septik Konvensional: Kondisi topografi (rawa dan banjir) membuat pembangunan tangki septik konvensional sulit dan tidak awet. Ningsih, seorang warga, bercerita septik yang dibangunnya mudah tergenang dan jebol saat air sungai meluap, memaksa kembali ke jamban sungai.
  • Data BABS (2021): Tercatat 20,96% rumah tangga belum memiliki jamban sendiri, sementara hanya 2,94% yang menggunakan jamban umum.

Risiko Kesehatan: Diare hingga Stunting

BAB sembarangan di sungai mencemari sumber air yang digunakan masyarakat untuk mandi, mencuci, hingga sumber air minum. Menurut Prasetyo Widhi Buwono dari PB PAPDI, pencemaran ini berisiko:

Risiko KesehatanDampak
Penyakit Saluran CernaPenyebaran bakteri penyebab infeksi, termasuk diare, muntaber, dan demam tifoid.
Infeksi CacingMenyerang anak-anak (mengganggu tumbuh kembang dan memicu stunting) dan orang dewasa (menyebabkan gangguan pencernaan dan anemia).
Kontaminasi MakananBau kotoran mengundang lalat yang membawa jutaan bakteri, mencemari makanan yang tidak tertutup.

Solusi Lokal: Inovasi ‘Gentong Mas Santun’

Melihat kondisi septik konvensional yang mudah rusak karena banjir, tiga pemuda lokal—Rusdiani, M Indra Kusuma, dan M Rifani mengembangkan solusi inovatif yang dikenal sebagai “Gentong Mas Santun” (Gerakan Tolong Masyarakat Sanitasi Tuntas).

Fitur Utama Gentong Mas SantunKeunggulan dan Manfaat
Desain AlternatifMenggunakan gentong sebagai pengganti tangki septik, dibuat dari bahan yang kuat dan tahan lama.
Efektif di Lahan RawaMampu menahan tekanan air dan tanah, sehingga tidak mudah rusak meski terjadi luapan sungai atau banjir.
Biaya Lebih MurahBiaya pembuatan hanya sekitar Rp2 juta, jauh lebih murah daripada septik konvensional (Rp3–Rp5 juta).
Pengolahan MandiriWarga didorong merawat dengan melarutkan Klorin (untuk membasmi bakteri) dan membuat larutan EM4 (Effective Microorganisms 4) secara mandiri untuk mempercepat dekomposisi tinja.
Ramah LingkunganLimbah yang dibuang ke lubang resapan sudah lebih jernih dan tidak berbau.

Inovasi ini kemudian dikembangkan dan diperluas jangkauannya oleh Wahana Visi Indonesia (WVI), yang memasang 28 unit di wilayah Sekadau Hilir, termasuk 21 unit di pinggiran Sungai Sekadau.

Dampak dan Dukungan Kebijakan

Keberhasilan Sekadau mencapai status ODF menandai 94 desa di kabupaten tersebut telah menghentikan praktik BABS. Keberhasilan ini didukung oleh:

  1. Regulasi Daerah: Penetapan Peraturan Bupati (Perbup) Nomor 51 Tahun 2017 tentang Gerakan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM). STBM memiliki lima pilar, salah satunya ODF.
  2. Anggaran Desa: Pemerintah daerah mewajibkan setiap desa mengalokasikan minimal 20% APBDes untuk program kesehatan, termasuk mendukung pencapaian ODF. Desa yang tidak menganggarkan dana kesehatan tidak akan menerima APBDes.
  3. Inisiatif Komunitas: Adanya inisiatif seperti “Arisan WC” di desa percontohan (dekat objek wisata Batu Jatoh) dan pelatihan pembuatan kloset mandiri oleh WVI.

Penurunan Angka Diare:

Status ODF terbukti berdampak langsung pada kesehatan masyarakat. Kepala Dinas Kesehatan Sekadau, Henry Alpius, mencatat terjadi penurunan kasus diare yang signifikan:

  • 2015: 3.192 kasus
  • 2018 (Pasca-Perbup): 2.638 kasus
  • 2024: 581 kasus

Keberhasilan Sekadau menunjukkan pentingnya pendekatan yang didasarkan pada peningkatan kesadaran, pembangunan infrastruktur yang sesuai dengan kondisi topografi lokal, dan komitmen pembiayaan dari pemerintah.

sumber:

https://mongabay.co.id/2025/10/26/upaya-warga-sekadau-beralih-dari-jamban-sungai-untuk-atasi-cemaran/

Temukan peta dengan kualitas terbaik untuk gambar peta indonesia lengkap dengan provinsi.

Konten Terkait

Back to top button
Data Sydney
Erek erek
Batavia SDK
BUMD ENERGI JAKARTA
JAKPRO