Rentan bencana alam, pemerintah India godok rencana skema asuransi berbasis iklim

India Merancang Skema Asuransi Parametrik Nasional untuk Mitigasi Risiko Bencana Iklim
Pemerintah India telah memulai diskusi awal dengan perusahaan asuransi lokal untuk mengembangkan program asuransi nasional yang berfokus pada risiko iklim. Inisiatif ini bertujuan untuk menyederhanakan dan mempercepat proses pembayaran klaim setelah terjadi peristiwa cuaca ekstrem seperti gelombang panas dan banjir.
Model Asuransi Berbasis Iklim: Parametrik
Skema yang sedang digodok ini akan mengadopsi model asuransi parametrik. Model ini memiliki keunggulan signifikan dibandingkan asuransi tradisional:
- Mekanisme Pembayaran Cepat: Pembayaran yang telah ditentukan sebelumnya (pre-determined payout) akan diberikan secara otomatis kepada pemegang polis segera setelah ambang batas cuaca tertentu seperti curah hujan, suhu, atau kecepatan angin terlampaui.
- Kontras dengan Model Tradisional: Dalam asuransi tradisional, pembayaran didasarkan pada penilaian kerugian yang diderita, yang sering kali memakan waktu bertahun-tahun.
- Cakupan Luas: Asuransi parametrik dapat menawarkan perlindungan di wilayah-wilayah yang saat ini minim atau tidak memiliki asuransi tradisional.
Ramaswamy Narayanan, Ketua Reasuransi milik Negara GIC Re, menekankan bahwa model parametrik memungkinkan pembayaran dilakukan sangat cepat, yang sangat penting dalam situasi bencana.
Manfaat bagi Pemerintah dan Keuangan Negara
Jika program ini terwujud, India dapat menjadi salah satu negara dengan ekonomi besar pertama yang meluncurkan skema asuransi iklim semacam ini. Langkah ini memberikan manfaat ganda bagi pemerintah:
- Mengendalikan Biaya: Perusahaan asuransi akan menanggung lebih banyak risiko, yang akan mengurangi beban biaya pemerintah pusat yang selama ini menggunakan dana bantuan bencana untuk membantu negara bagian.
- Meningkatkan Perlindungan: Program ini menyediakan mekanisme yang lebih terstruktur dan cepat untuk membantu masyarakat dan negara bagian yang terdampak.
Diskusi ini didorong oleh peningkatan “frekuensi dan tingkat keparahan peristiwa iklim buruk,” tambah Narayanan. Walaupun belum ada proposal resmi yang diajukan, ide ini didukung oleh para pejabat federal.
Kerentanan Iklim India dan Dampaknya
India menduduki peringkat keenam secara global dalam kerentanan iklim, berdasarkan Indeks Risiko Iklim Global Germanwatch 2025 (melacak periode 1993–2022).
- Data Kerugian: Selama periode tersebut, India mengalami lebih dari 400 peristiwa cuaca ekstrem, yang mengakibatkan setidaknya 80.000 kematian dan kerugian ekonomi sekitar US$180 miliar.
- Contoh Dampak Nyata:
- Negara bagian pertanian seperti Punjab dan Assam menderita kerugian panen dan mata pencaharian akibat banjir.
- Banjir bandang dan tanah longsor di Uttarakhand dan Jammu dan Kashmir menghancurkan infrastruktur seperti rumah, jalan, dan jembatan.
Opsi Pendanaan dan Sorotan Global
Berbagai entitas termasuk Badan Penanggulangan Bencana Nasional, Kementerian Keuangan, GIC Re, dan perusahaan asuransi terkemuka sedang menjajaki opsi pertanggungan dan mekanisme pendanaan.
Pemerintah federal mempertimbangkan beberapa opsi pembiayaan, di antaranya:
- Memanfaatkan dana bantuan bencana yang sudah ada.
- Mengenakan biaya kecil pada tagihan utilitas (listrik, air, dll.) untuk mendanai premi.
Secara global, minat terhadap asuransi parametrik sedang meningkat. Misalnya, pada tahun 2023, Fiji mengadopsi polis asuransi parametrik berdaulat untuk perlindungan terhadap siklon tropis. Penggunaan instrumen keuangan untuk mitigasi risiko iklim juga diperkirakan menjadi fokus utama pada KTT COP30 di Brasil November ini, di bawah inisiatif keuangan Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa.
sumber:
Temukan peta dengan kualitas terbaik untuk gambar peta indonesia lengkap dengan provinsi.




