RUPTL 2025–2034 Dinilai Menggeser Sejumlah Proyek EBT ke Periode yang Lebih Lambat

Pemerintah telah menerbitkan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik atau RUPTL 2025–2034 sebagai acuan utama pengembangan sistem kelistrikan nasional. Dokumen ini menargetkan penambahan kapasitas pembangkit dan penyimpanan energi dalam jumlah besar, dengan porsi energi baru terbarukan yang terlihat dominan secara keseluruhan.
Dalam RUPTL tersebut, sekitar 61 persen tambahan kapasitas berasal dari energi baru terbarukan, sekitar 11 persen dari sistem penyimpanan energi, sementara sisanya masih berasal dari pembangkit berbasis fosil.
Meski terlihat lebih hijau, sejumlah pengamat menyoroti distribusi penambahan kapasitas tersebut. Porsi terbesar pembangkit energi terbarukan justru ditempatkan pada lima tahun kedua, sementara pada periode lima tahun pertama masih terdapat tambahan kapasitas pembangkit fosil dalam jumlah signifikan.
Analis Senior Iklim dan Energi EMBER, Dody Setiawan, menilai ketika RUPTL 2025–2034 dibandingkan dengan RUPTL 2021–2030, terdapat indikasi bahwa sebagian proyek energi terbarukan yang sebelumnya direncanakan beroperasi pada periode 2025–2029 bergeser ke tahun-tahun berikutnya.
Hal ini berarti percepatan pengembangan energi terbarukan yang sebelumnya direncanakan pada periode tersebut berpotensi tertunda, sementara kebutuhan tambahan kapasitas listrik dalam jangka pendek masih banyak dipenuhi oleh pembangkit berbahan bakar gas dan sebagian batu bara.
Untuk periode lima tahun pertama, RUPTL merencanakan penambahan sekitar 27,9 GW kapasitas pembangkit dan penyimpanan energi. Di dalamnya terdapat sekitar 12,2 GW energi terbarukan, 9,2 GW pembangkit gas, 3 GW penyimpanan energi, serta sekitar 3,5 GW pembangkit batu bara yang sebagian besar sudah berada dalam tahap penyelesaian konstruksi.
Sementara itu, pengembangan energi terbarukan akan meningkat jauh lebih besar pada lima tahun kedua. Pemerintah menargetkan tambahan kapasitas energi terbarukan dan penyimpanan energi mencapai sekitar 37,7 GW pada periode tersebut.
Tenaga surya menjadi salah satu sumber energi utama yang akan dikembangkan, dengan target sekitar 17,1 GW, diikuti tenaga air 11,7 GW, angin 7,2 GW, panas bumi 5,2 GW, serta bioenergi dan nuklir.
Tantangan berikutnya adalah kemampuan merealisasikan proyek-proyek tersebut. Untuk tenaga surya dan angin saja, rata-rata penambahan kapasitas dalam beberapa tahun ke depan harus meningkat berkali-kali lipat dibandingkan realisasi sebelumnya.
Artinya, keberhasilan RUPTL tidak hanya bergantung pada besarnya target. Pemerintah, PLN, dan produsen listrik swasta juga harus mampu mempercepat proses pengadaan proyek, pembiayaan, perizinan, pembangunan jaringan transmisi, hingga konstruksi pembangkit.
RUPTL 2025–2034 memang membawa target energi terbarukan yang besar, tetapi pertanyaan pentingnya adalah kapan kapasitas tersebut benar-benar dibangun. Dalam transisi energi, kecepatan implementasi sama pentingnya dengan besarnya target yang tertulis di atas kertas.
Sumber: OG Indonesia
https://www.ogindonesia.com/2025/06/benarkah-ruptl-2025-2034-menggeser.html




