Saat Hutan Terbakar, Warga Cimenyan Memilih Menanam 500 Pohon Alpukat

Di tengah kabar kebakaran hutan dan lahan yang masih terjadi di berbagai wilayah Indonesia, sebuah aksi berbeda dilakukan di Desa Cimenyan, Kabupaten Bandung. Bersama Konsorsium Kebaikan Indonesia, masyarakat memilih menanam 500 pohon alpukat sebagai bagian dari gerakan bertajuk “Nandur Kahadean”.
Dalam bahasa Sunda, nandur kahadean berarti menanam kebaikan. Semangat inilah yang menjadi dasar kegiatan tersebut: bukan sekadar menanam pohon, tetapi juga menjaga leuweung atau hutan, memulihkan lingkungan, dan menyiapkan manfaat bagi generasi mendatang.
Pohon alpukat dipilih bukan hanya karena memiliki nilai ekologis, tetapi juga nilai ekonomi. Ketika tumbuh, pohon dapat membantu memperbaiki tutupan vegetasi, menjaga kelembapan tanah, mengurangi erosi, serta menyerap karbon dari atmosfer. Pada saat yang sama, buah yang dihasilkan dapat memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar.
Aksi seperti ini menunjukkan bahwa pemulihan lingkungan tidak selalu harus menunggu program besar. Penanaman pohon di tingkat desa dapat menjadi bagian penting dari upaya menjaga daerah tangkapan air, memperkuat ketahanan lahan, dan membangun kesadaran masyarakat terhadap pentingnya hutan.
Namun, menanam hanyalah langkah awal. Tantangan sesungguhnya adalah memastikan bibit yang ditanam tetap hidup, dirawat, dan tumbuh hingga menjadi pohon dewasa. Keberhasilan restorasi lingkungan bergantung pada konsistensi perawatan dalam jangka panjang.
Di tengah laju kerusakan hutan yang bisa terjadi hanya dalam hitungan hari, gerakan menanam memberikan pesan sederhana: kerusakan memang bisa berlangsung cepat, tetapi pemulihan tetap harus dimulai, satu pohon pada satu waktu.
“Nandur Kahadean” mengingatkan bahwa menanam pohon berarti menanam harapan. Apa yang ditanam hari ini mungkin baru akan memberikan manfaat besar bertahun-tahun kemudian, tetapi masa depan lingkungan memang selalu dimulai dari tindakan yang dilakukan sekarang.




