Sebelas Tahun Menjaga Sungai Karang Mumus, Dari Memungut Sampah hingga Menumbuhkan Kepedulian

Selama sebelas tahun, sekelompok warga Samarinda terus menjaga Sungai Karang Mumus melalui aksi sederhana tetapi konsisten: memungut sampah, merawat bantaran, menanam pohon, dan mengajak masyarakat mencintai sungai.
Gerakan tersebut dikenal sebagai Gerakan Memungut Sehelai Sampah Sungai Karang Mumus (GMSS-SKM). Pada 27 September 2026, komunitas ini memperingati perjalanan sebelas tahunnya bertepatan dengan Hari Sungai Sedunia. Perayaan dilakukan bukan dengan acara seremonial di dalam ruangan, melainkan melalui kegiatan langsung di sungai.
Para peserta menggunakan papan dayung untuk menyusuri Sungai Karang Mumus sambil mengumpulkan sampah. Kegiatan melibatkan peserta dewasa, anak-anak, hingga remaja, sekaligus menjadi cara menarik untuk memperkenalkan kepedulian terhadap lingkungan kepada generasi muda.
Ketua GMSS-SKM Samarinda, Misman, menjadi salah satu sosok yang konsisten menjaga gerakan tersebut. Selama bertahun-tahun, kegiatan membersihkan sungai dilakukan hampir setiap pekan, dibarengi edukasi kepada masyarakat bahwa sungai merupakan sumber kehidupan dan bukan tempat pembuangan sampah.
Perubahan memang tidak terjadi secara instan. Sampah masih ditemukan di Sungai Karang Mumus, tetapi jumlah masyarakat yang membuang sampah sembarangan disebut mulai berkurang dibandingkan ketika gerakan tersebut pertama kali berjalan.
Tidak hanya membersihkan sungai, komunitas juga menanam dan merawat pohon di sepanjang bantaran. Vegetasi di tepian sungai memiliki fungsi penting untuk membantu mengikat tanah, mengurangi risiko erosi dan longsor, sekaligus mempertahankan kualitas lingkungan di sekitar aliran air.
Gerakan masyarakat ini kemudian mendapatkan perhatian pemerintah daerah. Pemerintah Kota Samarinda melihat kegiatan GMSS-SKM sebagai salah satu contoh bagaimana kepedulian lingkungan dapat tumbuh secara mandiri dari masyarakat.
Sungai Karang Mumus sendiri memiliki panjang sekitar 34,7 kilometer dan menjadi bagian penting dari lanskap Kota Samarinda. Jika kebersihan dan kualitas lingkungannya terus diperbaiki, sungai tersebut juga berpotensi dikembangkan menjadi ruang publik dan destinasi wisata berbasis masyarakat.
Namun, keberhasilan terbesar dari perjalanan sebelas tahun tersebut mungkin bukan pada jumlah sampah yang berhasil dikumpulkan. Nilai terpentingnya justru terletak pada tumbuhnya kesadaran baru, terutama ketika semakin banyak anak muda dan anak-anak ikut terlibat menjaga sungai.
Memulihkan sungai membutuhkan waktu panjang. Tidak ada perubahan dalam semalam. Namun, satu sampah yang diangkat, satu pohon yang ditanam, dan satu anak yang belajar mencintai sungai dapat menjadi bagian dari perubahan besar di masa depan.
Karang Mumus menunjukkan bahwa menjaga lingkungan tidak selalu harus dimulai dengan proyek besar. Terkadang perubahan justru bermula dari sekelompok warga yang bersedia datang kembali, minggu demi minggu, untuk memastikan sungai mereka tetap bernapas.
Sumber: ANTARA News — Sebelas Tahun Menjaga Napas Karang Mumus ANTARA News
https://www.antaranews.com/berita/5760993/sebelas-tahun-menjaga-napas-karang-mumus




