Sumatera di ujung krisis biodiversitas tertinggi di Indonesia

Sumatera kini berada di titik nadir krisis lingkungan. Berdasarkan data terbaru yang dipaparkan oleh Profesor Syartinilia (Guru Besar IPB University) pada Desember 2025, Pulau Sumatera mencatat angka kehilangan biodiversitas tertinggi di Indonesia.
Laporan ini bukan sekadar peringatan, melainkan panggilan darurat bagi tata kelola lanskap nasional. Berikut adalah poin-poin krusial yang merangkum ancaman tersebut:
1. Krisis dalam Angka: Indeks Keutuhan Biodiversitas (BII)
Menggunakan Biodiversity Intactness Index (BII), penelitian skala meso menunjukkan bahwa Sumatera kehilangan keanekaragaman hayati lebih cepat dibandingkan pulau besar lainnya seperti Kalimantan atau Papua.
- Proyeksi 2050 (Skenario Buruk): Jika pola business-as-usual (eksploitasi tanpa perubahan) berlanjut, Sumatera akan kehilangan 15% biodiversitasnya.
- Skenario Berkelanjutan: Dengan intervensi kebijakan hijau, kehilangan ini dapat ditekan hingga 11%.
- Status Kerentanan: Secara nasional, Sumatera menempati urutan pertama wilayah dengan kerentanan lanskap tertinggi, melampaui Papua dan Kalimantan.
2. Kepunahan Spesies Karismatik
Spesies kunci yang menjadi ikon dunia kini berada di ambang kepunahan akibat fragmentasi lahan. Dampak yang paling mencolok terlihat pada habitat Gajah Sumatera:
- Gajah Sumatera: Tanpa strategi keberlanjutan, habitat gajah diprediksi menyusut drastis hingga 66% pada tahun 2050. Sebaliknya, pendekatan berkelanjutan berpotensi meningkatkan habitat sebesar 5%.
- Spesies Lain: Harimau, Badak, dan Orangutan Sumatera juga menghadapi tekanan serupa akibat hilangnya tutupan hutan yang kini telah menyusut lebih dari 50% sejak awal abad ke-21.
3. Ekosistem Paling Rentan
Analisis kerentanan nasional yang menggabungkan paparan iklim dan kualitas ekosistem mengidentifikasi dua tipe wilayah yang paling terancam:
- Lahan Basah (Rawa dan Gambut)
- Ekosistem Pegunungan
Penyebab utamanya adalah Faktor Antropogenik (aktivitas manusia) seperti alih fungsi lahan menjadi perkebunan dan infrastruktur, yang memperparah dampak perubahan iklim.
Dampak Nyata: Dari Ekologi ke Bencana Sosial
Krisis ini tidak hanya merugikan alam, tetapi juga manusia. Hilangnya fungsi ekologis hutan Sumatera terbukti meningkatkan frekuensi bencana alam. Sebagai contoh, banjir besar dan tanah longsor pada November 2025 di beberapa provinsi di Sumatera merupakan konsekuensi langsung dari rusaknya tutupan lahan yang tidak lagi mampu menyerap air dan menahan struktur tanah.
“Faktor antropogenik memiliki kontribusi signifikan dalam memperkuat dampak perubahan iklim terhadap ekosistem Indonesia secara keseluruhan.” — Prof. Syartinilia.
sumber:
https://www.ekuatorial.com/2025/12/sumatera-di-ujung-krisis-biodiversitas-tertinggi-di-indonesia/
Temukan peta dengan kualitas terbaik untuk gambar peta indonesia lengkap dengan provinsi.




