Transisi Energi Ambisius Bisa Turunkan Biaya Energi ASEAN hingga 45 Persen pada 2050

Transisi energi yang lebih cepat dan ambisius berpotensi memberikan manfaat ekonomi besar bagi kawasan Asia Tenggara. Pemodelan Institute for Essential Services Reform (IESR) menunjukkan bahwa pada 2050, biaya energi ASEAN dalam skenario kebijakan paling ambisius dapat turun menjadi sekitar USD 65,4 per MWh.
Angka tersebut sekitar 45 persen lebih rendah dibandingkan skenario kebijakan saat ini yang diperkirakan mencapai USD 119,1 per MWh. Temuan ini menunjukkan bahwa percepatan pengembangan energi terbarukan tidak hanya penting untuk menekan emisi, tetapi juga dapat meningkatkan keterjangkauan energi dalam jangka panjang.
IESR menilai ketergantungan tinggi terhadap bahan bakar fosil membuat negara-negara ASEAN rentan terhadap gejolak harga dan pasokan energi akibat konflik geopolitik. Karena itu, energi terbarukan perlu dikombinasikan dengan sistem penyimpanan energi, jaringan listrik yang lebih fleksibel, dan perdagangan listrik lintas negara.
Salah satu komponen penting dalam transformasi tersebut adalah ASEAN Power Grid. Interkoneksi listrik yang lebih kuat antarnegara dapat membantu kawasan mendiversifikasi sumber energi, memanfaatkan potensi energi terbarukan di berbagai wilayah, serta meningkatkan perdagangan listrik regional.
Dalam skenario paling ambisius, IESR memodelkan ASEAN dapat mencapai sistem energi 100 persen terbarukan pada 2050. Tenaga surya diperkirakan menjadi salah satu sumber utama pembangkitan listrik.
Elektrifikasi yang semakin luas juga diperkirakan meningkatkan efisiensi sistem energi. Kebutuhan energi primer ASEAN pada 2050 dalam skenario paling ambisius dapat ditekan menjadi sekitar 16.000 TWh per tahun, dibandingkan sekitar 18.000–20.000 TWh pada skenario transisi yang lebih lambat.
Untuk mencapai kondisi tersebut, negara-negara ASEAN perlu mempercepat pembangunan PLTS melalui berbagai mekanisme seperti lelang dan insentif. Pembangunan baterai penyimpanan energi serta modernisasi jaringan listrik juga harus berjalan beriringan.
Selain menjadi konsumen teknologi energi bersih, Asia Tenggara memiliki peluang untuk membangun industri teknologi energi terbarukan sendiri. Kawasan ini memiliki sumber daya mineral penting seperti nikel, tembaga, dan mangan, serta basis manufaktur yang dapat dikembangkan lebih jauh.
Namun, tantangannya adalah memastikan negara-negara ASEAN tidak hanya mengekspor bahan mentah atau produk awal lalu mengimpor kembali produk jadi bernilai tinggi. Kemampuan memproduksi sel baterai, merakit paket baterai, membangun sistem penyimpanan, serta mengembangkan industri komponen perlu diperkuat.
Kerja sama regional juga dapat dilakukan melalui spesialisasi industri. Setiap negara tidak harus menguasai seluruh rantai produksi, tetapi dapat mengembangkan sektor sesuai kekuatan masing-masing dan kemudian membangun jaringan produksi lintas negara.
Hal lain yang perlu dipersiapkan sejak awal adalah pengelolaan limbah teknologi energi bersih. Pertumbuhan baterai, panel surya, dan perangkat energi lainnya harus diikuti dengan sistem daur ulang dan pengelolaan akhir yang baik agar transisi energi tidak menciptakan persoalan lingkungan baru.
Sementara itu, pembangunan pembangkit fosil baru dinilai berisiko mengunci investasi untuk beberapa dekade mendatang. Semakin lambat transisi dilakukan, semakin besar pula risiko aset terdampar dan menurunnya daya saing industri ASEAN.
Transisi energi yang lebih ambisius bukan sekadar agenda lingkungan. Jika dirancang dengan baik, langkah tersebut berpotensi menghadirkan energi yang lebih murah, meningkatkan ketahanan energi, memperkuat industri teknologi bersih, dan mengurangi ketergantungan ASEAN terhadap gejolak pasar bahan bakar fosil.
Sumber: Institute for Essential Services Reform (IESR)
https://iesr.or.id/skenario-transisi-energi-ambisius-berpotensi-tekan-biaya-energi-asean-pada-2050/




