Dari Mana Api Karhutla Kalimantan Berasal? Panas Matahari Bukan Korek Api, Manusia Memegang Peran Terbesar

Ketika ratusan titik api muncul di Kalimantan pada musim kemarau, penjelasan yang paling mudah biasanya adalah cuaca: musim terlalu panas, hujan tidak turun selama berminggu-minggu, vegetasi mengering, kemudian hutan terbakar. Namun penjelasan tersebut hanya menceritakan sebagian dari proses terjadinya kebakaran. Kemarau memang dapat menciptakan kondisi yang sangat mudah terbakar, tetapi udara panas bukanlah korek api. Untuk memahami asal-usul karhutla Kalimantan, kita harus membedakan dengan jelas antara sesuatu yang membuat hutan mudah terbakar dan sesuatu yang benar-benar menyalakan api.
Perbedaan tersebut sangat penting karena menentukan bagaimana kebakaran harus dicegah. Jika kita menganggap panas matahari sebagai penyebab utama, karhutla akan terlihat seperti bencana alam yang hampir tidak dapat dihindari. Sebaliknya, apabila sebagian besar sumber penyalaannya berasal dari aktivitas manusia, maka sebagian besar risikonya sebenarnya dapat dikurangi melalui perubahan perilaku, pengelolaan lahan, pengawasan dan penegakan hukum.
Pemerintah Indonesia selama bertahun-tahun menyatakan bahwa sekitar 99% kebakaran hutan dan lahan berkaitan dengan aktivitas manusia, baik berupa pembukaan lahan dengan api, aktivitas ekonomi, kelalaian maupun konflik penguasaan lahan.
Angka tersebut membawa satu pesan penting: ketika Kalimantan terbakar, pertanyaan pertama seharusnya bukan hanya “seberapa panas cuacanya?”, melainkan juga “dari mana sumber apinya?”
Untuk Terjadi Kebakaran, Harus Ada Tiga Unsur
Secara sederhana, api membutuhkan tiga unsur yang sering disebut sebagai segitiga api: bahan bakar, oksigen dan sumber panas atau penyalaan.
Di hutan dan lahan, bahan bakarnya tersedia dalam bentuk daun kering, ranting, rumput, semak, kayu mati dan berbagai material organik lainnya. Pada lahan gambut, bahan bakarnya bahkan dapat berada jauh di bawah permukaan karena tanahnya sendiri tersusun dari material organik yang terakumulasi selama waktu sangat panjang.
Oksigen tersedia secara alami di atmosfer.
Yang kemudian menjadi pertanyaan adalah unsur ketiga: apa yang memberikan energi awal sehingga material tersebut mulai terbakar?
Di sinilah perbedaan antara musim kemarau dan sumber api harus dipahami.
Kemarau mengurangi kandungan air pada vegetasi dan tanah. Daun, rumput dan ranting yang sebelumnya lembap berubah menjadi bahan bakar kering. Angin dapat mempercepat pengeringan sekaligus membantu penyebaran api apabila kebakaran sudah terjadi.
Tetapi kondisi kering tersebut pada umumnya tetap membutuhkan sumber penyalaan.
Panas Matahari Membuat Daun Kering, Bukan Otomatis Membakarnya
Pada siang hari yang sangat panas, permukaan tanah dan vegetasi memang dapat mengalami peningkatan suhu. Daun kering terasa panas ketika disentuh dan tanah terbuka dapat menjadi sangat kering.
Namun suhu udara yang biasa terjadi pada musim kemarau tropis masih sangat berbeda dengan kondisi yang dibutuhkan untuk membuat material tumbuhan mengalami penyalaan dengan sendirinya.
Inilah mengapa tumpukan daun kering di halaman rumah tidak otomatis terbakar setiap kali suhu udara mencapai puncaknya pada siang hari.
Yang dilakukan cuaca panas adalah menghilangkan kelembapan.
Semakin sedikit air yang tersimpan dalam vegetasi, semakin sedikit energi yang dibutuhkan api untuk mulai membakar material tersebut. Akibatnya, sumber penyalaan yang relatif kecil dapat menjadi jauh lebih berbahaya.
Puntung rokok yang masih menyala, pembakaran sampah, api untuk membuka lahan, pembakaran kebun yang tidak terkendali atau berbagai aktivitas manusia lainnya dapat menjadi awal kebakaran apabila bertemu dengan bahan bakar yang sangat kering.
Jadi matahari bukan korek apinya.
Matahari dan kemarau menyiapkan bahan bakarnya.
Lalu Apakah Hutan Bisa Terbakar Secara Alami?
Bisa. Karena itu, kita juga tidak tepat apabila mengatakan bahwa kebakaran hutan secara alami sama sekali tidak mungkin terjadi.
Petir merupakan salah satu sumber penyalaan alami yang telah dikenal dalam berbagai ekosistem dunia. Rekonstruksi sejarah kebakaran di hutan tropis Kalimantan juga menunjukkan bahwa api telah muncul jauh sebelum periode modern.
Namun frekuensi dan karakter kebakaran yang terjadi dalam lanskap Kalimantan saat ini telah berubah sangat besar akibat aktivitas manusia.
Hutan rawa gambut alami yang tetap basah mempunyai ketahanan yang jauh berbeda dibandingkan gambut yang telah dikeringkan, ditebang, dipotong kanal dan mengalami kebakaran berulang.
Karena itu, pertanyaan pentingnya bukan apakah api alami pernah ada di Kalimantan.
Pertanyaannya adalah mengapa kebakaran sekarang dapat terjadi begitu sering, meluas begitu besar dan berulang pada bentang alam tertentu.
Manusia Tidak Hanya Menyalakan Api, Manusia Juga Mengubah Lanskap
Di sinilah persoalan karhutla menjadi jauh lebih kompleks.
Pengaruh manusia terhadap kebakaran tidak hanya terjadi ketika seseorang memegang korek api.
Manusia juga dapat mengubah kondisi bentang alam sehingga api menjadi jauh lebih mudah menyebar.
Hutan dapat ditebang.
Kanopi terbuka.
Vegetasi bawah menjadi lebih kering.
Jalan dibangun.
Kanal digali.
Gambut kehilangan air.
Lahan dikonversi.
Kemudian datang musim kemarau.
Ketika sumber api muncul pada bentang alam seperti itu, perilakunya dapat sangat berbeda dibandingkan apabila sumber api yang sama muncul di hutan rawa gambut yang masih utuh dan basah.
Karena itulah istilah “akibat aktivitas manusia secara langsung maupun tidak langsung” menjadi relevan.
Pengaruh langsung dapat berupa tindakan menyalakan api.
Pengaruh tidak langsung dapat berupa perubahan kondisi ekologis yang membuat lanskap jauh lebih rentan terhadap kebakaran.
Gambut Kalimantan pada Kondisi Alami Justru Sangat Basah
Untuk memahami karhutla Kalimantan, kita perlu memahami gambut.
Gambut terbentuk dari sisa tumbuhan yang terakumulasi dalam kondisi jenuh air selama ratusan hingga ribuan tahun. Dalam kondisi alami, permukaan air tanah relatif tinggi sehingga sebagian besar material organiknya berada dalam keadaan basah.
Bayangkan spons raksasa yang menyimpan air.
Selama spons tersebut tetap basah, membakarnya tentu jauh lebih sulit.
Persoalan muncul ketika air dikeluarkan.
Untuk berbagai kepentingan penggunaan lahan, kanal drainase dapat dibuat agar muka air turun. Ketika proses tersebut berlangsung terus-menerus, lapisan gambut yang sebelumnya jenuh air mulai mengering.
Spons yang basah perlahan berubah menjadi bahan bakar organik.
Pada musim kemarau panjang, kondisi tersebut menjadi semakin berbahaya.
Luka Besar dari Perubahan Lanskap Kalimantan Tengah
Sejarah karhutla Kalimantan tidak dapat dilepaskan dari perubahan besar terhadap bentang alam gambut selama beberapa dekade terakhir.
Salah satu contoh paling penting terjadi di Kalimantan Tengah ketika kawasan rawa gambut yang sangat luas dibuka dan dikeringkan untuk proyek pengembangan pertanian skala besar pada pertengahan 1990-an.
Jaringan kanal dibangun melintasi kawasan gambut untuk mengatur dan membuang air. Namun intervensi tersebut mengubah sistem hidrologi alami kawasan secara drastis.
Ketika El Niño kuat terjadi pada 1997, musim kering menjadi sangat panjang. Gambut yang telah mengalami drainase kehilangan semakin banyak air dan kebakaran besar kemudian terjadi.
Peristiwa tersebut menjadi salah satu titik penting dalam sejarah kebakaran gambut Indonesia.
Proyek pertanian tersebut akhirnya dihentikan, tetapi kanal, lahan terdegradasi dan perubahan hidrologi yang telah tercipta tidak otomatis menghilang.
Warisan ekologisnya bertahan jauh lebih lama daripada proyeknya.
Sekali Gambut Rusak, Kebakaran Berikutnya Menjadi Lebih Mudah
Di sinilah muncul lingkaran yang sangat berbahaya.
Hutan gambut dibuka dan dikeringkan.
Kemudian terbakar.
Pohon mati dan tutupan kanopi semakin berkurang.
Sinar matahari semakin mudah mencapai permukaan.
Vegetasi baru berupa semak dan rumput tumbuh.
Lahan menjadi semakin terbuka dan kering.
Kemudian musim kemarau berikutnya datang.
Ketika api kembali muncul, kawasan tersebut dapat terbakar lagi.
Kebakaran kedua kemudian membuat kondisi semakin buruk, sehingga kebakaran berikutnya menjadi semakin mudah terjadi.
Akibatnya, sebuah ekosistem yang sebelumnya berupa hutan rawa gambut basah dapat berubah menjadi lanskap semak terbuka yang mengalami kebakaran berulang.
Karena itu, sebagian kawasan yang terbakar hari ini sebenarnya membawa sejarah kerusakan yang telah berlangsung selama puluhan tahun.
Mengapa El Niño Selalu Disebut Ketika Karhutla Besar Terjadi?
El Niño sering muncul dalam pembahasan kebakaran besar Indonesia karena fenomena tersebut dapat mengurangi curah hujan dan memperpanjang kondisi kering di berbagai wilayah.
Namun El Niño juga harus ditempatkan pada posisi yang tepat.
El Niño bukan orang yang menyalakan api.
Fenomena tersebut memperbesar kondisi kekeringan.
Jika gambut tetap basah dan tidak ada sumber penyalaan, kekeringan tidak otomatis menghasilkan kebakaran.
Sebaliknya, apabila gambut telah dikeringkan, vegetasi telah sangat kering dan kemudian muncul sumber api, El Niño dapat menciptakan kondisi ideal bagi kebakaran untuk berkembang menjadi bencana besar.
Dengan demikian, hubungan tersebut dapat digambarkan sederhana:
aktivitas manusia menyediakan banyak sumber penyalaan, perubahan lanskap meningkatkan kerentanan, sedangkan kemarau dan El Niño memperbesar peluang api menyebar.
Ketiganya dapat bertemu dalam satu musim kebakaran.
Api Kecil Bisa Menjadi Bencana Besar
Sumber awal karhutla tidak selalu berupa pembakaran hutan dalam skala besar.
Api dapat bermula sangat kecil.
Seseorang membakar tumpukan vegetasi.
Petani membersihkan lahan dengan api.
Sampah dibakar.
Api unggun tidak dipadamkan sempurna.
Puntung rokok dibuang ketika masih mempunyai bara.
Atau pembakaran yang awalnya dianggap terkendali kemudian diterpa angin.
Dalam kondisi normal, api tersebut mungkin dapat dipadamkan dengan mudah. Namun ketika vegetasi sangat kering dan kelembapan rendah, api dapat merambat dari rumput menuju semak, dari semak menuju kawasan lain, kemudian masuk ke lapisan gambut.
Ketika sudah masuk ke gambut, persoalannya berubah total.
Kebakaran Gambut Tidak Sama dengan Kebakaran Hutan Biasa
Api pada vegetasi permukaan relatif mudah terlihat. Nyala api dan asap menunjukkan lokasi kebakaran sehingga petugas dapat mengarahkan pemadaman.
Gambut berbeda.
Api dapat membakar material organik di bawah permukaan secara perlahan. Dari atas, permukaan mungkin tampak tidak memiliki nyala besar, tetapi di bawahnya bara masih bergerak mengikuti lapisan gambut yang kering.
Karena itulah petugas sering harus memasukkan air dalam jumlah sangat besar hingga lapisan bawah benar-benar basah.
Kondisi ini juga menjelaskan mengapa kebakaran gambut menghasilkan asap yang sangat pekat dan dapat berlangsung lama.
Memadamkan nyala permukaan belum tentu berarti kebakaran selesai.
Mengapa Hujan Sangat Efektif?
Jika panas bukan sumber utama penyalaan, mengapa hujan begitu efektif menekan karhutla?
Karena air mengubah kondisi bahan bakarnya.
Daun dan rumput menjadi basah.
Kelembapan tanah meningkat.
Muka air gambut dapat naik.
Material organik kehilangan kondisi ideal untuk terbakar.
Inilah alasan pemerintah menggunakan Operasi Modifikasi Cuaca pada kondisi tertentu. Tujuannya bukan menghilangkan korek api dari tangan manusia, melainkan meningkatkan kelembapan lanskap sehingga sumber api menjadi lebih sulit berkembang menjadi kebakaran besar.
Namun pendekatan tersebut tetap bersifat pengendalian risiko.
Solusi jangka panjangnya adalah memastikan sumber api berkurang sekaligus menjaga ekosistem tidak berada dalam kondisi sangat mudah terbakar.
Jika 99% Berkaitan dengan Manusia, Pencegahan Sebenarnya Sangat Mungkin
Angka 99% terdengar buruk, tetapi sebenarnya mengandung satu kabar penting.
Jika kebakaran sepenuhnya merupakan fenomena alam yang tidak dapat dikendalikan, manusia hanya dapat mempersiapkan diri menghadapi bencana.
Namun apabila sebagian besar kebakaran berkaitan dengan aktivitas manusia, terdapat ruang yang sangat besar untuk melakukan pencegahan.
Pembukaan lahan tanpa bakar dapat diperluas.
Patroli dapat dilakukan sebelum musim kemarau mencapai puncak.
Hotspot dapat dipantau melalui satelit.
Kondisi muka air gambut dapat dipantau.
Kanal dapat diblokir atau dikelola untuk mempertahankan kelembapan gambut.
Perusahaan dapat diwajibkan mempunyai sistem pencegahan dan pemadaman yang memadai.
Masyarakat dapat diberikan teknologi dan dukungan agar tidak bergantung pada api untuk membersihkan lahan.
Penegakan hukum dapat diarahkan kepada pembakaran yang disengaja maupun kelalaian yang terbukti.
Dengan kata lain, 99% bukan hanya angka mengenai penyebab kebakaran. Angka tersebut juga menunjukkan besarnya peluang manusia untuk mencegahnya.
Tetapi Jangan Sederhanakan 99% Menjadi “99% Sengaja Dibakar”
Ini juga sangat penting.
Jika disebut 99% karhutla berkaitan dengan aktivitas manusia, bukan berarti 99% kebakaran merupakan tindakan pembakaran hutan yang disengaja untuk kepentingan tertentu.
Aktivitas manusia mempunyai banyak bentuk.
Ada pembakaran yang memang disengaja.
Ada pembakaran lahan yang kemudian lepas kendali.
Ada kelalaian.
Ada aktivitas ekonomi.
Ada konflik penguasaan lahan.
Ada api kecil yang tidak segera dipadamkan.
Ada pula perubahan bentang alam yang membuat suatu kawasan menjadi jauh lebih rentan ketika sumber api muncul.
Karena itu, penyebab setiap kebakaran tetap harus diperiksa berdasarkan fakta di lapangan.
Angka nasional tidak boleh digunakan untuk langsung menuduh seseorang atau perusahaan tertentu sebagai pembakar.
Hotspot Juga Bukan Berarti Pasti Ada Pembakaran
Hal yang sama berlaku terhadap data satelit.
Hotspot merupakan indikasi anomali panas yang terdeteksi sensor satelit. Data tersebut sangat penting untuk menemukan lokasi yang perlu diperiksa, tetapi hotspot bukan putusan hukum dan bukan bukti tunggal mengenai siapa yang menyalakan api.
Petugas masih perlu melakukan verifikasi lapangan.
Di mana titik awal api?
Bagaimana pola penjalarannya?
Siapa yang menguasai atau mengelola lahan?
Aktivitas apa yang berlangsung sebelum kebakaran?
Apakah terdapat saksi?
Apakah ditemukan alat atau material yang berkaitan dengan pembakaran?
Bagaimana riwayat hotspot di lokasi tersebut?
Data satelit memberi tahu kita di mana harus melihat.
Investigasi menentukan apa yang sebenarnya terjadi.
Mengapa Kalimantan Terus Mengalami Kebakaran?
Jawabannya tidak sesederhana “karena cuaca panas”.
Kalimantan mengalami kombinasi faktor yang saling memperkuat.
Ada musim kemarau dan variabilitas iklim.
Ada El Niño pada tahun-tahun tertentu.
Ada hutan yang telah mengalami degradasi.
Ada lahan gambut yang mengalami drainase.
Ada kanal yang mengubah hidrologi.
Ada aktivitas pembukaan lahan.
Ada penggunaan api.
Ada konflik penguasaan lahan.
Ada perkebunan, pertanian, pertambangan dan berbagai aktivitas ekonomi yang mengubah bentang alam.
Ada pula kawasan bekas kebakaran yang menjadi semakin rentan terhadap kebakaran berikutnya.
Karhutla yang kita lihat hari ini karena itu dapat merupakan hasil dari keputusan penggunaan lahan yang dibuat bertahun-tahun atau bahkan puluhan tahun sebelumnya.
Pencegahan Harus Dimulai Jauh Sebelum Asap Terlihat
Salah satu kelemahan terbesar dalam penanganan karhutla adalah kecenderungan untuk bergerak ketika api sudah terlihat.
Padahal pada saat asap memenuhi udara, sebagian besar pekerjaan pencegahan sebenarnya sudah terlambat.
Pencegahan harus dimulai ketika musim masih basah.
Muka air gambut dipertahankan.
Sekat kanal diperiksa.
Embung dan sumber air dipastikan tersedia.
Peralatan pemadaman diperiksa.
Masyarakat dipersiapkan.
Pemegang izin diperiksa kesiapannya.
Daerah dengan riwayat kebakaran berulang dipetakan.
Ketika prakiraan menunjukkan kemarau panjang atau El Niño, pengawasan ditingkatkan sebelum jumlah hotspot melonjak.
Pendekatan tersebut jauh lebih murah dibandingkan menunggu kebakaran membesar kemudian mengerahkan ribuan personel, helikopter, water bombing dan operasi modifikasi cuaca.
Jangan Salahkan Matahari atas Apa yang Bisa Dicegah Manusia
Musim kemarau adalah bagian alami dari iklim Indonesia.
El Niño juga merupakan fenomena alam.
Daun mengering ketika tidak mendapatkan hujan.
Namun semua itu tidak berarti hutan harus terbakar setiap kali musim kemarau datang.
Perbedaan tersebut sangat penting.
Cuaca menentukan seberapa mudah sebuah lanskap terbakar. Sumber penyalaan menentukan apakah kebakaran benar-benar dimulai. Kondisi pengelolaan lahan menentukan seberapa besar api kemudian berkembang.
Jika gambut tetap basah, risiko berkurang.
Jika tidak ada sumber api, kebakaran tidak dimulai.
Jika api kecil segera ditemukan dan dipadamkan, kebakaran tidak berkembang menjadi bencana.
Jika lahan yang telah rusak direstorasi, kerentanannya dapat dikurangi.
Karena itu, karhutla bukan semata-mata persoalan meteorologi. Ia juga merupakan persoalan tata kelola lahan dan perilaku manusia.
Dari Mana Api Kalimantan Berasal?
Tidak ada satu jawaban yang dapat menjelaskan seluruh kebakaran di pulau yang sangat luas ini. Sumber penyalaan pada setiap kejadian harus dibuktikan melalui pemeriksaan.
Namun pengetahuan yang tersedia memberikan gambaran yang cukup jelas.
Kebakaran besar di Kalimantan bukan sekadar akibat suhu udara tropis yang tiba-tiba menjadi begitu panas sehingga hutan menyala dengan sendirinya. Sebagian besar kejadian berkaitan dengan aktivitas manusia, sementara kemarau, El Niño, degradasi hutan dan pengeringan gambut menciptakan kondisi yang membuat sumber api kecil dapat berkembang menjadi kebakaran besar.
Dalam beberapa dekade terakhir manusia bahkan tidak hanya memperbanyak sumber penyalaan. Kita juga telah mengubah sebagian lanskap sehingga menjadi lebih mudah terbakar.
Di sinilah akar persoalannya.
Jika kita hanya menyalahkan kemarau, setiap musim kering akan dianggap sebagai ancaman yang tidak dapat dihindari.
Jika kita memahami bahwa manusia mempunyai peran dominan, pertanyaannya berubah dari “kapan hujan akan turun?” menjadi “apa yang dapat kita lakukan sebelum api muncul?”
Dan perubahan pertanyaan tersebut sangat penting.
Sebab hujan memang dapat membantu memadamkan kebakaran, tetapi hujan tidak dapat memperbaiki tata kelola lahan.
Helikopter dapat menjatuhkan ribuan liter air, tetapi tidak dapat menghapus penyebab sosial dan ekonomi penggunaan api.
Teknologi satelit dapat menunjukkan hotspot, tetapi tidak dapat menggantikan pengawasan di lapangan.
Sementara restorasi gambut dapat mengembalikan air ke dalam lanskap, tetapi keberhasilannya tetap membutuhkan komitmen agar kawasan tersebut tidak kembali dikeringkan dan dibakar.
Karena itu, pelajaran terbesar dari sejarah karhutla Kalimantan sebenarnya sederhana:
matahari dapat mengeringkan hutan, kemarau dapat meningkatkan risiko, El Niño dapat memperparah keadaan, dan angin dapat menyebarkan api. Tetapi dalam sebagian besar kejadian karhutla Indonesia, aktivitas manusialah yang menyediakan mata rantai penting yang mengubah kondisi rawan tersebut menjadi kebakaran.
Jika manusia menjadi bagian terbesar dari masalahnya, maka manusia pula yang mempunyai peluang terbesar untuk menghentikan siklusnya.
Karhutla bukan sesuatu yang harus kita terima sebagai konsekuensi rutin setiap musim kemarau. Sebagian besar adalah risiko yang dapat dicegah—jauh sebelum hutan berubah menjadi abu dan langit Kalimantan kembali dipenuhi asap.




