Urgensi pemanfaatan kembali sampah makanan di Indonesia

Skenario Terbaik ITS Menekan Sampah Makanan Indonesia Hingga 74%
Penumpukan sampah makanan (food waste), khususnya buah dan sayur di kawasan perkotaan, merupakan masalah multidimensi yang menimbulkan kerugian ekonomi dan lingkungan serius di Indonesia. Menanggapi kondisi ini, Atikha Sidhi Cahyana dari Departemen Teknik Sistem dan Industri (DTSI) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) merancang skenario penanganan food waste yang terbukti paling optimal.
Riset ini menargetkan pengurangan produksi food waste di Indonesia hingga 74,36 persen.
Fokus dan Metodologi Riset
Penelitian Atikha berfokus pada dinamika food waste buah dan sayur di kawasan perkotaan. Cakupan observasi meliputi seluruh rantai pasok: distribusi dari pemasok, supermarket, rumah makan, hingga tingkat rumah tangga.
1. Identifikasi Faktor Pemicu (15 Faktor)
Melalui studi literatur dan survei mendalam terhadap 16 pakar, diidentifikasi 15 faktor utama yang memengaruhi munculnya food waste. Faktor paling umum yang teridentifikasi adalah kurangnya perencanaan dalam pengelolaan bahan makanan dan manajemen penyimpanan yang buruk.
2. Analisis Keterkaitan Faktor
Untuk memahami hubungan sebab-akibat dan pengaruh antar faktor, riset ini menggunakan dua metode analisis struktural yang kuat:
- Interpretive Structural Modelling (ISM): Untuk memetakan hubungan hierarkis antar faktor.
- Matrix of Cross-Impact Analysis (MICMAC): Untuk menganalisis daya dorong (driving power) dan daya ketergantungan (dependence power) antar faktor.
3. Temuan Kunci: Faktor Paling Berpengaruh
Hasil analisis ISM dan MICMAC menunjukkan bahwa faktor pengolahan makanan sisa atau yang sedikit rusak merupakan faktor yang paling berpengaruh dalam sistem food waste.
Jika sisa makanan diolah dengan baik (misalnya, menjadi produk sekunder atau dikelola untuk donasi), hal ini akan menimbulkan dampak positif signifikan pada tahapan berikutnya, seperti distribusi ulang makanan yang masih layak, dan sebaliknya.
Tiga Skenario Penanggulangan dan Hasil Simulasi
Setelah memetakan seluruh faktor pemicu dalam sistem dinamis, Atikha menyusun tiga skenario intervensi utama untuk wilayah perkotaan:
| Skenario | Fokus Intervensi Utama | Hasil Simulasi |
| Skenario 1 | Memperluas Akses Pasar | Efektivitas rendah |
| Skenario 2 | Mengatur Porsi Makan (di tingkat rumah makan/konsumen) | Efektivitas sedang |
| Skenario 3 | Meningkatkan Pengolahan Makanan Sisa melalui Penambahan Bank Makanan (Food Bank) | Paling Efektif |
Skenario Paling Optimal:
Simulasi menunjukkan bahwa Skenario 3 adalah yang paling efektif dan menghasilkan dampak positif yang dramatis:
- Mampu menurunkan produksi food waste hingga 74,36 persen.
- Mampu mengurangi penumpukan di food bank sebesar 39,44 persen.
Alasannya: Intervensi yang berfokus pada food bank memungkinkan sisa makanan yang masih layak dapat diolah kembali dan didistribusikan ulang kepada masyarakat yang membutuhkan secara optimal, menutup siklus rantai pasok.
Implikasi Kebijakan dan SDGs
Riset ini tidak hanya memiliki nilai akademik, tetapi juga menjadi acuan penting untuk pembuatan kebijakan di tingkat nasional dan daerah. Temuan ini secara langsung mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya:
- SDG 11: Kota dan Pemukiman Berkelanjutan.
- SDG 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab.
Atikha berharap hasil riset ini dapat diperluas aplikasinya ke area lain dengan dinamika rantai pasok yang berbeda, memberikan masukan konkret bagi pihak terkait dalam menekan produksi food waste secara berkelanjutan.
sumber:
https://www.ekuatorial.com/2025/07/urgensi-pemanfaatan-kembali-sampah-makanan-di-indonesia/
Temukan peta dengan kualitas terbaik untuk gambar peta indonesia lengkap dengan provinsi.




