Walhi, banjir Aceh bukan musibah tapi bencana ekologis akibat kerusakan hutan hingga sungai yang dibiarkan

WALHI: Banjir Besar Aceh adalah Bencana Ekologis, Bukan Musibah Alam Biasa
Banjir besar yang secara simultan melanda sedikitnya 10 kabupaten di Aceh bukan sekadar akibat dari curah hujan tinggi, melainkan bencana ekologis yang diakibatkan oleh kerusakan lingkungan struktural yang dibiarkan berlangsung bertahun-tahun. Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Aceh secara tegas menyatakan bahwa bencana berulang ini adalah akumulasi dari kegagalan tata kelola lingkungan hidup di tingkat hulu.
Gagal Fokus: Akumulasi Kerusakan di Hulu
Direktur WALHI Aceh, Ahmad Shalihin, menyoroti bahwa pemerintah cenderung fokus pada penanganan reaktif di hilir (seperti pembangunan tanggul), sementara akar permasalahan di hulu terus memburuk. Menurut Shalihin, penyebab utama banjir tahunan ini adalah:
- Deforestasi dan Pembalakan Liar: Hutan digunduli secara masif, menghilangkan fungsi penyerapan air.
- Ekspansi Perkebunan Skala Besar: Konversi lahan hutan untuk perkebunan sawit dan sektor industri lainnya.
- Aktivitas Pertambangan Merusak: Konsesi tambang dan khususnya Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) yang brutal di kawasan hulu.
“Ini bukan musibah alam. Ini bencana ekologis akibat buruknya tata kelola lingkungan hidup. Hutan digunduli, sungai dangkal, bukit dikeruk. Pemerintah masih sibuk membangun tanggul, bukan menghentikan akar bencananya.” – Ahmad Shalihin, Direktur WALHI Aceh.
Bukti Kerusakan Ekologis di DAS Kritis
Kerusakan ini terpusat pada Daerah Aliran Sungai (DAS) yang merupakan kunci ekosistem Aceh. WALHI mencatat kondisi kritis, terutama di DAS Krueng Peusangan yang berdampak parah pada wilayah Aceh Utara dan Bireuen.
| Mekanisme Kerusakan | Akibat Ekologis | Dampak Langsung |
| Deforestasi di Hulu | Hilangnya penyangga ekologis (akar dan vegetasi). | Curah hujan tinggi langsung menjadi aliran permukaan besar (run-off) yang membawa lumpur dan kayu. |
| Sedimentasi Ekstrem Sungai | Galian C dan material dari penebangan serta tambang menumpuk. | Daya tampung sungai menyusut dan runtuh, air mudah meluap (overtopping) ke pemukiman. |
| Brutalitas PETI | Tebing sungai digali dan bukit dibelah; air menjadi keruh karena limbah. | Kerusakan hulu tidak terkendali. WALHI menemukan 99% lokasi PETI berada di dalam kawasan DAS. |
Hilangnya fungsi hutan sebagai penyerap air membuat air hujan langsung mengalir cepat, sementara sedimentasi akibat aktivitas ilegal (seperti PETI) dan galian C membuat sungai-sungai utama dangkal. Kombinasi kedua faktor ini mengubah hujan deras menjadi bencana banjir bandang yang tak terhindarkan.
WALHI mendesak pemerintah untuk segera mengambil tindakan tegas menghentikan kegiatan perusakan lingkungan di hulu, alih-alih terus-menerus menyalahkan cuaca atau fokus pada penanganan pasca-bencana.
sumber:
https://www.instagram.com/p/DRmqVVbD7Ln/?igsh=MXNqMmc5ajI1cDRuOQ%3D%3D
Temukan peta dengan kualitas terbaik untuk gambar peta indonesia lengkap dengan provinsi.




