Artikel

5 Satwa endemik Kalimantan dengan status konservasi terancam punah

Satwa Endemik Borneo dalam Bahaya Kritis: 5 Ikon Kalimantan Berjuang Melawan Kepunahan

Pulau Kalimantan (Borneo), yang dikenal sebagai paru-paru dunia dan pulau terbesar ketiga di planet, adalah harta karun keanekaragaman hayati. Namun, di balik kerimbunan hutannya yang kian menyusut, puluhan spesies endemik yang hanya dapat ditemukan di pulau ini kini menghadapi ancaman kepunahan yang menyakitkan.

Mari kita selami status kritis lima ikon satwa Kalimantan yang memerlukan perhatian dan aksi konservasi segera.

I. Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus): Di Ambang Kepunahan

Orangutan Kalimantan memegang status Kritis (Critically Endangered) dari IUCN sejak tahun 2016, yang menandakan risiko kepunahan sangat tinggi di alam liar.

  • Penurunan Populasi: Populasi primata ini telah menurun lebih dari 50% sejak awal 1970-an, dari perkiraan lebih dari 200.000 individu.
  • Data Kunci PHVA 2016: Saat ini diperkirakan hanya tersisa 57.350 individu yang tersebar di 42 kantong populasi. Parahnya, hanya sekitar 18 kantong populasi yang diprediksi akan lestari dalam 100-500 tahun ke depan.
  • Ancaman Utama: Hilangnya habitat akibat penebangan hutan untuk pemukiman, perkebunan kayu, pembangunan jalan, kebakaran hutan, serta perdagangan dan perburuan liar.
  • Faktor Biologis: Jarak antar-kelahiran yang sangat lama, yaitu 6–8 tahun untuk setiap kelahiran satu bayi, membuat pemulihan populasi berjalan sangat lambat.

II. Bekantan (Nasalis larvatus): Si Hidung Panjang dalam Krisis

Bekantan, yang dijuluki ‘monyet Belanda’ dan merupakan maskot Provinsi Kalimantan Selatan, berstatus Terancam Punah (Endangered) oleh IUCN dan terdaftar dalam CITES Appendix I (dilarang perdagangan internasional). Primata ini juga berfungsi sebagai indikator kesehatan ekosistem hutan.

  • Ancaman Utama: Hilangnya habitat alami akibat penggundulan hutan, perburuan ilegal, dan dampak perubahan iklim.
  • Perlindungan Hukum: Dilindungi ketat oleh UU No. 5 Tahun 1990 dan PP No. 7 Tahun 1999. Pelanggaran dapat dikenakan hukuman penjara hingga lima tahun dan denda maksimal Rp 100 juta.
  • Upaya Konservasi: Di Kawasan Konservasi Mangrove dan Bekantan Tarakan, populasi tercatat mencapai 40 ekor pada tahun 2025 (bertambah 10 ekor dari sebelumnya). Namun, laju penambahan ini kurang signifikan karena kesulitan dalam upaya pelestarian, termasuk kelahiran bekantan jantan yang tidak berkelanjutan untuk menambah populasi.

III. Rangkong Gading (Rhinoplax vigil): Korban Keindahan Paruh

Dari 13 jenis Rangkong yang tersebar di Indonesia (dengan 8 jenis di Kalimantan), Rangkong Gading adalah satu-satunya yang berstatus Kritis (Critically Endangered) menurut Daftar Merah IUCN, satu tingkat sebelum punah di alam liar. Ia juga terdaftar dalam CITES Appendix I.

  • Ancaman Utama: Perburuan liar masif untuk diambil paruhnya (disebut balung) yang estetik dan bernilai jual sangat tinggi di pasar gelap, serta hilangnya habitat hutan.
  • Faktor Biologis: Reproduksi rangkong gading sangat lambat, membutuhkan waktu sekitar 150 hari untuk menghasilkan satu anak, menjadikannya rentan terhadap tekanan perburuan.

IV. Gajah Kalimantan (Elephas maximus borneensis): Subspesies Terkecil yang Terdesak

Gajah Kalimantan atau Gajah Borneo adalah subspesies gajah Asia terkecil, berstatus Terancam Punah (Endangered) dalam Daftar Merah IUCN.

  • Populasi yang Tersisa: Populasi terfragmentasi, berkisar 1.500–2.000 individu di Sabah, Malaysia, dan hanya sekitar 30–80 individu di Kalimantan Utara.
  • Ancaman: Hilangnya habitat, perburuan liar, dan konflik yang meningkat dengan manusia akibat perebutan lahan.
  • Aksi Konservasi: Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara dan WWF-Indonesia telah berkolaborasi dalam menyusun Strategi dan Rencana Aksi Konservasi Gajah Kalimantan (SRAK-GK) untuk periode 2018–2028, fokus pada survei, monitoring habitat, dan mitigasi konflik.

V. Pesut Mahakam (Orcaella brevirostris): Mamalia Air Tawar Kritis

Pesut Mahakam adalah salah satu mamalia air tawar paling terancam punah di dunia, diklasifikasikan sebagai Kritis (Critically Endangered) oleh IUCN.

  • Populasi Tragis: Berdasarkan pemantauan terbaru, populasi di habitat alaminya di Sungai Mahakam diperkirakan hanya tersisa 62 ekor.
  • Ancaman Antropogenik: Aktivitas manusia menjadi penyebab utama penurunan populasi, meliputi:
    • Terjerat jaring insang nelayan.
    • Tabrakan dengan kapal, terutama kapal tongkang.
    • Pencemaran air dan polusi suara.
  • Faktor Biologis: Laju reproduksi sangat rendah. Pesut betina hanya bisa melahirkan satu anak setiap 2–3 tahun setelah masa kehamilan 14 bulan. Setiap kematian individu sangat sulit digantikan.

Ancaman Global dan Solusi Konservasi

Keanekaragaman hayati Kalimantan tertekan oleh serangkaian ancaman global, termasuk deforestasi, degradasi habitat, eksploitasi berlebihan, polusi, perubahan iklim, dan invasi spesies non-asli.

Upaya Konservasi Mendesak:

  • Kerja Sama Internasional: Melibatkan pemerintah dan kelompok konservasi global (seperti Dana Kemitraan Ekosistem Kritis) untuk mendukung inisiatif lokal.
  • Perlindungan Habitat: Memperkuat dan memperluas kawasan lindung serta menciptakan koridor konservasi untuk menghubungkan habitat yang terfragmentasi.
  • Mengatasi Deforestasi: Menerapkan strategi politik, ilmiah, dan pengelolaan yang kuat untuk memperlambat kerusakan hutan tropis.

Upaya kolektif ini bertujuan mewujudkan kehidupan harmonis antara manusia dan satwa liar, menjadikan kelestarian ekologis sebagai fondasi bagi pembangunan berkelanjutan di Pulau Kalimantan.

sumber:

https://www.idntimes.com/science/discovery/5-satwa-endemik-kalimantan-dengan-status-konservasi-terancam-punah-c1c2-01-r4qhd-7n641s

Temukan peta dengan kualitas terbaik untuk gambar peta indonesia lengkap dengan provinsi.

Konten Terkait

Back to top button
Data Sydney
Erek erek
Batavia SDK
BUMD ENERGI JAKARTA
JAKPRO