Berita

560 Juta Anak Dunia Terpapar Panas Ekstrem Tambahan Akibat Perubahan Iklim

Perubahan iklim bukan lagi ancaman masa depan. Dampaknya sudah dirasakan hari ini, dan anak-anak menjadi salah satu kelompok yang menanggung beban paling besar.

Penelitian terbaru dari Vrije Universiteit Brussel (VUB) menunjukkan bahwa sekitar 560 juta anak di dunia kini mengalami tambahan sedikitnya satu bulan cuaca panas berbahaya setiap tahun akibat perubahan iklim yang disebabkan oleh aktivitas manusia.

Tingkat paparan tersebut jauh lebih tinggi dibanding kelompok usia lainnya.

Sebagai perbandingan, sekitar 190 juta orang berusia 60–69 tahun, atau sekitar 30 persen kelompok usia tersebut, mengalami ancaman kesehatan tambahan akibat panas ekstrem.

Temuan ini menunjukkan bahwa dampak perubahan iklim tidak terbagi secara merata antar generasi.

Anak-anak Menanggung Beban Lebih Besar

Penelitian ini disebut sebagai analisis global pertama yang mengukur dampak panas ekstrem akibat perubahan iklim terhadap berbagai kelompok usia, baik pada kondisi saat ini maupun dalam skenario pemanasan di masa depan.

Para peneliti menggabungkan data populasi dengan model iklim untuk memperkirakan bagaimana pemanasan global mengubah tingkat paparan manusia terhadap cuaca panas dan lembap yang berbahaya.

Hasilnya menunjukkan bahwa anak usia 0–9 tahun menjadi salah satu kelompok yang paling rentan.

Bukan hanya karena jumlah anak yang tinggal di wilayah tropis cukup besar, tetapi juga karena secara fisiologis tubuh anak belum mampu menghadapi tekanan panas sebaik orang dewasa.

Jika Bumi Menghangat 1,5 Derajat Celsius

Risiko tersebut diperkirakan akan semakin meningkat jika suhu global terus naik.

Dalam skenario pemanasan 1,5 derajat Celsius, sekitar 620 juta anak usia 0–9 tahun, atau 49 persen dari kelompok usia tersebut, diperkirakan akan mengalami tambahan setidaknya satu bulan cuaca panas ekstrem setiap tahun.

Lebih mengkhawatirkan lagi, sekitar 390 juta anak atau 31 persen diperkirakan akan menghadapi total hingga lima bulan panas ekstrem dalam setahun.

Artinya, bagi ratusan juta anak, kondisi panas yang membahayakan kesehatan dapat berubah dari kejadian sesekali menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Jika Suhu Naik 2 Derajat Celsius

Pada skenario pemanasan global 2 derajat Celsius, dampaknya menjadi semakin besar.

Diperkirakan sekitar 650 juta anak, atau 59 persen anak usia 0–9 tahun, akan mengalami tambahan setidaknya satu bulan panas ekstrem setiap tahunnya.

Sementara sekitar 420 juta anak atau 37 persen berpotensi menghadapi total lima bulan cuaca panas ekstrem.

Angka tersebut menunjukkan bahwa perbedaan beberapa persepuluh derajat dalam kenaikan suhu global dapat berarti ratusan juta anak mengalami paparan panas yang jauh lebih besar.

Asia Selatan, Asia Tenggara, dan Afrika Barat Paling Rentan

Dampak panas ekstrem tidak tersebar merata di seluruh dunia.

Peningkatan panas lembap paling besar diperkirakan terjadi di wilayah tropis dan negara-negara berpenghasilan rendah.

Wilayah tersebut juga memiliki struktur populasi yang relatif muda sehingga lebih banyak anak terpapar risiko.

Asia Selatan, Asia Tenggara, dan Afrika Barat menjadi kawasan dengan jumlah anak paling banyak yang menghadapi ancaman panas berbahaya saat ini.

Kondisi ini memperlihatkan adanya ketimpangan iklim.

Banyak anak yang paling terdampak tinggal di negara-negara yang kontribusi historisnya terhadap emisi global relatif lebih kecil dibanding negara industri besar.

Mengapa Panas Lembap Lebih Berbahaya?

Penelitian ini memberikan perhatian khusus pada kondisi panas lembap.

Tubuh manusia biasanya mendinginkan dirinya melalui keringat.

Ketika keringat menguap dari permukaan kulit, panas tubuh ikut dilepaskan.

Namun pada kondisi kelembapan tinggi, proses penguapan tersebut menjadi jauh kurang efektif.

Akibatnya, tubuh kesulitan menurunkan suhu internal.

Kombinasi antara suhu tinggi dan kelembapan tinggi dapat meningkatkan risiko stres panas secara cepat, bahkan pada suhu yang mungkin terlihat tidak terlalu ekstrem jika hanya dilihat dari angka temperatur.

Anak-anak Lebih Sulit Mengatur Suhu Tubuh

Anak memiliki karakteristik tubuh yang membuat mereka lebih rentan terhadap panas ekstrem.

Tubuh mereka dapat mengalami kenaikan suhu lebih cepat dibanding orang dewasa.

Kemampuan berkeringat juga belum berkembang seefektif orang dewasa.

Selain itu, anak-anak masih bergantung kepada orang tua atau pengasuh untuk mendapatkan air, mencari tempat teduh, mengurangi aktivitas, atau mengenali tanda-tanda tubuh mulai mengalami stres panas.

Dalam kondisi panas ekstrem, keterlambatan tindakan dapat meningkatkan risiko kesehatan.

Dari Dehidrasi hingga Kerusakan Organ

Panas yang berlebihan dapat mengganggu sistem pengaturan suhu tubuh manusia.

Dampaknya dapat berupa kelelahan, dehidrasi, pusing, hingga kondisi serius seperti heat stroke.

Dalam kondisi ekstrem, panas berlebihan juga dapat memengaruhi fungsi organ tubuh.

Risiko tersebut menjadi semakin tinggi bagi anak yang memiliki kondisi kesehatan tertentu, tinggal di rumah tanpa ventilasi memadai, atau memiliki akses terbatas terhadap air bersih dan layanan kesehatan.

Karena itu, panas ekstrem bukan hanya persoalan ketidaknyamanan.

Ia adalah persoalan kesehatan publik.

Panas Juga Mengganggu Pendidikan

Dampak perubahan iklim terhadap anak tidak berhenti pada kesehatan fisik.

Suhu yang terlalu tinggi dapat mengganggu konsentrasi dan kemampuan belajar.

Sekolah yang tidak memiliki ventilasi atau pendinginan memadai dapat menjadi sangat panas, terutama di kawasan tropis.

Dalam kondisi ekstrem, kegiatan belajar bahkan dapat dihentikan untuk melindungi kesehatan siswa.

Jika kejadian semacam ini semakin sering berlangsung, dampaknya dapat merembet pada kualitas pendidikan dan perkembangan anak dalam jangka panjang.

Perubahan Iklim Membuat Gelombang Panas Semakin Sering

Penelitian tersebut menegaskan bahwa panas ekstrem semakin sering dan intens akibat perubahan iklim.

Peningkatan suhu global terutama berkaitan dengan emisi gas rumah kaca dari pembakaran bahan bakar fosil seperti batubara, minyak, dan gas.

Ketika konsentrasi gas rumah kaca meningkat, semakin banyak panas terperangkap di atmosfer.

Akibatnya, suhu rata-rata global naik dan peluang terjadinya gelombang panas yang ekstrem juga meningkat.

Setiap Pecahan Derajat Sangat Berarti

Perbedaan antara pemanasan 1,5 derajat Celsius dan 2 derajat Celsius mungkin terlihat kecil.

Namun bagi ratusan juta anak, perbedaannya sangat besar.

Semakin tinggi suhu global, semakin banyak anak yang mengalami panas berbahaya dan semakin panjang durasi paparannya.

Karena itu, upaya membatasi kenaikan suhu dunia memiliki dampak langsung terhadap kesehatan generasi berikutnya.

Setiap pengurangan emisi hari ini dapat membantu mengurangi jumlah hari panas ekstrem yang harus mereka hadapi di masa depan.

Krisis Iklim adalah Krisis Generasi

Temuan ini memperlihatkan bahwa perubahan iklim bukan hanya persoalan lingkungan.

Ini juga merupakan persoalan keadilan antargenerasi.

Anak-anak yang hidup hari ini tidak menciptakan sebagian besar emisi historis yang menyebabkan pemanasan global.

Namun mereka justru menjadi kelompok yang harus menghadapi dampaknya paling lama.

Mereka akan hidup dalam dunia yang lebih panas, menghadapi lebih banyak gelombang panas, serta menanggung berbagai konsekuensi kesehatan dan sosial yang menyertainya.

Karena itu, kebijakan iklim hari ini sesungguhnya merupakan keputusan mengenai kondisi kehidupan generasi mendatang.

Ketika 560 juta anak sudah mengalami tambahan panas ekstrem akibat perubahan iklim, krisis iklim bukan lagi peringatan untuk masa depan.

Ia sudah hadir di ruang bermain, sekolah, rumah, dan kehidupan anak-anak hari ini.

https://lestari.kompas.com/read/2026/08/27/210027686/dampak-perubahan-iklim-560-juta-anak-dunia-terpapar-panas-ekstrem-tambahan

Konten Terkait

Back to top button
Data Sydney
Erek erek
Batavia SDK
BUMD ENERGI JAKARTA
JAKPRO