IBSAP 2025-2045: Komitmen Indonesia Melindungi Keanekaragaman Hayati dari Dampak Perubahan Iklim

Indonesia kembali menunjukkan komitmennya dalam melindungi keanekaragaman hayati dari ancaman kepunahan yang dipicu oleh perubahan iklim global. Melalui Indonesian Biodiversity Strategy and Action Plan (IBSAP) untuk periode 2025-2045, pemerintah merancang kebijakan strategis yang berfokus pada pelestarian ekosistem, pengelolaan genetik dan spesies, sekaligus upaya mitigasi perubahan iklim.
Dalam webinar bertajuk “Keanekaragaman Hayati Dalam Perubahan Iklim” yang diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim (Ditjen PPI) Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), Kepala Sub-Direktorat Pengawetan Spesies dan Genetik KLH, Badi’ah, menegaskan pentingnya langkah terintegrasi dalam implementasi IBSAP. “Pendekatan yang terintegrasi dalam IBSAP kita tidak hanya berupaya memperlambat perubahan iklim tetapi juga melindungi hayati – sumber daya alam yang menjadi dasar keberlanjutan masa depan,” ungkapnya, Selasa (28/11).
Dokumen IBSAP: Fokus pada Keanekaragaman Hayati dan Mitigasi Iklim
Dokumen IBSAP 2025-2045 mencakup gagasan yang menempatkan konservasi sebagai salah satu elemen kunci dalam mitigasi perubahan iklim. Selain menurunkan emisi karbon, IBSAP juga mengoptimalkan pemanfaatan jasa lingkungan, seperti penyediaan air bersih, penyerapan karbon, dan perlindungan terhadap bencana alam.
Penerapan IBSAP semakin kuat dengan dukungan payung hukum melalui Undang-Undang (UU) Nomor 32 Tahun 2024. UU ini mengatur bahwa upaya konservasi harus mencakup tiga level utama: ekosistem, spesies, dan genetik. Dengan demikian, konservasi tidak lagi hanya berfokus pada spesies tertentu, tetapi juga mencakup pengelolaan ekosistem secara holistik.
“IBSAP menjadi panduan wajib bagi para pemangku kepentingan, termasuk pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan sektor swasta, untuk bersama-sama mewujudkan pengelolaan keanekaragaman hayati secara berkelanjutan,” tambah Badi’ah.
Empat Fokus Utama IBSAP
Strategi dan rencana aksi IBSAP 2025-2045 difokuskan pada empat pilar utama, yaitu:
- Pencegahan Deforestasi dan Degradasi Lahan
Mencegah kehilangan hutan dan lahan akibat aktivitas manusia seperti konversi lahan untuk perkebunan atau pertambangan. - Pengelolaan Ekosistem Gambut
Memastikan ekosistem gambut tetap berfungsi sebagai penyerap karbon alami untuk mengurangi emisi gas rumah kaca. - Peningkatan Cadangan Karbon
Upaya ini dilakukan melalui reforestasi, rehabilitasi lahan kritis, dan restorasi ekosistem penting lainnya. - Konservasi Kawasan Perairan dan Hutan Lestari
Mengelola kawasan perairan dan hutan dengan pendekatan yang mendukung keberlanjutan ekosistem serta kesejahteraan masyarakat lokal.
Langkah-langkah ini diyakini mampu menghadapi tantangan perubahan iklim sekaligus melindungi keanekaragaman flora dan fauna Indonesia.
Dampak Nyata Perubahan Iklim Terhadap Keanekaragaman Hayati
Badi’ah menyoroti interaksi nyata antara perubahan iklim dan penurunan kualitas habitat makhluk hidup. Sebagai contoh, ia menyebutkan pergeseran populasi teripang di Perairan Kepulauan Seribu, DKI Jakarta. Saat ini, teripang hanya dapat ditemukan di kedalaman lebih dari 15-20 meter, padahal pada medio 2000-2006, mereka mudah dijumpai di kedalaman 3-5 meter.
Fenomena ini menunjukkan bagaimana perubahan suhu laut akibat perubahan iklim dapat memengaruhi habitat dan distribusi spesies. “Perubahan iklim ini dampaknya sudah secara nyata dirasakan. Sebagai salah satu negara yang kaya akan keanekaragaman hayati, Indonesia harus merespons secara aktif melalui rencana aksi IBSAP,” tegasnya.
Mengintegrasikan Konservasi dengan Mitigasi Iklim
IBSAP 2025-2045 dirancang untuk tidak hanya melindungi flora dan fauna, tetapi juga memperkuat pengelolaan sumber daya alam sebagai modal keberlanjutan. Pendekatan yang integratif ini mencakup pengelolaan ekosistem secara terpadu dan perlindungan terhadap spesies-spesies yang rentan terhadap perubahan iklim.
Langkah ini sangat relevan mengingat ancaman global, di mana suhu Bumi diperkirakan dapat meningkat lebih dari 1,5 derajat Celsius pada akhir abad ini. Bila dibiarkan, perubahan iklim dapat menyebabkan kepunahan besar-besaran, terutama di kawasan tropis yang menjadi pusat keanekaragaman hayati dunia.
Kolaborasi dan Komitmen Bersama
Kesuksesan IBSAP tidak hanya bergantung pada pemerintah, tetapi juga membutuhkan peran aktif dari berbagai pihak, termasuk sektor swasta, masyarakat lokal, hingga komunitas global. Kolaborasi ini penting untuk menghadirkan solusi inovatif dan memastikan keberlanjutan program konservasi.
Melalui IBSAP, Indonesia tidak hanya memperkuat posisinya sebagai salah satu negara megabiodiversitas di dunia, tetapi juga menunjukkan kepemimpinan dalam menghadapi tantangan global, termasuk perubahan iklim.
Kesimpulan
IBSAP 2025-2045 adalah langkah strategis yang mencerminkan komitmen Indonesia dalam melindungi keanekaragaman hayati sekaligus memitigasi dampak perubahan iklim. Dengan pendekatan holistik dan integrasi kebijakan berbasis konservasi, Indonesia bertekad untuk menjaga kelestarian sumber daya alam yang menjadi dasar kehidupan masa depan.
Sebagai salah satu negara dengan kekayaan hayati terbesar di dunia, Indonesia memiliki tanggung jawab besar untuk menjaga ekosistemnya. Melalui implementasi IBSAP, Indonesia membuktikan bahwa pelestarian alam dan pembangunan berkelanjutan dapat berjalan seiring demi kesejahteraan generasi mendatang.
Sumber:
Temukan peta dengan kualitas terbaik untuk gambar peta indonesia lengkap dengan provinsi.




