Tahukah Anda

Angka deforestasi (Netto) Indonesia di dalam dan di luar kawasan hutan tahun 2013-2022 (Ha/Th)

Apa Itu Perubahan Netto Tutupan Hutan?

Sebelum membahas tren deforestasi secara lebih spesifik, penting untuk memahami konsep perubahan netto tutupan hutan. Ini adalah selisih antara jumlah hutan yang hilang (karena deforestasi) dan hutan yang bertambah (melalui perluasan alami atau penanaman kembali/rehabilitasi hutan).

Dengan kata lain:

Perubahan Netto = Deforestasi – Reforestasi/Afforestasi

Pada peta dunia, negara-negara dengan angka perubahan netto positif (ditandai warna hijau) berarti sedang menambah luas hutannya. Sebaliknya, negara-negara berwarna merah mengalami kehilangan hutan yang lebih besar daripada yang berhasil dipulihkan.

Seberapa Besar Deforestasi Global Setiap Tahun?

Data dari FAO (Organisasi Pangan dan Pertanian PBB) mencatat bahwa dunia kehilangan sekitar 10 juta hektare hutan per tahun akibat deforestasi langsung.

Namun, jika kita memperhitungkan proses reforestasi dan ekspansi alami hutan, angka netto kehilangan hutan global pada periode 2010–2020 adalah sekitar 4,7 juta hektare per tahun.

Ini menunjukkan bahwa meskipun ada upaya untuk mengembalikan hutan, laju kerusakan masih jauh lebih cepat daripada pemulihannya.

Jejak Deforestasi Sejak Zaman Es Hingga Kini

Sejak berakhirnya zaman es terakhir, sekitar 10.000 tahun lalu, dunia telah kehilangan sepertiga hutan alamnya kira-kira 2 miliar hektare, atau dua kali luas Amerika Serikat.

  • 50% dari kehilangan itu terjadi antara tahun 8.000 SM hingga 1900 M.
  • 50% sisanya hilang hanya dalam waktu sekitar 100 tahun terakhir.

Hal ini menunjukkan percepatan luar biasa dalam kerusakan hutan, terutama sejak revolusi industri dan ekspansi besar-besaran untuk pertanian dan permukiman.

Tren Global Selama 300 Tahun Terakhir

Jika kita melihat tren selama 300 tahun terakhir (1700–2020):

  • Dunia telah kehilangan 1,5 miliar hektare hutan.
  • Puncak deforestasi terjadi pada dekade 1980-an, terutama di wilayah tropis seperti Amazon, Asia Tenggara, dan Afrika Tengah.

Dua sumber utama data yang digunakan:

  1. Williams (2006) — menyajikan estimasi jangka panjang dari tahun 1700–1995.
  2. FAO Global Forest Assessments — menyediakan pembaruan setiap 5 tahun dengan teknologi satelit.

Kedua sumber memiliki metode berbeda dan tidak selalu menghasilkan angka yang seragam. Namun secara umum, keduanya menunjukkan pola deforestasi yang meningkat pesat pada abad ke-20, lalu cenderung melambat di abad ke-21.

Bagaimana dengan Indonesia?

Indonesia merupakan salah satu negara dengan cadangan hutan tropis terbesar di dunia sekaligus salah satu yang paling terdampak oleh deforestasi, terutama akibat pembukaan lahan untuk sawit, kebakaran hutan, dan pembalakan liar.

Menurut data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), terdapat dua kategori utama deforestasi:

  1. Di dalam kawasan hutan (wilayah yang telah ditetapkan secara hukum sebagai kawasan hutan oleh pemerintah)
  2. Di luar kawasan hutan (wilayah APL/area penggunaan lain)

Angka Deforestasi Netto Indonesia 2013–2022:

(dalam hektare per tahun)

TahunDi Dalam Kawasan HutanDi Luar Kawasan HutanTotal Deforestasi Netto
2013523.000 ha414.000 ha937.000 ha
2014379.000 ha310.000 ha689.000 ha
2015391.000 ha204.000 ha595.000 ha
2016297.000 ha226.000 ha523.000 ha
2017228.000 ha146.000 ha374.000 ha
2018137.000 ha99.000 ha236.000 ha
2019112.000 ha86.000 ha198.000 ha
202097.000 ha77.000 ha174.000 ha
202193.000 ha61.000 ha154.000 ha
202278.000 ha38.000 ha116.000 ha

Tren Positif: Deforestasi Menurun

Selama dekade terakhir, Indonesia berhasil mengurangi angka deforestasi lebih dari 80% dari hampir 1 juta hektare pada 2013, menjadi hanya sekitar 116 ribu hektare pada 2022.

Penurunan ini merupakan hasil kombinasi berbagai kebijakan dan inisiatif:

  • Moratorium izin baru di hutan primer dan lahan gambut
  • Penguatan pengawasan dan penegakan hukum
  • Program restorasi gambut dan rehabilitasi hutan
  • Kolaborasi dengan masyarakat adat dan lokal

Namun, meski trennya membaik, tantangan masih ada. Risiko deforestasi tetap tinggi di beberapa wilayah karena ekspansi perkebunan, tambang, dan konflik tata ruang.

Arah ke Depan: Bisakah Kita Akhiri Deforestasi?

Secara global, kita memang belum sepenuhnya menghentikan deforestasi. Tapi banyak negara termasuk Indonesia menunjukkan bahwa perubahan itu mungkin.

Langkah-langkah ke depan meliputi:

  • Meningkatkan perlindungan hutan alam dan kawasan konservasi
  • Mendorong restorasi lanskap hutan secara berkelanjutan
  • Menerapkan prinsip pembangunan rendah karbon
  • Mendorong sektor swasta agar menerapkan rantai pasok bebas deforestasi

Hutan bukan hanya tentang pepohonan. Mereka adalah penopang kehidupan, penjaga iklim, dan rumah bagi jutaan spesies. Melindungi mereka berarti melindungi masa depan kita semua.

sumber :

https://www.bps.go.id/id/statistics-table/1/MjA4MSMx/angka-deforestasi–netto–indonesia-di-dalam-dan-di-luar-kawasan-hutan-tahun-2013-2022–ha-th-.html

Temukan peta dengan kualitas terbaik untuk gambar peta indonesia lengkap dengan provinsi.

Konten Terkait

Back to top button
Data Sydney
Erek erek
Batavia SDK
BUMD ENERGI JAKARTA
JAKPRO