Menhut Raja Juli Antoni Soroti Tiga Faktor Kunci untuk Tekan Tren Karhutla dalam Jambore Karhutla 2025

Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni menekankan pentingnya tiga faktor utama yang harus diperhatikan guna menurunkan tren kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia. Pernyataan ini disampaikan dalam rangka mendukung pelaksanaan Jambore Karhutla 2025 , sebuah inisiatif besar yang digelar di Provinsi Riau pada Jumat, sebagai upaya edukatif dan kolaboratif untuk mengatasi ancaman karhutla.
“Kalau kita belajar dari data, alhamdulillah, puji Tuhan, bahwa karhutla secara nasional trennya terus menurun. Dari analisis saya, penurunan ini terjadi karena paling tidak ada tiga faktor yang berperan,” ujar Raja Juli Antoni dalam pernyataannya yang diterima di Jakarta, Jumat.
Kolaborasi dan Koordinasi Antar-Pemangku Kepentingan
Faktor pertama yang menjadi sorotan Menhut adalah pentingnya kolaborasi dan koordinasi antara seluruh pemangku kepentingan . Ia menegaskan bahwa keberhasilan dalam menurunkan angka karhutla tidak mungkin dicapai tanpa sinergi yang baik antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, TNI, Polri, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), serta sektor-sektor lain seperti kehutanan dan lingkungan hidup.
“Kolaborasi dan koordinasi yang baik antara seluruh stakeholder, meliputi pemerintah pusat, pemerintah daerah, TNI, Polri, BMKG, Kehutanan, serta seluruh pemangku kepentingan lainnya, menjadi kunci utama. Semua pihak harus bergerak secara terpimpin dan bersama-sama untuk mengantisipasi kebakaran hutan,” ujarnya.
Menurutnya, kerja sama lintas sektor ini telah memberikan hasil positif, terlihat dari tren penurunan kejadian karhutla di beberapa tahun terakhir. Namun, ia juga mengingatkan bahwa tantangan masih ada, terutama di wilayah-wilayah rawan seperti Riau, yang sering menjadi episentrum karhutla.
Penegakan Hukum yang Efektif
Selain kolaborasi, faktor kedua yang dianggap krusial oleh Menhut adalah penegakan hukum yang efektif oleh Aparat Penegak Hukum (APH). Ia menjelaskan bahwa jika terjadi kebakaran hutan di lahan Hak Guna Usaha (HGU) maupun di dalam kawasan hutan, maka penegakan hukum harus dilakukan secara tegas dan konsisten.
“Penegakan hukum sangat penting. Jika ada pelaku pembakaran hutan, baik di lahan HGU maupun di kawasan hutan, maka hukum harus ditegakkan tanpa kompromi. Ini akan memberikan efek jera bagi pelaku dan mencegah praktik serupa terulang,” katanya.
Dengan adanya penegakan hukum yang tegas, diharapkan para pelaku pembakaran hutan, baik individu maupun korporasi, akan lebih berhati-hati dan mematuhi aturan yang berlaku.
Partisipasi Aktif Masyarakat
Faktor ketiga yang tak kalah penting adalah partisipasi aktif masyarakat , terutama generasi muda. Menhut menekankan bahwa tanpa dukungan dan partisipasi dari masyarakat, upaya pencegahan karhutla tidak akan maksimal. Ia menyebut peran generasi muda, seperti adik-adik pramuka, mahasiswa, dan relawan, sebagai elemen vital dalam membangun kesadaran kolektif tentang bahaya karhutla.
“Tanpa partisipasi aktif dari masyarakat, terutama generasi muda, adik-adik pramuka, dan kelompok lainnya, ancaman karhutla ini akan selalu ada. Generasi muda adalah agen perubahan yang bisa membantu menyebarkan kesadaran tentang pentingnya menjaga hutan dan lingkungan,” ujarnya.
Ia berharap Jambore Karhutla 2025 dapat menjadi wadah untuk mengedukasi generasi muda tentang bahaya karhutla dan dampak buruk kabut asap bagi kesehatan, ekosistem, dan perekonomian. Melalui kegiatan ini, peserta tidak hanya diajak untuk memahami isu lingkungan, tetapi juga diajak untuk turut serta dalam aksi nyata seperti mitigasi bencana, simulasi penanggulangan karhutla, dan gerakan menanam pohon.
Harapan untuk Jambore Karhutla 2025
Menhut Raja Juli Antoni menyampaikan harapannya agar Jambore Karhutla 2025 dapat menjadi momentum untuk menegaskan ketiga faktor tersebut. Ia yakin bahwa dengan kolaborasi, penegakan hukum yang tegas, serta partisipasi aktif masyarakat, Indonesia dapat terus menurunkan tren karhutla dan menjaga kelestarian alam.
“Dengan Jambore Karhutla hari ini, kita berharap ketiga hal tadi—kolaborasi, penegakan hukum, dan partisipasi masyarakat—menjadi hal yang paling penting untuk kita garisbawahi,” demikian tutup Raja Juli Antoni .
Melalui Jambore Karhutla 2025, Riau dan Indonesia menunjukkan komitmen kuat untuk melawan ancaman karhutla melalui pendekatan edukatif, preventif, dan kolaboratif. Dengan melibatkan semua pihak, termasuk generasi muda, langkah ini diharapkan dapat menciptakan budaya sadar lingkungan yang berkelanjutan demi masa depan yang lebih hijau dan lestari.
Sumber: Antara News
Temukan peta dengan kualitas terbaik untuk gambar peta indonesia lengkap dengan provinsi.




