Berita

Wamen LH Serukan Kolaborasi Nasional untuk Capai Target 100 Persen Pengelolaan Sampah pada 2029

Wakil Menteri Lingkungan Hidup sekaligus Wakil Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH), Diaz Hendropriyono, mengajak seluruh elemen bangsa—pemerintah, masyarakat, dunia usaha, dan akademisi—untuk bersatu memperbaiki sistem pengelolaan sampah di Indonesia. Seruan ini disampaikannya dalam pernyataan resmi pada Rabu (25/6), menyusul penutupan Expo dan Forum Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2025 yang digelar di Jakarta pada 22–24 Juni.

“Tidak ada kata terlambat untuk memperbaiki. Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) hadir bukan sebagai regulator semata, tapi sebagai penggerak perubahan bersama rakyat dan dunia usaha,” tegas Diaz.

Fakta Mencengangkan: Hanya 9–10 Persen Sampah yang Dikelola

Diaz membeberkan data bahwa Indonesia memproduksi sekitar 56,63 juta ton sampah setiap tahun, namun hanya 22,09 juta ton yang dikelola secara formal. Bahkan, hasil verifikasi lapangan menunjukkan bahwa tingkat pengelolaan faktual hanya sekitar 9–10 persen, menyisakan lebih dari 34 juta ton sampah yang mencemari lingkungan.

TPA dengan sistem open dumping seperti di Bantar Gebang dan Sari Mukti menjadi sorotan karena berkontribusi besar terhadap emisi metana—gas rumah kaca yang 34 kali lebih kuat dari karbon dioksida. Metode ini sudah dinyatakan harus dihentikan secara nasional sebelum tahun 2026.

Polusi Plastik Ancam Kehidupan

Diaz juga menyoroti dampak pencemaran plastik yang kini telah masuk ke semua lini kehidupan: mikroplastik ditemukan di sungai, air minum, plasenta ibu hamil, hingga air susu ibu (ASI). Karena itu, tema Hari Lingkungan Hidup tahun ini, “Ending Plastic Pollution” atau “Hentikan Polusi Plastik”, menjadi peringatan penting akan darurat ekologi yang sedang dihadapi bangsa ini.

Solusi Inovatif dan Gerakan Rakyat

Dalam Expo HLH 2025, berbagai solusi pengelolaan sampah dipamerkan, mulai dari:

  • Mesin pemilah sampah otomatis
  • Insentif berbasis skema Deposit Return Scheme (DRS)
  • Insinerator bebas asap yang lolos baku mutu emisi

Tak hanya itu, gerakan dari akar rumput juga tampil menginspirasi. Contohnya:

  • Bank Sampah Mepokoaso di Sulawesi Tenggara
  • TPST Mutiara Bogor Raya di Jawa Barat

Kisah-kisah ini membuktikan bahwa solusi nyata bisa lahir dari rakyat, dan pengelolaan sampah tidak melulu harus bergantung pada proyek besar berskala nasional.

Target RPJMN dan Seruan Kolaborasi

Pemerintah Indonesia melalui Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) telah menargetkan:

  • 51,21 persen pengelolaan sampah pada 2025
  • 100 persen pengelolaan sampah pada 2029

Target ini hanya mungkin tercapai jika seluruh pihak turut terlibat secara aktif dan berkelanjutan.

“Indonesia bisa keluar dari krisis sampah. Tapi hanya jika kita semua, tanpa kecuali, bekerja sama. Ini bukan sekadar urusan kementerian, ini tentang masa depan negeri,” pungkas Diaz.

Seruan Diaz menjadi panggilan moral sekaligus peta jalan menuju Indonesia yang lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan. Dengan kolaborasi lintas sektor dan inovasi dari bawah, Indonesia memiliki peluang besar untuk mengatasi krisis sampah dan menjadi pemimpin regional dalam pengelolaan limbah berkelanjutan.

Sumber:
https://www.antaranews.com/berita/4923377/wamen-lh-serukan-kolaborasi-agar-ri-capai-100-persen-kelola-sampah

Temukan peta dengan kualitas terbaik untuk gambar peta indonesia lengkap dengan provinsi.

Konten Terkait

Back to top button
Data Sydney
Erek erek
Batavia SDK
BUMD ENERGI JAKARTA
JAKPRO