Kegiatan LH

Hari Internasional Masyarakat Adat Sedunia 2025: Menjaga Warisan, Menyongsong Masa Depan Bersama AI

Setiap tahunnya, tanggal 9 Agustus menjadi momen penting untuk memperingati Hari Internasional Masyarakat Adat Sedunia. Tahun 2025 ini, dunia kembali menaruh perhatian pada masyarakat adat—penjaga kearifan lokal, budaya, dan alam—yang selama ini telah menjadi benteng hidup warisan dunia.

Dengan tema “Indigenous Peoples and AI: Defending Rights, Shaping Futures”, peringatan tahun ini tidak hanya mengangkat suara komunitas adat, tetapi juga menyoroti tantangan dan peluang mereka di era kecerdasan buatan (AI). Sebuah tema yang mencerminkan harapan: agar teknologi tidak hanya menjadi alat modernisasi, tetapi juga alat pemberdayaan.


Mengapa Masyarakat Adat Penting?

Berdasarkan data dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), ada sekitar 476 juta masyarakat adat yang tersebar di lebih dari 90 negara. Walaupun jumlah mereka hanya 6 persen dari populasi dunia, mereka menyumbang 15 persen dari populasi termiskin. Namun, mereka juga adalah pemilik dan penjaga mayoritas dari 7.000 bahasa yang masih hidup dan merepresentasikan lebih dari 5.000 budaya unik di seluruh dunia.

Masyarakat adat bukan hanya warisan masa lalu. Mereka adalah penjaga pengetahuan tradisional, pelestari alam, dan praktisi nilai-nilai hidup yang selaras dengan bumi. Sayangnya, dalam perjalanan sejarah yang panjang, hak-hak mereka sering kali terpinggirkan—baik dalam bentuk penggusuran, eksploitasi sumber daya, hingga hilangnya bahasa dan budaya asli.


Asal-Usul Peringatan 9 Agustus

Hari Internasional Masyarakat Adat Sedunia pertama kali dideklarasikan oleh Majelis Umum PBB pada 23 Desember 1994 melalui Resolusi 49/214. Tanggal 9 Agustus dipilih untuk mengenang pertemuan pertama Kelompok Kerja PBB tentang Populasi Adat, yang berlangsung di Jenewa pada tahun 1982.

Sejak saat itu, hari ini menjadi momen refleksi global atas perjuangan, kontribusi, dan tantangan yang dihadapi oleh masyarakat adat di seluruh dunia.


Tema 2025: Masyarakat Adat dan AI

Tahun ini, tema peringatan menyoroti keterkaitan antara masyarakat adat dan kecerdasan buatan (AI). Meski AI membuka berbagai kemungkinan, seperti revitalisasi bahasa, pelestarian budaya, dan adaptasi terhadap krisis iklim, teknologi ini juga menghadirkan ancaman baru bagi komunitas adat.

Apa bahayanya?

  • Bias dan diskriminasi: Banyak sistem AI dikembangkan tanpa mempertimbangkan perspektif adat, sehingga berpotensi menciptakan representasi yang keliru.
  • Risiko pencurian data dan identitas: Pengetahuan tradisional bisa dieksploitasi tanpa persetujuan.
  • Eksklusi digital: Ketimpangan akses teknologi masih tinggi, terutama di wilayah adat yang terpencil.
  • Ancaman lingkungan: Pembangunan pusat data berkapasitas besar dapat merusak tanah dan ekosistem tradisional.

Lalu apa solusinya?

  • Masyarakat adat harus dilibatkan sebagai pemegang hak, bukan hanya sebagai objek.
  • Diperlukan inklusi bermakna dalam pengembangan AI, termasuk pengakuan atas kedaulatan data adat.
  • Inovasi teknologi sebaiknya berakar pada nilai-nilai budaya dan lokal yang mereka miliki.

Contoh Nyata: Ketika AI Bertemu dengan Kearifan Lokal

Beberapa proyek di dunia telah menunjukkan bahwa teknologi dan tradisi bisa berjalan berdampingan:

  • Polinesia: Proyek pelestarian terumbu karang yang dipimpin oleh masyarakat adat memanfaatkan AI untuk memantau kesehatan ekosistem laut mereka.
  • Wilayah Inuit: Komunitas lokal mengembangkan model AI berbasis kearifan adat untuk merespons perubahan iklim yang mengancam wilayah Arktik.
  • Selandia Baru: Teknologi pemrosesan bahasa alami (natural language processing) digunakan untuk menghidupkan kembali bahasa Māori, bahasa asli yang sempat terpinggirkan.

Momentum Refleksi dan Aksi

Hari Internasional Masyarakat Adat Sedunia 2025 mengingatkan kita semua bahwa kemajuan teknologi tidak boleh melupakan mereka yang selama ini menjadi pelindung alam, budaya, dan nilai-nilai hidup yang harmonis.

Teknologi harus inklusif. AI harus adil. Dan masyarakat adat harus menjadi bagian utama dari narasi masa depan.


Sumber:
Artikel asli dari detikNews: Hari Masyarakat Adat Sedunia 2025: Sejarah dan Tema Peringatan

Temukan peta dengan kualitas terbaik untuk gambar peta indonesia lengkap dengan provinsi.

Konten Terkait

Back to top button
Data Sydney
Erek erek
Batavia SDK
BUMD ENERGI JAKARTA
JAKPRO