Hari Air Sedunia: Realita Pedagang Air Keliling Jakarta

Di tengah teriknya matahari pesisir Jakarta Utara, Pak Suhendar (50-an) tetap setia menjalani rutinitasnya sebagai pedagang air bersih keliling. Dengan gerobak kayu sederhana berisi puluhan jerigen, ia menyusuri kawasan Marunda, melayani kebutuhan air warga yang belum sepenuhnya terjangkau layanan air bersih.
Selama lebih dari 15 tahun, profesi ini menjadi sumber penghidupan utama bagi Pak Suhendar. Meski tergolong langka di tengah modernisasi kota, peran pedagang air seperti dirinya masih sangat dibutuhkan, khususnya di wilayah pesisir dengan keterbatasan akses air layak konsumsi.
Dorong 400 Kilogram Air Setiap Hari
Setiap hari, Pak Suhendar harus mengerahkan tenaga ekstra. Dalam satu kali perjalanan, ia mendorong sekitar 20 jerigen air dengan total berat mencapai 400 kilogram. Aktivitas ini dilakukan hingga 4–5 kali bolak-balik per hari.
“Sistemnya kita ambil dari bos, beli satu gerobak (20 jerigen) harganya Rp12.000. Satu jerigen isinya 20 liter,” jelasnya.
Air tersebut kemudian dijual kembali dengan harga rata-rata Rp6.000 per jerigen. Dari hasil penjualan, ia memperoleh pendapatan kotor sekitar Rp120.000 hingga Rp150.000 per hari.
Penghasilan Pas-Pasan di Tengah Kebutuhan Tinggi
Meski terlihat cukup, penghasilan tersebut harus dibagi untuk berbagai kebutuhan harian. Biaya makan, rokok, kopi, hingga sewa tempat tinggal membuat pendapatan yang diperoleh terasa pas-pasan.
“Dapat segitu belum buat makan, rokok, kopi, sama bayar sewa. Istilahnya cuma cukup buat bertahan hidup di Jakarta,” ungkapnya.
Masih Dibutuhkan di Tengah Layanan PAM
Walaupun sebagian besar wilayah Jakarta telah terlayani oleh jaringan air PAM, jasa pedagang air bersih seperti Pak Suhendar tetap dicari. Pelanggannya berasal dari pedagang kaki lima (PKL), warung makan, hingga warga di sekitar terminal dan pelelangan ikan.
Kondisi air tanah di pesisir Marunda yang cenderung asin menjadi salah satu faktor utama tingginya permintaan air bersih untuk kebutuhan konsumsi.
“Biasanya pelanggan warung pinggir jalan, terminal, atau pelelangan ikan. Kalau perumahan sekarang sudah banyak yang pakai PAM,” tambahnya.
Harapan Sederhana untuk Keberlanjutan Usaha
Menghadapi masa depan, Pak Suhendar tidak memiliki harapan muluk. Ia hanya berharap pasokan air bersih tetap tersedia dan tidak mengalami gangguan, sehingga usaha kecilnya bisa terus berjalan.
“Harapannya pasokan air ini tetap lancar, jangan sampai macet. Kalau air lancar, kita juga bisa terus cari rezeki buat sehari-hari,” tutupnya.
https://rri.co.id/jakarta/berita-lain/2278858/hari-air-sedunia-realita-pedagang-air-keliling-jakarta
Temukan peta dengan kualitas terbaik untuk gambar peta indonesia lengkap dengan provinsi.




