Berita

Krisis Energi Picu Lonjakan Energi Hijau di Eropa: Panel Surya, Heat Pump, dan EV Laris Manis

Negara-negara anggota Uni Eropa tengah mengalami pergeseran besar dalam pola konsumsi energi. Di tengah tekanan krisis energi global yang dipicu konflik antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran, masyarakat Eropa kini berbondong-bondong beralih ke energi terbarukan sebagai solusi jangka panjang.

Lonjakan harga minyak dunia akibat konflik tersebut membuat biaya energi berbasis fosil semakin tidak stabil. Kondisi ini mendorong rumah tangga dan pelaku usaha di Eropa untuk segera berinvestasi pada teknologi energi bersih seperti panel surya, pompa panas (heat pump), serta kendaraan listrik (electric vehicle/EV).

Di Inggris, penjualan pompa panas mengalami lonjakan signifikan hingga 51 persen dalam tiga pekan pertama Maret 2026 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Padahal, secara historis Inggris dikenal sebagai salah satu negara dengan tingkat adopsi teknologi ini paling rendah di Eropa.

Perwakilan Octopus Energy, Rebecca Dibb Simkin, menyebut bahwa perubahan ini mencerminkan pergeseran perilaku masyarakat yang semakin sadar akan pentingnya kemandirian energi.

“Kita melihat perubahan besar. Masyarakat tidak lagi sekadar mempertimbangkan, tetapi mulai bertindak. Mereka lelah bergantung pada harga bahan bakar fosil global yang tidak menentu,” ujarnya.

Tak hanya pompa panas, penjualan panel surya juga meningkat pesat hingga 54 persen. Menariknya, banyak pemilik rumah kini memasang sistem yang lebih besar—rata-rata 12 panel dibandingkan sebelumnya hanya 10 panel—sebagai bentuk investasi jangka panjang untuk menekan biaya listrik.

Di sektor transportasi, tren serupa juga terjadi. Penjualan pengisi daya kendaraan listrik meningkat 20 persen, sementara permintaan mobil listrik melonjak di berbagai negara seperti Perancis, Romania, Portugal, dan Polandia. Bahkan, platform penjualan mobil bekas di Perancis mencatat lonjakan hampir dua kali lipat untuk kendaraan listrik.

Fenomena ini menunjukkan bahwa masyarakat Eropa mulai melihat energi terbarukan bukan hanya sebagai pilihan ramah lingkungan, tetapi juga sebagai strategi perlindungan finansial. Dengan memasang panel surya dan menggunakan pompa panas, rumah tangga dapat menghasilkan energi sendiri dengan biaya yang lebih stabil dan rendah dalam jangka panjang.

Menurut data Komisi Eropa, harga bahan bakar minyak di kawasan Uni Eropa meningkat sekitar 12 persen, mencapai rata-rata 1,84 euro per liter dalam kurun waktu kurang dari satu bulan. Kenaikan ini menjadi salah satu pemicu utama percepatan transisi energi di kawasan tersebut.

Perusahaan energi terbarukan seperti Enpal BV melaporkan peningkatan permintaan hingga 30 persen untuk panel surya dan pompa panas sejak konflik memanas. Sementara itu, perusahaan teknologi energi 1KOMMA5° mencatat penjualan panel surya hampir dua kali lipat.

Di sisi lain, Spanyol menjadi contoh keberhasilan investasi jangka panjang di sektor energi terbarukan. Dalam enam tahun terakhir, negara tersebut telah menggandakan kapasitas energi angin dan surya, menambah lebih dari 40 gigawatt. Hasilnya, harga listrik di Spanyol relatif lebih murah dibandingkan negara Eropa lainnya.

Kondisi ini menunjukkan bahwa krisis energi global justru menjadi katalis percepatan transisi menuju energi bersih di Eropa. Alih-alih terus bergantung pada bahan bakar fosil yang rentan terhadap gejolak geopolitik, negara-negara Uni Eropa kini semakin agresif membangun sistem energi yang mandiri, berkelanjutan, dan tahan terhadap krisis di masa depan.

Dengan tren ini, Eropa berpotensi mempercepat target dekarbonisasi sekaligus memperkuat ketahanan energinya—sebuah langkah penting dalam menghadapi tantangan perubahan iklim dan ketidakpastian global.

https://lestari.kompas.com/read/2026/03/31/201300986/uni-eropa-borong-panel-surya-hingga-ev-di-tengah-krisis-energi

Temukan peta dengan kualitas terbaik untuk gambar peta indonesia lengkap dengan provinsi.

Konten Terkait

Back to top button
Data Sydney
Erek erek
Batavia SDK
BUMD ENERGI JAKARTA
JAKPRO