Makalah

Peran masyarakat tradisional dalam mitigasi dampak perubahan iklim

Krisis Iklim sebagai Ancaman Sistemik Global

Krisis iklim kontemporer bukan sekadar isu lingkungan sektoral, melainkan manifestasi dari pola pembangunan global yang mengabaikan batas ekologis bumi (planetary boundaries). Data dari Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC) menunjukkan urgensi situasi ini:

  • Peningkatan Suhu: Suhu permukaan bumi telah melonjak sebesar 1,1oC dibandingkan dengan era pra-industri.
  • Proyeksi Kritis: Tanpa adanya intervensi sistemik dan radikal, laju pemanasan global diprediksi kuat akan melampaui ambang batas aman 1,5oC pada pertengahan abad ke-21.
  • Dampak Riil: Anomali kenaikan suhu ini memicu bencana hidrometeorologi ekstrem, seperti siklon tropis, kekeringan berkepanjangan, kepunahan massal keanekaragaman hayati, dan ancaman gagal panen yang mengancam ketahanan pangan global.

Paradoks Keadilan Iklim (Climate Justice)

Di balik krisis ini, terdapat isu ketimpangan sosial dan etika yang dikenal sebagai paradoks keadilan iklim (climate justice).

Masyarakat adat dan komunitas tradisional yang mendiami kawasan ringkih seperti hutan tropis, pulau-pulau kecil, pesisir, dan wilayah pegunungan, merupakan kelompok yang paling rentan terdampak oleh bencana iklim. Ironisnya, secara historis dan ekonomis, mereka adalah kelompok yang paling sedikit berkontribusi terhadap akumulasi emisi gas rumah kaca global (Etchart, 2017).

Meskipun berada di garis depan ancaman ekologis, komunitas ini justru memiliki rekam jejak paling konsisten dalam menjaga kelestarian bumi. Hal ini menjadikan mereka sebagai aktor kunci, bukan sekadar korban, dalam strategi mitigasi iklim global.

Eksplorasi Traditional Ecological Knowledge (TEK)

Sains internasional kini mulai berpaling dan mengakui efektivitas tata kelola lingkungan berbasis Pengetahuan Ekologi Tradisional atau Traditional Ecological Knowledge (TEK).

Definisi TEK: Suhu sistem pengetahuan, pemahaman, dan praktik kumulatif yang berkembang melalui proses adaptasi lokal selama ratusan tahun, lalu diwariskan secara turun-temurun melalui tradisi lisan, kebudayaan, dan kelembagaan adat.

Perbandingan karakteristik antara sains barat konvensional dengan TEK dapat dipetakan sebagai berikut:

KarakteristikSains Barat KonvensionalPengetahuan Ekologi Tradisional (TEK)
Sifat PendekatanReduksionis & Kompartemental: Memilah gejala alam ke dalam disiplin ilmu yang terkotak-kotak.Holistik & Sistemik: Melihat alam sebagai satu kesatuan ekosistem yang saling terhubung.
Relasi Manusia-AlamAntroposentris: Alam dipandang sebagai objek atau komoditas untuk dieksploitasi manusia.Ekosentris: Hubungan timbal balik (resiprokal) di mana manusia adalah bagian dari alam yang wajib menjaga keseimbangannya.
Metode ValidasiPengujian laboratorium, pemodelan komputer, dan data kuantitatif jangka pendek.Praktik empiris langsung di lapangan, trial-and-error, dan observasi lintas generasi.

Sinergi antara sains modern dan TEK saat ini dinilai oleh para ilmuwan global sebagai salah satu instrumen paling realistis dan efektif untuk merumuskan kebijakan adaptasi serta mitigasi krisis iklim yang inklusif (Petzold et al., 2020).

sumber:
https://www.kompasiana.com/bagusanggoro9625/6a31655034777c667e0baea2/peran-masyarakat-tradisional-dalam-mitigasi-dampak-perubahan-iklim?page=1&page_images=1

Temukan peta dengan kualitas terbaik untuk gambar peta indonesia lengkap dengan provinsi.

Konten Terkait

Back to top button
Data Sydney
Erek erek
Batavia SDK
BUMD ENERGI JAKARTA
JAKPRO