8 Lampu Surya menerangi jalan desa, KKN UGM dorong energi bersih dan olahan briket di Banyuwangi

Dari Matahari hingga Sabut Kelapa: KKN UGM Dorong Energi Bersih dan Ekonomi Sirkular di Banyuwangi
Delapan lampu tenaga surya kini menerangi jalan desa di Banyuwangi. Di saat yang sama, limbah sabut kelapa yang sebelumnya dibuang mulai diolah menjadi briket. Dua program sederhana ini menunjukkan bagaimana energi terbarukan dan ekonomi sirkular dapat diterapkan langsung di tingkat masyarakat.
Sebanyak 28 mahasiswa KKN-PPM Universitas Gadjah Mada (UGM) menjalankan program pemberdayaan masyarakat di Desa Srono dan Rejoagung, Kecamatan Srono, Banyuwangi, Jawa Timur. Salah satu program utamanya adalah pemasangan delapan titik lampu penerangan jalan berbasis tenaga surya.
Dari delapan titik tersebut, masing-masing empat lampu dipasang di wilayah Wonosobo dan empat lainnya di Rejoagung.
Program ini menjawab persoalan sederhana tetapi penting: minimnya penerangan jalan pada malam hari. Jalan yang gelap dapat meningkatkan risiko kecelakaan dan membuat aktivitas masyarakat menjadi kurang aman setelah matahari terbenam.
Energi matahari untuk penerangan desa
Lampu yang digunakan memanfaatkan energi matahari sebagai sumber listrik. Setiap unit lampu memiliki harga sekitar Rp160.000, sementara biaya pemasangannya sekitar Rp200.000 per titik.
Dengan sistem penyimpanan energi dari panel surya, lampu tersebut dapat memberikan penerangan hingga sekitar delapan jam. Sistemnya juga dilengkapi sensor gerak yang memungkinkan intensitas cahaya meningkat ketika mendeteksi kendaraan atau orang yang melintas.
Teknologi sederhana ini menunjukkan bahwa pemanfaatan energi terbarukan tidak selalu harus dimulai dari proyek berskala besar.
Dalam konteks desa, solusi energi bersih dapat dimulai dari kebutuhan yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari: penerangan jalan, keamanan warga, dan akses terhadap energi yang lebih efisien.
Dari limbah sabut kelapa menjadi sumber energi
Program KKN UGM tidak berhenti pada energi surya.
Mahasiswa juga memperkenalkan pemanfaatan limbah sabut kelapa sebagai bahan baku briket. Sebelumnya, sabut kelapa yang dihasilkan masyarakat sering kali hanya dibuang dan belum dimanfaatkan secara optimal.
Melalui pengolahan menjadi briket, limbah tersebut dapat memperoleh nilai guna baru sebagai alternatif bahan bakar pengganti arang.
Konsep ini merupakan contoh sederhana dari ekonomi sirkular, yaitu mengupayakan agar material yang sebelumnya dianggap sebagai limbah dapat kembali dimanfaatkan dan memiliki nilai ekonomi.
Daripada:
Sabut kelapa → dibuang → menjadi limbah
pendekatannya diubah menjadi:
Sabut kelapa → diolah → briket → digunakan → memiliki nilai ekonomi
Teknologi sederhana, manfaat berlapis
Menariknya, kedua program tersebut memiliki pendekatan yang sama: mengubah sumber daya yang tersedia menjadi solusi bagi kebutuhan lokal.
Energi matahari yang tersedia secara alami dimanfaatkan untuk penerangan. Sementara itu, limbah sabut kelapa yang sebelumnya kurang bernilai diolah menjadi produk yang dapat digunakan kembali.
Manfaatnya pun tidak hanya bersifat lingkungan.
Penerangan jalan dapat mendukung keselamatan dan keamanan masyarakat, sedangkan pengolahan sabut kelapa berpotensi menciptakan nilai ekonomi tambahan sekaligus mengurangi limbah.
Bagi masyarakat, inovasi seperti ini juga menjadi penting karena teknologi yang diperkenalkan relatif sederhana dan memiliki peluang untuk dikembangkan secara mandiri.
KKN sebagai ruang untuk solusi berkelanjutan
Program tersebut menjadi bagian dari kegiatan KKN periode antarsemester UGM yang melibatkan 8.178 mahasiswa di 32 provinsi. Sebagian besar program mengangkat isu ketahanan pangan dan mitigasi perubahan iklim.
Hal ini menunjukkan bahwa kontribusi mahasiswa kepada masyarakat tidak harus selalu berbentuk pembangunan fisik. Transfer pengetahuan, pengenalan teknologi tepat guna, pengelolaan limbah, dan peningkatan kapasitas masyarakat juga dapat menjadi bagian penting dari pembangunan berkelanjutan.
Kisah dari Banyuwangi memberikan sebuah pelajaran sederhana:
Transisi menuju energi bersih dan ekonomi sirkular tidak selalu dimulai dari teknologi yang rumit.
Terkadang, perubahan dimulai dari satu lampu yang menggunakan energi matahari dan satu limbah yang tidak lagi dianggap sebagai sampah.
Jika solusi sederhana seperti ini dapat dikembangkan, dikelola, dan direplikasi oleh masyarakat di lebih banyak desa, dampaknya dapat menjadi jauh lebih besar bukan hanya untuk lingkungan, tetapi juga untuk keselamatan, kemandirian energi, pengurangan limbah, dan ekonomi masyarakat lokal.




