Olah 2.500 Ton Sampah Per Hari, RDF Plant Jakarta Terbesar di Dunia

Dinas Lingkungan Hidup Provinsi DKI Jakarta sedang membangun Fasilitas Pengolahan Sampah Refuse Derived Fuel (RDF) Plant Jakarta di Rorotan, Jakarta Utara. Fasilitas ini diproyeksikan menjadi tempat pengolahan sampah terbesar di dunia dengan luas area mencapai 7,87 hektare. Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Asep Kuswanto, menjelaskan bahwa RDF Plant Jakarta akan memiliki kapasitas pengolahan sampah hingga 2.500 ton per hari dan mampu menghasilkan 875 ton bahan bakar serpihan padat atau RDF.
“Fasilitas tersebut akan menjadi salah satu RDF Plant dengan kapasitas terbesar di dunia, yang dapat mengolah 2.500 ton sampah per hari dan menghasilkan 875 ton bahan bakar serpihan padat atau RDF,” ujar Asep saat dihubungi pada Rabu (15/1/2025). Fasilitas ini nantinya akan mengelola limbah dari 16 kecamatan di wilayah Jakarta.
Tujuan Pembangunan RDF Plant Jakarta
Pembangunan RDF Plant Jakarta bertujuan untuk mereduksi volume sampah secara berkelanjutan dan ramah lingkungan. Asep menjelaskan bahwa pengolahan sampah menjadi RDF melibatkan beberapa tahap, termasuk pemilahan, pencacahan, dan pengeringan. Proses ini menghasilkan bahan bakar alternatif yang dapat digunakan oleh industri semen, sehingga mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil.
“Pengolahan sampah menjadi RDF meliputi proses pemilahan, pencacahan, dan pengeringan, serta menghasilkan bahan bakar alternatif yang dapat mengurangi penggunaan bahan bakar fosil oleh industri semen,” ungkap Asep.
Target Operasional dan Dampak Positif
RDF Plant Jakarta ditargetkan mulai beroperasi pada triwulan I tahun 2025. Asep mengungkapkan bahwa fasilitas ini akan mereduksi sekitar 30 persen sampah yang sebelumnya dikirim ke Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang. Hal ini sekaligus mengurangi beban pengelolaan sampah di TPST Bantargebang, yang selama ini menjadi tempat pembuangan akhir sampah di Jakarta.
“Ada sekitar 30 persen sampah yang direduksi di RDF Rorotan. Ini sekaligus mengurangi beban pengelolaan sampah di TPST Bantargebang,” tutur Asep.
Pemantauan Kualitas Udara
Untuk memastikan bahwa operasional RDF Plant tidak menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan, fasilitas ini akan dilengkapi dengan Stasiun Pemantau Kualitas Udara (SPKU). SPKU akan memonitor kualitas udara ambien di sekitar plant, termasuk parameter seperti PM 2.5, PM 10, karbon monoksida, nitrogen dioksida, dan sulfur dioksida.
“Area RDF Plant akan dilengkapi Stasiun Pemantau Kualitas Udara (SPKU), yang akan memonitor kualitas udara ambien di sekitar plant seperti parameter PM 2.5, PM 10, karbon monoksida, nitrogen dioksida, dan sulfur dioksida,” jelas Asep.
Dukungan dari Pemerintah dan Swasta
Pembangunan RDF Plant Jakarta merupakan hasil kolaborasi antara pemerintah dan sektor swasta. Proyek ini juga didukung oleh PT Wijaya Karya (WIKA), yang bertanggung jawab atas konstruksi fasilitas tersebut. WIKA telah menyatakan kesiapannya untuk mengurangi sampah hingga 2.500 ton per hari melalui proyek ini.
Harapan ke Depan
Dengan beroperasinya RDF Plant Jakarta, diharapkan dapat terjadi pengurangan signifikan dalam volume sampah yang dibuang ke TPST Bantargebang. Selain itu, fasilitas ini juga diharapkan dapat menjadi model bagi pengelolaan sampah berkelanjutan di kota-kota lain di Indonesia. Penggunaan RDF sebagai bahan bakar alternatif juga diharapkan dapat berkontribusi pada upaya global dalam mengurangi emisi karbon dan mendukung transisi energi bersih.
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul “Olah 2.500 Ton Sampah Per Hari, RDF Plant Jakarta Terbesar di Dunia”.
Baca selengkapnya di: Kompas.com.
Temukan peta dengan kualitas terbaik untuk gambar peta indonesia lengkap dengan provinsi.




