Kampanye Selamatkan Orangutan Tapanuli, Pesepeda Hadapi Teriknya Sumatera

Panas menyengat, tanjakan panjang, jalan bergelombang hingga kemacetan tidak menghentikan perjalanan lima pesepeda yang melintasi Sumatera. Mereka bukan sekadar mengejar garis finis. Ada misi lingkungan yang dibawa dalam setiap kayuhan: menjaga hutan dan menyelamatkan habitat Orangutan Tapanuli.
Saat tiba di Kota Jambi, rombongan telah menyelesaikan sekitar separuh perjalanan. Masih ada sekitar 800 kilometer yang harus ditempuh menuju Batang Toru, Sumatera Utara.
Perjalanan bertajuk Ekspedisi Hutan Merdeka tersebut menjadi kampanye bergerak untuk mengingatkan masyarakat bahwa ketika hutan hilang, bukan hanya satwa yang kehilangan rumah. Manusia juga kehilangan salah satu penyangga kehidupannya.
Panas Sumatera Tak Menghentikan Kayuhan
Jawahir, salah seorang peserta ekspedisi, mengakui perjalanan melintasi Sumatera bukan perkara mudah.
Selain kondisi jalan yang naik turun, rombongan harus menghadapi kemacetan di sejumlah titik serta terik matahari yang menjadi tantangan tersendiri.
Meski demikian, semangat rombongan tetap terjaga.
“Ini perjalanan yang seru. Kalau lelah, ya pasti,” kata Jawahir.
Bagi para pesepeda, kelelahan fisik menjadi bagian dari perjalanan panjang yang membawa tujuan lebih besar.
800 Kilometer Lagi Menuju Batang Toru
Bagi Fitri Utami, ekspedisi tersebut menjadi perjalanan bersepeda terpanjang yang pernah dilakukannya.
Namun, masih panjangnya perjalanan menuju Batang Toru justru tidak menyurutkan semangatnya. Kampanye perlindungan hutan menjadi motivasi untuk terus mengayuh.
Menurut Fitri, hutan tidak hanya dibutuhkan manusia. Di dalamnya terdapat berbagai satwa yang sepenuhnya bergantung pada ekosistem tersebut sebagai tempat hidup.
Pesan serupa disampaikan peserta lain, Veri Sanovri dan Fadlan Syam.
Bagi mereka, menjaga hutan pada akhirnya juga berarti menjaga kehidupan manusia.
Ketika hutan rusak, kemampuan alam dalam menjaga air, tanah, iklim mikro, serta habitat keanekaragaman hayati ikut terganggu. Dampaknya dapat kembali kepada manusia dalam berbagai bentuk, termasuk meningkatnya risiko bencana ekologis.
Menuju Rumah Orangutan Tapanuli
Tujuan perjalanan mereka bukan dipilih tanpa alasan.
Batang Toru merupakan habitat Orangutan Tapanuli (Pongo tapanuliensis), salah satu spesies kera besar paling langka di dunia.
Dalam diskusi publik di Universitas Jambi, Manager Komunikasi Satya Bumi Restu Diantina Putri menyebut survei 2023 memperkirakan populasinya hanya sekitar 716 individu.
Jumlah tersebut membuat setiap kehilangan habitat menjadi persoalan serius.
Berbeda dengan satwa yang memiliki sebaran habitat luas, Orangutan Tapanuli memiliki keterikatan sangat kuat dengan bentang alam Batang Toru.
Sederhananya, ketika Batang Toru rusak, mereka tidak mempunyai banyak pilihan untuk mencari rumah baru.
Batang Toru Menghadapi Tekanan
Bentang alam Batang Toru kini menghadapi berbagai tekanan aktivitas manusia dan industri.
Dalam kampanye Ekspedisi Hutan Merdeka, Satya Bumi menyoroti keberadaan berbagai kegiatan pertambangan, energi dan perkebunan di sekitar bentang alam tersebut serta potensi dampaknya terhadap ekosistem.
Namun, hubungan langsung antara kegiatan masing-masing perusahaan dengan tingkat kerusakan tertentu tetap membutuhkan pembuktian dan kajian lingkungan secara spesifik.
Hal yang menjadi perhatian utama kelompok lingkungan adalah fragmentasi dan degradasi habitat.
Bagi orangutan, hutan bukan hanya kumpulan pohon. Kanopi yang saling terhubung menyediakan ruang untuk bergerak, mencari makanan, berkembang biak dan mempertahankan populasinya.
Ketika kawasan hutan terfragmentasi menjadi bagian-bagian kecil, kelompok orangutan juga dapat semakin terisolasi.
Bencana 2025 Jadi Peringatan
Kondisi Batang Toru semakin menjadi perhatian setelah bencana hidrologis besar pada akhir November 2025.
Menurut data yang disampaikan Satya Bumi dalam diskusi tersebut, bencana itu diperkirakan berdampak pula terhadap populasi Orangutan Tapanuli. Organisasi tersebut memperkirakan terjadi penurunan sekitar 7 persen atau 58 individu.
Angka tersebut perlu dipahami sebagai estimasi yang disampaikan organisasi lingkungan dan membutuhkan pemantauan populasi lebih lanjut untuk memastikan dampak aktualnya.
Namun, bagi spesies dengan populasi hanya ratusan individu, kehilangan puluhan satwa sekalipun merupakan ancaman yang sangat serius.
Tidak Ada Rumah Kedua
Inilah pesan utama yang dibawa para pesepeda sepanjang perjalanan menuju Batang Toru.
Manusia mungkin dapat pindah ketika suatu tempat tidak lagi nyaman dihuni. Kita dapat membangun rumah di tempat lain, berpindah kota, bahkan berpindah negara.
Satwa endemik tidak memiliki kemewahan yang sama.
Habitatnya terbentuk melalui proses ekologis yang berlangsung sangat lama. Makanan, vegetasi, kondisi geografis, hingga hubungan dengan spesies lain tidak dapat begitu saja dipindahkan ke tempat baru.
Restu merangkum persoalan tersebut dalam kalimat sederhana:
“Tidak ada rumah kedua mereka.”
Karena itu, menyelamatkan Orangutan Tapanuli tidak cukup hanya dengan menyelamatkan individu satwanya. Rumahnya juga harus tetap ada.
Mengayuh Sepeda untuk Mengingatkan Kita Semua
Ekspedisi Hutan Merdeka memperlihatkan bahwa kampanye lingkungan dapat dilakukan dengan berbagai cara.
Lima orang memilih sepeda.
Mereka menempuh panasnya jalan Sumatera, melewati tanjakan dan kemacetan, singgah di kota-kota, berdiskusi dengan masyarakat, kemudian kembali mengayuh menuju tujuan berikutnya.
Perjalanan fisik tersebut sekaligus membawa sebuah pesan yang jauh lebih besar.
Hutan bukan tanah kosong yang menunggu untuk dimanfaatkan.
Di dalamnya terdapat kehidupan. Ada pohon, sungai, mikroorganisme, tumbuhan, satwa, masyarakat sekitar hutan, serta sistem ekologis yang menopang kehidupan jauh melampaui batas kawasan tersebut.
Masih ada ratusan kilometer yang harus ditempuh para pesepeda sebelum tiba di Batang Toru.
Namun, perjalanan untuk menyelamatkan Orangutan Tapanuli jauh lebih panjang daripada 1.600 kilometer.
Sebab garis finis sebenarnya bukan ketika sepeda mereka akhirnya berhenti di Batang Toru.
Garis finisnya adalah ketika Orangutan Tapanuli masih dapat hidup bebas di hutan Batang Toru dan generasi mendatang tidak hanya mengenalnya dari foto serta cerita tentang satwa yang pernah hidup di Sumatera.




