Target EBT 70 Persen Bisa Buka Peluang 49,12 Juta Green Job di Indonesia

Target Indonesia meningkatkan porsi energi baru dan terbarukan atau EBT hingga 70 persen pada 2045 diperkirakan akan membawa perubahan besar pada dunia kerja.
Transformasi menuju ekonomi rendah karbon tidak hanya akan mengubah sumber energi yang digunakan, tetapi juga jenis pekerjaan, teknologi, proses kerja, hingga kompetensi yang dibutuhkan tenaga kerja.
Bappenas mencatat sekitar 49,12 juta tenaga kerja atau 36,5 persen dari total pekerja nasional berpotensi masuk ke kategori green job.
Jumlah tersebut jauh lebih besar dibanding tenaga kerja yang saat ini secara langsung berkontribusi terhadap pelestarian lingkungan, yakni sekitar 3,45 juta orang atau 2,5 persen.
Angka ini menunjukkan bahwa transisi energi bukan hanya agenda lingkungan.
Ia juga merupakan agenda ketenagakerjaan dan pembangunan ekonomi.
Green Job Akan Semakin Dibutuhkan
Menteri PPN/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy mengatakan perubahan menuju ekonomi hijau akan mengubah banyak aspek pekerjaan.
“Transformasi ini bukan sekadar mengubah tempat seseorang bekerja, melainkan juga mengubah bentuk pekerjaan, mengubah proses kerja, mengubah teknologi yang diterapkan, serta mengubah kompetensi yang dibutuhkan,” kata Rachmat.
Artinya, green job tidak hanya berarti pekerjaan yang secara langsung bergerak di bidang lingkungan.
Teknisi panel surya, insinyur energi, auditor energi, pekerja manufaktur komponen hijau, analis karbon, pengelola hutan, pekerja pertanian berkelanjutan, hingga tenaga di sektor pariwisata dan ekonomi pesisir dapat masuk dalam ekosistem pekerjaan hijau.
Target EBT Naik dari 20 Persen Menjadi 70 Persen
Pemerintah menargetkan porsi energi baru dan terbarukan dalam bauran energi primer meningkat dari sekitar 20 persen pada 2025 menjadi 70 persen pada 2045.
Artinya, Indonesia harus meningkatkan porsi EBT sekitar 50 poin persentase dalam dua dekade.
Perubahan sebesar itu tidak cukup hanya dengan membangun lebih banyak pembangkit energi terbarukan.
Indonesia juga membutuhkan tenaga kerja yang mampu merancang, memasang, mengoperasikan, memelihara, serta mengembangkan teknologi energi rendah karbon.
Kebutuhan tersebut akan muncul di banyak sektor sekaligus.
Mulai dari energi, manufaktur, kehutanan dan pertanian, pariwisata, hingga ekonomi pesisir dan kelautan.
Transisi Energi Juga Berarti Transisi Keterampilan
Salah satu tantangan terbesar adalah memastikan tenaga kerja Indonesia memiliki keterampilan yang sesuai dengan perubahan kebutuhan industri.
Pembangkit surya membutuhkan teknisi yang memahami sistem fotovoltaik.
Industri kendaraan listrik membutuhkan tenaga kerja dengan kemampuan berbeda dari industri otomotif konvensional.
Perusahaan yang menjalankan target dekarbonisasi membutuhkan tenaga ahli dalam pengukuran emisi, efisiensi energi, hingga manajemen keberlanjutan.
Sementara sektor pertanian dan kehutanan membutuhkan tenaga kerja yang memahami produktivitas sekaligus perlindungan ekosistem.
Karena itu, transisi hijau juga harus menjadi transisi keterampilan atau skill transition.
Pendidikan Vokasi Harus Bergerak Lebih Cepat
Bappenas menilai pengembangan green job harus diikuti oleh penguatan pendidikan vokasi dan pelatihan tenaga kerja.
Kurikulum tidak bisa hanya menyiapkan kebutuhan industri hari ini.
Lembaga pendidikan harus mampu memperkirakan pekerjaan apa yang akan berkembang dalam 10 hingga 20 tahun mendatang.
Program studi dan pelatihan di bidang energi terbarukan, teknik kelistrikan, baterai, ekonomi sirkular, pengelolaan limbah, teknologi lingkungan, hingga analisis keberlanjutan dapat semakin dibutuhkan.
Kerja sama antara pemerintah, dunia usaha, industri, dan lembaga pendidikan juga menjadi penting agar lulusan memiliki kompetensi yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan pasar.
Green Job Bukan Hanya Pekerjaan “Lingkungan”
Konsep green job juga perlu dipahami secara lebih luas.
Selama ini, pekerjaan hijau sering diasosiasikan hanya dengan profesi seperti petugas konservasi, pengelola sampah, atau pekerja di sektor energi terbarukan.
Padahal cakupannya bisa jauh lebih besar.
Seorang teknisi gedung yang meningkatkan efisiensi energi juga dapat menjadi bagian dari green job.
Demikian pula analis keuangan yang mengelola pembiayaan hijau, arsitek yang merancang bangunan rendah emisi, petani yang menerapkan praktik pertanian berkelanjutan, hingga pekerja logistik yang membantu menurunkan jejak karbon rantai pasok.
Inilah alasan Bappenas menilai kriteria, indikator, dan sistem pengukuran green job perlu terus diperbarui.
Peluang Besar, Tapi Risiko Ketimpangan Juga Ada
Peralihan menuju ekonomi hijau berpotensi menciptakan jutaan pekerjaan baru.
Namun transisi tersebut juga dapat mengurangi kebutuhan terhadap sebagian pekerjaan lama.
Ketika teknologi berubah, sejumlah profesi dapat mengalami penurunan permintaan.
Karena itu, pemerintah perlu memastikan pekerja dari sektor yang terdampak mendapatkan kesempatan untuk melakukan reskilling dan upskilling.
Transisi energi tidak boleh menghasilkan kelompok pekerja yang tertinggal.
Konsep just transition atau transisi yang berkeadilan menjadi penting agar manfaat ekonomi hijau dapat dinikmati secara lebih luas.
Industri Hijau Bisa Menjadi Mesin Pertumbuhan Baru
Jika dikelola dengan baik, pengembangan green job dapat menjadi salah satu sumber pertumbuhan ekonomi baru Indonesia.
Energi terbarukan membutuhkan investasi besar.
Begitu pula industri baterai, kendaraan listrik, ekonomi sirkular, bangunan hijau, pengelolaan limbah, hingga restorasi ekosistem.
Seluruh sektor tersebut membutuhkan tenaga kerja.
Semakin besar kemampuan Indonesia mengembangkan keahlian di dalam negeri, semakin besar pula peluang nilai tambah ekonomi tetap berada di Indonesia.
Sebaliknya, jika keterampilan tenaga kerja tidak siap, Indonesia berisiko bergantung pada tenaga ahli dan teknologi dari luar negeri.
49 Juta Peluang Tidak Akan Terwujud Otomatis
Angka 49,12 juta tenaga kerja potensial menunjukkan besarnya ruang bagi pengembangan green job.
Namun angka tersebut tidak berarti puluhan juta pekerjaan akan otomatis tersedia.
Peluang tersebut membutuhkan kebijakan industri, investasi, pendidikan, pelatihan, dan kepastian arah transisi energi.
Pemerintah juga perlu memastikan bahwa permintaan tenaga kerja benar-benar tumbuh seiring pembangunan sektor hijau.
Tanpa investasi yang cukup, target green job hanya akan menjadi potensi di atas kertas.
Menuju Generasi Pekerja Hijau Indonesia
Indonesia akan menghadapi dua transformasi besar sekaligus dalam dua dekade mendatang.
Pertama, transformasi energi menuju sumber yang lebih rendah karbon.
Kedua, transformasi dunia kerja yang mengikuti perubahan tersebut.
Keduanya tidak dapat dipisahkan.
Pembangkit energi terbarukan membutuhkan manusia yang mampu mengoperasikannya.
Industri hijau membutuhkan pekerja yang menguasai teknologi baru.
Dan ekonomi rendah karbon membutuhkan tenaga profesional yang memahami keberlanjutan.
Karena itu, keberhasilan target EBT 70 persen pada 2045 tidak hanya bergantung pada berapa banyak panel surya, turbin, atau pembangkit yang dibangun.
Ia juga bergantung pada seberapa siap jutaan tenaga kerja Indonesia untuk mengisi pekerjaan-pekerjaan baru yang lahir dari transisi hijau.
Jika dipersiapkan sejak sekarang, green job bukan hanya menjadi bagian dari solusi perubahan iklim.
Ia juga dapat menjadi salah satu sumber pekerjaan dan pertumbuhan ekonomi terbesar Indonesia di masa depan.




