Bisakah Kota Berfungsi Seperti Hutan? Mengenal Liuzhou Forest City di China

Bagaimana jika sebuah kota tidak hanya dipenuhi gedung, jalan, dan kendaraan, tetapi juga dirancang agar bekerja layaknya sebuah hutan?
Gagasan itulah yang ditawarkan melalui Liuzhou Forest City, sebuah konsep kota hijau di sepanjang Sungai Liujiang, China. Proyek yang dirancang oleh Stefano Boeri Architetti ini menghadirkan visi radikal tentang bagaimana kawasan perkotaan dapat dibangun dengan mengintegrasikan vegetasi langsung ke dalam arsitektur.
Alih-alih hanya menambahkan taman di sela-sela bangunan, konsep ini berusaha menjadikan bangunan itu sendiri sebagai bagian dari ekosistem hijau.
Kota dengan Puluhan Ribu Pohon
Liuzhou Forest City dirancang di atas kawasan seluas sekitar 175 hektare.
Dalam rencana awalnya, kota ini akan mengintegrasikan sekitar 40.000 pohon dan lebih dari satu juta tanaman pada berbagai jenis bangunan, mulai dari hunian, perkantoran, hotel, hingga sekolah.
Vegetasi tersebut tidak hanya ditempatkan di taman kota, tetapi juga pada fasad dan elemen bangunan.
Pendekatan ini membuat ruang hijau tidak lagi berdiri terpisah dari lingkungan binaan, melainkan menjadi bagian dari struktur kota itu sendiri.
Lebih dari Sekadar Kota dengan Banyak Taman
Konsep Liuzhou Forest City menarik karena tidak berhenti pada penambahan ruang terbuka hijau.
Vegetasi dirancang untuk menjalankan berbagai fungsi lingkungan sekaligus.
Pohon dan tanaman dapat memberikan keteduhan pada bangunan, membantu mengurangi paparan panas langsung, dan menciptakan lingkungan yang lebih nyaman.
Daun dan permukaan tanaman juga dapat membantu menangkap sebagian polutan udara dan partikel halus.
Selain itu, lapisan vegetasi berpotensi membantu meredam kebisingan dan menciptakan habitat bagi burung, serangga, serta organisme lain.
Potensi Menyerap Karbon
Dalam estimasi proyek, vegetasi yang direncanakan disebut berpotensi menyerap hampir 10.000 ton karbon dioksida per tahun.
Selain itu, tanaman diperkirakan dapat menghasilkan sekitar 900 ton oksigen setiap tahun.
Vegetasi juga diharapkan mampu menangkap partikel polusi udara dalam jumlah signifikan.
Meski angka-angka ini tetap bergantung pada pertumbuhan tanaman, kondisi iklim, jenis vegetasi, serta pemeliharaan jangka panjang, konsep tersebut menunjukkan bagaimana arsitektur dapat dirancang untuk memberikan fungsi ekologis tambahan.
Bangunan Hijau untuk Mengurangi Panas Kota
Salah satu tantangan kota modern adalah fenomena urban heat island, ketika suhu kawasan perkotaan menjadi lebih tinggi dibandingkan wilayah sekitarnya.
Beton, kaca, aspal, dan permukaan keras lainnya menyerap panas pada siang hari dan melepaskannya kembali secara perlahan.
Vegetasi dapat membantu mengurangi efek tersebut melalui keteduhan dan evapotranspirasi.
Jika diterapkan secara luas, bangunan yang dilapisi vegetasi dapat membantu mengurangi panas pada permukaan dan menciptakan mikroklimat yang lebih nyaman.
Namun manfaat ini tetap membutuhkan desain yang tepat, terutama terkait sistem irigasi, pemilihan tanaman, struktur bangunan, dan pemeliharaan.
Habitat Baru di Tengah Kota
Kepadatan kota sering kali membuat habitat alami terfragmentasi atau bahkan hilang.
Konsep forest city mencoba menjawab persoalan tersebut dengan menciptakan jaringan vegetasi vertikal.
Ketika berbagai jenis tumbuhan ditanam di bangunan, ruang tersebut berpotensi menjadi habitat tambahan bagi burung, serangga penyerbuk, dan organisme lainnya.
Dengan demikian, kota tidak hanya menjadi ruang bagi manusia, tetapi juga dapat menyediakan tempat bagi bentuk kehidupan lain.
Ini sejalan dengan gagasan bahwa pembangunan perkotaan tidak harus selalu berarti menghilangkan alam.
Energi Terbarukan dan Mobilitas Listrik
Konsep Liuzhou Forest City juga tidak hanya mengandalkan vegetasi.
Rencana kota ini mencakup penggunaan energi terbarukan serta dukungan terhadap mobilitas listrik.
Pendekatan ini penting karena penghijauan saja tidak cukup untuk menciptakan kota rendah karbon.
Bangunan tetap membutuhkan energi.
Transportasi tetap menghasilkan emisi jika masih bergantung pada bahan bakar fosil.
Karena itu, kota berkelanjutan perlu menggabungkan beberapa pendekatan sekaligus: efisiensi energi, energi bersih, transportasi rendah emisi, desain pasif, serta infrastruktur hijau.
Kota Tidak Harus Menjadi Lawan Alam
Selama ini, pertumbuhan kota sering identik dengan berkurangnya ruang hijau.
Hutan ditebang, tanah ditutup beton, dan habitat alami digantikan oleh bangunan.
Liuzhou Forest City menawarkan pendekatan berbeda.
Pertanyaannya bukan lagi hanya, “berapa banyak ruang yang akan dibangun?”
Tetapi juga, “berapa banyak fungsi ekologis yang dapat dimasukkan kembali ke dalam kota?”
Dengan perspektif tersebut, bangunan dapat menjadi media bagi vegetasi, atap dapat menjadi taman, dan fasad dapat menjadi ruang hidup.
Bukan Solusi Tanpa Tantangan
Meski konsepnya menarik, membangun kota dengan vegetasi dalam skala besar bukan perkara sederhana.
Tanaman membutuhkan air, nutrisi, ruang akar, dan perawatan.
Bangunan harus mampu menahan beban tambahan dari tanah, tanaman, serta air.
Sistem irigasi juga harus dirancang agar efisien dan tidak menimbulkan pemborosan.
Pemeliharaan pohon di ketinggian menjadi tantangan tersendiri, begitu pula risiko kerusakan struktur dan biaya operasional jangka panjang.
Karena itu, forest city tidak bisa sekadar dinilai dari visual yang hijau.
Keberhasilannya bergantung pada kemampuan mempertahankan vegetasi secara sehat selama puluhan tahun.
Masa Depan Kota Bisa Lebih Dekat dengan Alam
Pertumbuhan populasi perkotaan dan meningkatnya tekanan akibat perubahan iklim menuntut cara baru dalam merancang kota.
Teknologi pintar memang penting.
Namun kota masa depan mungkin juga membutuhkan sesuatu yang jauh lebih mendasar: alam yang dikembalikan ke dalam arsitektur.
Liuzhou Forest City menunjukkan bagaimana gedung, transportasi, energi, dan vegetasi dapat dirancang sebagai satu sistem.
Konsep ini membawa pesan yang kuat.
Kota tidak harus dibangun sebagai lawan dari alam.
Ia dapat dirancang untuk bekerja bersamanya.
Dan mungkin, masa depan kota berkelanjutan bukan hanya tentang membangun gedung yang lebih pintar, tetapi juga membangun kota yang mampu berfungsi sedikit lebih mirip seperti hutan.




