Sampah Plastik Jadi BBM: Petasol BRIN Mulai Diarahkan ke Tahap Komersialisasi

Sampah plastik yang selama ini menjadi salah satu persoalan lingkungan terbesar di Indonesia mulai dilirik sebagai sumber energi alternatif.
Teknologi pengolahan sampah plastik menjadi bahan bakar minyak atau BBM kini tidak lagi berhenti pada tahap eksperimen. Pemerintah mulai mempersiapkan jalan agar hasil pengolahan tersebut dapat masuk ke tahap komersialisasi.
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) tengah menata spesifikasi teknis serta regulasi agar bahan bakar hasil pengolahan plastik dapat dipasarkan secara komersial melalui skema business to business (B2B).
Salah satu produk yang menjadi perhatian adalah Petasol, bahan bakar hasil pengolahan sampah plastik yang dikembangkan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menggunakan teknologi pirolisis.
Satu Kilogram Plastik Bisa Menghasilkan 0,8 Liter Petasol
Salah satu angka yang menarik dari teknologi Petasol adalah tingkat konversinya.
Setiap 1 kilogram sampah plastik disebut dapat menghasilkan rata-rata sekitar 0,8 liter Petasol.
Artinya, apabila satu ton sampah plastik dapat diproses dengan karakteristik dan kondisi operasi yang sesuai, secara teoritis hasil cairannya dapat mencapai sekitar 800 liter.
Angka ini menunjukkan besarnya potensi energi yang selama ini tersimpan dalam limbah plastik.
Namun hasil aktual tentu dapat berbeda tergantung jenis plastik, tingkat kontaminasi, kadar air, teknologi pirolisis, efisiensi proses, serta kualitas produk bahan bakar yang ditargetkan.
Apa Itu Pirolisis Sampah Plastik?
Pirolisis merupakan proses pemanasan material pada temperatur tinggi dalam kondisi minim atau tanpa oksigen.
Berbeda dengan pembakaran terbuka, plastik dalam proses pirolisis tidak langsung dibakar menjadi abu.
Rantai polimer pada plastik dipecah menjadi molekul yang lebih kecil dan menghasilkan beberapa produk, antara lain uap hidrokarbon, gas, dan residu padat.
Uap tersebut kemudian didinginkan melalui proses kondensasi sehingga berubah menjadi cairan yang dapat diolah lebih lanjut menjadi bahan bakar.
Teknologi inilah yang menjadi dasar pengembangan Petasol.
Teknologi Sudah Direplikasi di Lebih dari 60 Lokasi
Pengembangan Petasol tidak lagi hanya dilakukan di laboratorium.
Teknologi pengolahan tersebut disebut telah direplikasi di lebih dari 60 lokasi di Indonesia.
Replikasi menjadi tahap penting karena teknologi pengolahan sampah perlu diuji dalam kondisi nyata dengan karakter sampah, operator, dan skala produksi yang berbeda-beda.
Jika performanya konsisten, pengembangan tersebut dapat menjadi dasar untuk meningkatkan teknologi menuju skala komersial.
Tantangan berikutnya bukan hanya memastikan mesin dapat mengubah plastik menjadi minyak, tetapi juga memastikan kualitas bahan bakarnya konsisten dan memenuhi standar keselamatan serta lingkungan.
Pemerintah Mulai Menyiapkan Regulasi
Komersialisasi bahan bakar alternatif tidak dapat dilakukan hanya karena suatu produk dapat menyala di mesin.
Bahan bakar membutuhkan standar.
Parameter seperti nilai kalor, densitas, viskositas, kandungan sulfur, titik nyala, kandungan air, hingga stabilitas produk harus diperhatikan.
Karena itu, langkah Kementerian ESDM untuk menata spesifikasi menjadi penting.
Regulasi juga diperlukan untuk menentukan bagaimana produk diproduksi, diuji, didistribusikan, dan digunakan.
Skema B2B dapat membuka peluang penggunaan Petasol untuk kebutuhan industri tertentu sebelum penerapannya diperluas.
Potensi Sampah Plastik Indonesia Sangat Besar
Indonesia menghasilkan sampah plastik dalam jumlah besar setiap tahun.
Jika sebagian sampah plastik yang sulit didaur ulang secara mekanis dapat diolah menjadi bahan bakar, teknologi pirolisis berpotensi membantu mengurangi tekanan terhadap tempat pemrosesan akhir.
Namun penting untuk menentukan jenis plastik mana yang benar-benar layak diarahkan ke proses tersebut.
Plastik bernilai tinggi yang masih dapat didaur ulang menjadi produk baru sebaiknya tetap masuk ke jalur recycling.
Pirolisis lebih relevan sebagai salah satu opsi untuk plastik residu atau plastik yang sulit didaur ulang secara konvensional.
Dengan pendekatan tersebut, teknologi tidak bersaing dengan industri daur ulang, tetapi menjadi pelengkap.
Jangan Sampai Semua Plastik Justru Dialihkan Menjadi BBM
Potensi ekonomi bahan bakar dari plastik juga membawa risiko jika tidak diatur dengan benar.
Jika harga produk bahan bakar terlalu menarik, dapat muncul insentif untuk memasukkan plastik yang sebenarnya masih mudah didaur ulang ke fasilitas pirolisis.
Padahal dalam prinsip ekonomi sirkular, material sebaiknya dipertahankan dalam bentuk material selama mungkin.
Hierarkinya tetap dimulai dari:
Kurangi → Gunakan kembali → Daur ulang → Pulihkan energi → Buang
Karena itu, waste-to-fuel idealnya tidak menjadi pembenaran untuk terus meningkatkan konsumsi plastik sekali pakai.
Bagaimana dengan Emisi Karbonnya?
Ini menjadi salah satu pertanyaan paling penting.
Bahan bakar hasil pirolisis plastik memang berasal dari sampah, tetapi sebagian besar plastik awalnya diproduksi dari minyak dan gas bumi.
Karbon di dalam plastik tersebut tetap merupakan karbon fosil.
Ketika bahan bakarnya akhirnya dibakar, karbon tersebut akan dilepaskan ke atmosfer sebagai CO₂.
Karena itu, istilah “BBM terbarukan” dalam konteks bahan bakar berbasis plastik perlu digunakan secara hati-hati dan disesuaikan dengan definisi regulasi yang berlaku.
Keunggulan lingkungan teknologi ini lebih tepat dinilai menggunakan pendekatan life-cycle assessment (LCA).
Perhitungannya perlu membandingkan berbagai skenario: apakah plastik akan masuk TPA, dibakar terbuka, didaur ulang, atau diolah melalui pirolisis.
Pengendalian Emisi Menjadi Kunci
Pirolisis bukan teknologi yang bebas risiko.
Jenis plastik yang masuk sangat menentukan produk dan emisi yang dihasilkan.
Plastik tertentu dapat mengandung klorin, aditif, pewarna, logam, dan berbagai senyawa lain.
Karena itu fasilitas komersial membutuhkan sistem pemilahan bahan baku, pengendalian temperatur, pembersihan gas, pengelolaan residu, dan pengawasan emisi.
Pengolahan plastik tidak boleh hanya dinilai dari berapa liter minyak yang dihasilkan.
Pertanyaan yang sama pentingnya adalah apa yang keluar dari cerobong, apa yang tersisa sebagai residu, dan bagaimana seluruh produk tersebut dikelola.
Peluang Ekonomi Sirkular
Jika dilakukan secara tepat, teknologi seperti Petasol dapat menjadi salah satu bagian dari ekonomi sirkular untuk menangani residu plastik.
Sampah yang sebelumnya tidak memiliki nilai ekonomi dapat menjadi bahan baku.
Fasilitas pengolahan dapat menciptakan lapangan kerja.
Volume residu menuju TPA dapat berkurang.
Sementara produk energi dapat dimanfaatkan oleh sektor industri tertentu.
Namun keberhasilannya membutuhkan ekosistem yang lengkap, mulai dari pemilahan sampah, pengumpulan, teknologi, standar produk, pembeli bahan bakar, hingga pengawasan lingkungan.
Dari 1 Ton Plastik, Potensinya Bisa Ratusan Liter BBM
Jika menggunakan rata-rata konversi yang disebutkan dalam pengembangan Petasol, gambaran sederhananya adalah:
1 kg plastik → sekitar 0,8 liter Petasol
Maka secara teoritis:
100 kg → sekitar 80 liter
dan
1 ton → sekitar 800 liter
Angka ini memperlihatkan mengapa teknologi tersebut menarik secara ekonomi.
Namun hitungan itu belum menggambarkan kelayakan bisnis secara keseluruhan.
Biaya pengumpulan, pemilahan, energi, tenaga kerja, pemeliharaan mesin, pengendalian emisi, pengolahan residu, serta pemurnian produk tetap harus diperhitungkan.
Bukan Sekadar Mengubah Sampah Menjadi BBM
Komersialisasi Petasol dapat menjadi perkembangan penting dalam pengelolaan sampah plastik Indonesia.
Namun keberhasilannya tidak cukup diukur dari jumlah liter bahan bakar yang dihasilkan.
Teknologi ini harus mampu menjawab tiga persoalan sekaligus:
Apakah benar-benar membantu mengurangi sampah?
Apakah layak secara ekonomi?
Dan apakah dampak lingkungan secara keseluruhan lebih baik dibandingkan alternatif lainnya?
Jika ketiganya dapat dijawab melalui pengujian, regulasi, dan data yang transparan, pirolisis plastik berpotensi menjadi salah satu teknologi untuk menangani residu plastik yang selama ini sulit dikelola.
Pada akhirnya, solusi persoalan plastik bukan hanya tentang mencari cara baru untuk membakar karbon yang terkandung di dalamnya.
Yang lebih penting adalah membangun sistem yang memastikan plastik bernilai tetap didaur ulang, penggunaan plastik baru ditekan, sementara residu yang benar-benar tidak dapat dimanfaatkan lagi ditangani melalui teknologi yang paling aman dan efisien.




