Kadar Fosfat Kali Jagir Melonjak, Sumber Air Baku Surabaya Terancam

Kondisi kualitas air di sepanjang Kali Jagir hingga Kali Mas, Surabaya, tengah menjadi sorotan setelah hasil pengujian menunjukkan lonjakan kadar fosfat yang cukup tinggi.
Investigasi yang dilakukan lembaga lingkungan Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton) menemukan kadar fosfat di Kali Jagir mencapai sekitar 0,6 miligram per liter (mg/L).
Angka tersebut sekitar tiga kali lebih tinggi dibandingkan ambang batas maksimal untuk air kelas II yang ditetapkan sebesar 0,2 mg/L dalam Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2021.
Temuan ini menunjukkan adanya tekanan serius terhadap ekosistem sungai akibat masuknya limbah industri dan domestik.
Fosfat Tiga Kali Melebihi Baku Mutu
Dalam ketentuan baku mutu air, badan air kelas II digunakan untuk berbagai keperluan seperti rekreasi air, budidaya ikan air tawar, peternakan, dan pengairan tanaman.
Ketika kadar fosfat mencapai 0,6 mg/L, kondisi tersebut mengindikasikan adanya akumulasi nutrisi anorganik secara berlebihan.
Secara ekologis, kelebihan nutrisi seperti fosfat dapat mengganggu keseimbangan perairan.
Gejala pencemaran di Kali Jagir juga terlihat secara kasat mata.
Warga dan peneliti menemukan gumpalan busa putih, bau amis menyengat, serta fenomena ikan mati massal yang dikenal masyarakat setempat sebagai munggut.
Musim Kemarau Memperparah Pencemaran
Kondisi sungai semakin buruk saat musim kemarau.
Debit air yang menurun menyebabkan kemampuan sungai untuk mengencerkan polutan ikut berkurang.
Dalam kondisi normal, volume air yang besar dapat membantu menurunkan konsentrasi sejumlah senyawa melalui proses pengenceran alami.
Namun ketika debit sungai menyusut, konsentrasi limbah dan bahan kimia di dalam air menjadi lebih pekat.
Akibatnya, efek pencemaran terhadap biota perairan juga menjadi lebih besar.
Mengapa Fosfat Berbahaya bagi Ekosistem Sungai?
Fosfat sebenarnya merupakan unsur hara yang dibutuhkan oleh tumbuhan.
Namun ketika jumlahnya terlalu tinggi, fosfat justru dapat memicu ledakan pertumbuhan alga dan tumbuhan air.
Fenomena ini dikenal sebagai eutrofikasi.
Tingginya fosfat dapat mempercepat pertumbuhan mikroalga dan gulma air seperti eceng gondok.
Pada tahap awal, sungai mungkin terlihat semakin hijau.
Namun masalah besar muncul ketika alga dan tumbuhan tersebut mati.
Oksigen di Dalam Air Bisa Anjlok
Ketika alga dan tumbuhan air mati, material organik tersebut akan diurai oleh bakteri.
Proses dekomposisi membutuhkan oksigen.
Jika biomassa yang membusuk sangat besar, bakteri dapat menghabiskan sebagian besar oksigen terlarut atau dissolved oxygen (DO) dalam air.
Akibatnya, kondisi sungai dapat berubah menjadi hipoksia, yaitu keadaan ketika kadar oksigen terlalu rendah untuk menopang kehidupan sebagian besar organisme air.
Ikan kemudian kesulitan bernapas.
Beberapa spesies dapat terlihat naik ke permukaan dalam kondisi lemah sebelum akhirnya mati.
Fenomena Ikan Mabuk dan Mati Massal
Peneliti Ecoton menjelaskan bahwa ikan seperti bader, rengkik, dan nila dapat mengalami stres berat ketika kadar oksigen dalam air turun drastis.
Ikan kemudian naik ke permukaan untuk mencari kondisi dengan oksigen lebih baik.
Fenomena inilah yang sering disebut warga sebagai ikan “mabuk”.
Dalam kondisi yang lebih parah, ikan dapat mati secara massal.
Bangkai ikan yang membusuk selanjutnya semakin memperburuk kualitas air sekaligus menimbulkan bau amis dan anyir di sepanjang sungai.
Warga Diimbau Tidak Mengonsumsi Ikan dari Sungai Tercemar
Salah satu persoalan yang muncul saat fenomena ikan mabuk terjadi adalah adanya warga yang menangkap ikan tersebut.
Sebagian ikan bahkan berpotensi dijual kembali.
Ecoton mengingatkan masyarakat untuk tidak mengonsumsi ikan yang berasal dari kondisi pencemaran seperti ini.
Ikan yang hidup di perairan tercemar dapat terpapar berbagai senyawa berbahaya.
Zat tertentu juga dapat terakumulasi dalam jaringan tubuh ikan.
Fenomena ini disebut bioakumulasi.
Jika ikan tersebut dikonsumsi manusia, polutan berpotensi masuk ke dalam tubuh melalui rantai makanan.
Risiko Kesehatan Tidak Hanya Jangka Pendek
Konsumsi biota dari perairan tercemar dapat membawa sejumlah risiko.
Dampak paling cepat dapat berupa gangguan pencernaan.
Namun paparan berulang terhadap polutan tertentu juga dapat meningkatkan risiko kesehatan jangka panjang, tergantung jenis dan konsentrasi zat yang masuk ke tubuh.
Karena itu, kematian ikan massal seharusnya tidak dipandang sebagai kesempatan untuk mendapatkan ikan dengan mudah.
Fenomena tersebut justru merupakan indikator bahwa kondisi ekologis sungai sedang bermasalah.
Kali Jagir Penting bagi Air Bersih Surabaya
Persoalan pencemaran Kali Jagir menjadi semakin penting karena sungai tersebut memiliki fungsi strategis bagi masyarakat Surabaya.
Aliran Kali Jagir menjadi salah satu sumber air baku yang dimanfaatkan untuk sistem penyediaan air bersih kota.
Artinya, penurunan kualitas air sungai tidak hanya berdampak terhadap ikan dan ekosistem.
Dampaknya juga dapat merambat ke sistem pengolahan air minum.
Semakin tercemar sumber air baku, semakin besar tantangan yang harus dihadapi instalasi pengolahan air.
Biaya Pengolahan Air Bisa Meningkat
Air baku dengan kandungan nutrisi dan bahan organik tinggi membutuhkan proses pengolahan yang lebih intensif.
Instalasi pengolahan air dapat membutuhkan dosis koagulan, desinfektan, atau bahan kimia lainnya dalam jumlah lebih besar.
Tahapan seperti koagulasi, flokulasi, sedimentasi, dan filtrasi juga harus bekerja lebih keras untuk menghasilkan air yang memenuhi standar.
Kondisi tersebut dapat meningkatkan biaya operasional.
Dengan kata lain, pencemaran sungai akhirnya tidak hanya menjadi persoalan lingkungan, tetapi juga dapat menimbulkan konsekuensi ekonomi.
Risiko Produk Samping Desinfeksi
Kandungan bahan organik tinggi dalam air baku juga perlu mendapatkan perhatian khusus.
Dalam proses pengolahan air, desinfeksi menggunakan klorin diperlukan untuk membunuh mikroorganisme berbahaya.
Namun bahan organik tertentu dapat bereaksi dengan klorin dan menghasilkan disinfection by-products atau produk samping desinfeksi.
Karena itu, semakin buruk kualitas air baku, semakin kompleks pula pengelolaan yang harus dilakukan agar air hasil pengolahan tetap aman.
Limbah Domestik dan Industri Harus Dikendalikan
Tingginya kadar fosfat dapat berasal dari berbagai sumber.
Limbah rumah tangga dapat mengandung fosfat dari deterjen, bahan pembersih, sisa makanan, dan aktivitas domestik lainnya.
Sementara kegiatan industri juga dapat menyumbang berbagai jenis nutrien dan bahan kimia jika air limbah tidak diolah dengan benar.
Karena itu, pengendalian pencemaran sungai tidak dapat hanya mengandalkan pembersihan permukaan.
Sumber pencemar harus ditemukan dan dihentikan.
Ecoton Dorong Penegakan Hukum
Ecoton mendesak Pemerintah Provinsi Jawa Timur dan instansi lingkungan hidup terkait untuk melakukan investigasi lebih mendalam terhadap pencemaran di Kali Jagir.
Pihak yang terbukti membuang air limbah tanpa pengolahan sesuai ketentuan diminta mendapatkan tindakan tegas.
Penegakan hukum menjadi penting karena pencemaran sungai tidak hanya merusak lingkungan, tetapi juga berpotensi mengancam kesehatan masyarakat dan sumber air bersih.
Pengawasan Real-Time Dinilai Diperlukan
Selain penegakan hukum, Ecoton juga mendorong penerapan sistem pengawasan modern.
Salah satu pendekatan yang diusulkan adalah pemasangan CCTV dan sensor kualitas air otomatis pada titik-titik pembuangan limbah industri.
Sensor dapat digunakan untuk memantau parameter kualitas air secara terus-menerus.
Jika terjadi perubahan ekstrem, sistem dapat memberikan peringatan lebih cepat.
Pendekatan seperti ini dapat mengurangi ketergantungan terhadap inspeksi manual yang hanya dilakukan pada waktu tertentu.
Sungai Tidak Boleh Menjadi Saluran Pembuangan
Kasus Kali Jagir menunjukkan bahwa sungai memiliki batas kemampuan dalam menerima pencemar.
Selama beban limbah masih berada di bawah daya tampung, ekosistem mungkin masih mampu melakukan proses pemulihan alami.
Namun ketika beban pencemar melebihi kapasitas tersebut, keseimbangan ekologis mulai runtuh.
Ledakan alga, kekurangan oksigen, ikan mati, bau menyengat, hingga meningkatnya biaya pengolahan air adalah bagian dari rangkaian masalah yang saling berkaitan.
Karena itu, sungai tidak dapat terus diperlakukan sebagai saluran pembuangan.
Melindungi Kali Jagir Berarti Melindungi Warga Surabaya
Pencemaran Kali Jagir bukan hanya persoalan lingkungan di satu titik sungai.
Masalah ini menyentuh ekosistem, kesehatan manusia, pangan, ekonomi, dan pasokan air bersih.
Karena itu, solusi yang dibutuhkan juga harus menyeluruh.
Pengawasan pembuangan limbah perlu diperketat.
Sumber pencemar harus diidentifikasi secara transparan.
Industri harus memastikan instalasi pengolahan air limbah berfungsi dengan benar.
Sementara masyarakat juga perlu mengurangi pembuangan sampah dan limbah domestik langsung ke sungai.
Ketika kadar fosfat sudah mencapai tiga kali batas baku mutu, pesan yang muncul cukup jelas:
Kali Jagir sedang mengalami tekanan ekologis serius.
Menjaga kualitas sungai berarti bukan hanya menyelamatkan ikan dan ekosistem perairan, tetapi juga menjaga salah satu sumber penting air bagi kehidupan masyarakat Surabaya.




