Berita

TPS 3R Rejo Lestari Kotabaru Ubah Sampah Jadi RDF untuk Bahan Bakar Industri Semen

Pengelolaan sampah berbasis masyarakat di Kabupaten Kotabaru, Kalimantan Selatan, menunjukkan bahwa limbah bisa memiliki nilai ekonomi ketika dikelola dengan sistem yang tepat.

Salah satu contohnya adalah TPS 3R Rejo Lestari di Desa Tegalrejo, Kecamatan Kelumpang Hilir. Fasilitas ini mengolah sampah melalui prinsip Reduce, Reuse, Recycle (3R) dan memanfaatkan sebagian residu terpilah menjadi Refuse Derived Fuel atau RDF.

RDF tersebut kemudian dimanfaatkan sebagai bahan bakar alternatif pada industri semen.

Dukungan Perusahaan Jadi Salah Satu Kunci

Perkembangan TPS 3R Rejo Lestari tidak lepas dari dukungan perusahaan di sekitar wilayah tersebut.

Salah satu pihak yang terlibat adalah PT ITP Plant 12 Tarjun.

Dukungan yang diberikan tidak hanya berupa sarana dan perlengkapan produksi, tetapi juga penyerapan RDF yang dihasilkan dari sampah terpilah.

Material RDF tersebut digunakan sebagai campuran dengan batu bara untuk kebutuhan bahan bakar di fasilitas produksi semen.

Sampah yang Tadinya Residu Jadi Punya Nilai

Pendekatan ini menunjukkan perubahan penting dalam cara melihat sampah.

Dalam sistem konvensional, sampah yang tidak tertangani biasanya langsung dibuang ke tempat pemrosesan akhir.

Namun melalui proses pemilahan dan pengolahan, sebagian material dapat diubah menjadi bahan bakar alternatif.

RDF umumnya berasal dari sampah dengan nilai kalor tertentu, misalnya plastik, kertas, tekstil, dan material kering lain yang tidak cocok untuk didaur ulang secara konvensional.

Setelah dipilah dan diolah, material tersebut dapat digunakan sebagai substitusi sebagian bahan bakar fosil di sektor industri tertentu.

Manfaat Ekonomi untuk Pengelola

Ketua TPS 3R Rejo Lestari, Mashudi, mengatakan dukungan perusahaan sangat membantu operasional fasilitas tersebut.

Selain dukungan sarana, TPS 3R juga menerima bantuan operasional sekitar Rp18 juta per tahun.

Dukungan tersebut membantu keberlanjutan kegiatan pengelolaan sampah, terutama untuk biaya operasional harian.

Namun masih ada kebutuhan pengembangan fasilitas.

Salah satunya adalah mesin pencacah sampah organik.

Peralatan ini dibutuhkan agar pengolahan sampah tidak hanya berfokus pada residu kering, tetapi juga pada fraksi organik.

Sampah Organik Juga Punya Potensi Besar

Dalam banyak wilayah, sampah organik masih menjadi salah satu komponen terbesar sampah rumah tangga.

Jika dibuang langsung ke TPA, sampah organik dapat membusuk dalam kondisi minim oksigen dan menghasilkan gas metana.

Karena itu, pengolahan di sumber atau TPS 3R menjadi sangat penting.

Sampah organik dapat diolah menjadi kompos, bahan baku budidaya maggot, atau produk lain tergantung karakteristik dan sistem yang tersedia.

Dengan adanya mesin pencacah, proses pengolahan dapat menjadi lebih cepat dan efisien.

Enam Tahun Berjalan, Raih Berbagai Penghargaan

TPS 3R Rejo Lestari telah beroperasi sekitar enam tahun.

Dalam perjalanannya, fasilitas ini disebut telah memperoleh berbagai penghargaan di tingkat provinsi maupun nasional.

Capaian tersebut menunjukkan bahwa pengelolaan sampah berbasis masyarakat dapat berkembang jika didukung kelembagaan, teknologi, pasar, dan kolaborasi.

Penghargaan tentu bukan tujuan utama, tetapi dapat menjadi indikator bahwa model yang dijalankan mendapat perhatian dan pengakuan lebih luas.

Masuk dalam Pengembangan Program Kampung Iklim

TPS 3R Rejo Lestari juga mendapat perhatian dalam pengembangan Program Kampung Iklim atau ProKlim.

Fasilitas tersebut disebut telah dikunjungi dalam rangka pengembangan ProKlim Lestari, termasuk rencana pembinaan terhadap sejumlah desa atau kelompok lain.

Model seperti ini penting karena pengalaman dari satu komunitas dapat direplikasi ke wilayah lain.

Jika sistem yang berhasil hanya berhenti di satu desa, dampaknya terbatas.

Namun jika pengetahuan, pola operasional, dan model bisnisnya dapat diterapkan di desa lain, manfaatnya bisa jauh lebih besar.

RDF Bisa Mengurangi Penggunaan Batu Bara

Dari sisi industri, penggunaan RDF dapat membantu mengurangi ketergantungan terhadap sebagian bahan bakar fosil.

Industri semen membutuhkan energi dalam jumlah besar untuk menjalankan proses produksi bersuhu tinggi.

Karena itu, substitusi sebagian batu bara dengan bahan bakar alternatif dapat menjadi salah satu strategi efisiensi sumber daya.

Namun manfaat lingkungannya tetap bergantung pada kualitas RDF, proses pembakaran, sistem pengendalian emisi, serta jenis material yang digunakan.

RDF bukan berarti seluruh sampah dapat langsung dibakar.

Pemilahan dan standar kualitas tetap sangat penting.

Tidak Semua Sampah Cocok Dijadikan RDF

Sampah yang masih memiliki nilai daur ulang sebaiknya tetap diprioritaskan untuk didaur ulang.

Kertas berkualitas baik, logam, botol tertentu, atau material lain yang masih dapat kembali menjadi bahan baku tidak seharusnya langsung diarahkan ke proses termal.

RDF lebih tepat ditempatkan sebagai salah satu opsi untuk fraksi residu tertentu setelah proses:

reduce → reuse → recycle

dilakukan terlebih dahulu.

Dengan pendekatan ini, penggunaan RDF dapat menjadi bagian dari sistem pengelolaan sampah yang lebih luas, bukan pengganti upaya pengurangan sampah.

Ekonomi Sirkular Membutuhkan Pasar

Salah satu persoalan utama pengelolaan sampah adalah tidak adanya pasar bagi material hasil olahan.

TPS dapat memilah sampah.

Masyarakat dapat mengumpulkan.

Namun jika tidak ada pihak yang membeli atau memanfaatkan material tersebut, proses akan sulit berkelanjutan.

Dalam kasus Rejo Lestari, keberadaan industri yang menyerap RDF menciptakan off-taker yang jelas.

Hubungan semacam ini sangat penting dalam ekonomi sirkular.

Material tidak hanya dipilah, tetapi benar-benar memiliki tujuan penggunaan berikutnya.

Kolaborasi Komunitas dan Industri

Model TPS 3R Rejo Lestari memperlihatkan bahwa penyelesaian persoalan sampah membutuhkan keterlibatan banyak pihak.

Masyarakat berperan melakukan pemilahan dan pengelolaan.

TPS mengolah material.

Industri menjadi pengguna sebagian hasil pengolahan.

Pemerintah berperan melalui kebijakan, pembinaan, dan infrastruktur.

Ketika seluruh mata rantai tersebut terhubung, sampah yang sebelumnya tidak bernilai dapat kembali masuk ke sistem ekonomi.

Dari Beban Lingkungan Menjadi Sumber Daya

Konsep utama yang terlihat dari TPS 3R Rejo Lestari adalah perubahan cara pandang terhadap sampah.

Sampah tidak selalu harus berakhir di TPA.

Sebagian dapat didaur ulang.

Sebagian dapat diolah menjadi kompos.

Sebagian dapat digunakan kembali.

Dan residu tertentu dapat diolah menjadi RDF.

Semakin banyak material yang berhasil dialihkan dari TPA, semakin kecil tekanan terhadap sistem pengelolaan sampah.

Tantangan Berikutnya: Keberlanjutan Operasional

Banyak program pengelolaan sampah berjalan baik di awal tetapi kesulitan bertahan dalam jangka panjang.

Karena itu, keberhasilan TPS 3R perlu ditopang oleh model operasional yang stabil.

Biaya tenaga kerja harus tersedia.

Peralatan harus dirawat.

Pasar material harus konsisten.

Volume sampah harus cukup.

Dan masyarakat harus terus melakukan pemilahan.

Dukungan perusahaan dapat membantu, tetapi kelembagaan TPS juga perlu terus diperkuat agar tidak terlalu bergantung pada satu sumber bantuan.

Data Pengelolaan Sampah Perlu Dicatat

Ke depan, dampak fasilitas seperti TPS 3R dapat semakin terlihat jika didukung pencatatan data yang baik.

Misalnya:

berapa ton sampah masuk setiap bulan?

Berapa persen yang menjadi RDF?

Berapa yang didaur ulang?

Berapa yang menjadi kompos?

Berapa yang masih menjadi residu?

Dan berapa besar pengurangan sampah ke TPA?

Data tersebut penting untuk mengukur keberhasilan secara objektif.

TPS 3R Bisa Menjadi Model Pengelolaan Sampah Desa

Pengalaman Rejo Lestari menunjukkan bahwa pengelolaan sampah tidak harus selalu bergantung pada fasilitas besar yang berada jauh dari sumber sampah.

Desa dapat memiliki sistem pengolahan sendiri.

Material yang bernilai dapat dipilah.

Sampah organik dapat diolah.

Residu tertentu dapat dimanfaatkan industri.

Dengan dukungan pasar dan kelembagaan yang tepat, model seperti ini dapat mengurangi ketergantungan terhadap pola kumpul–angkut–buang.

Sampah Bisa Menjadi Bagian dari Rantai Industri

Hubungan antara TPS 3R Rejo Lestari dan industri semen memperlihatkan salah satu bentuk simbiosis yang menarik.

Satu pihak memiliki residu.

Pihak lain membutuhkan bahan bakar alternatif.

Ketika kedua kebutuhan tersebut dapat dipertemukan dengan standar teknis dan lingkungan yang memadai, sampah dapat memiliki fungsi baru.

Inilah salah satu prinsip dasar industrial symbiosis dalam ekonomi sirkular.

Material sisa dari satu proses dapat menjadi input bagi proses lainnya.

Dari TPS 3R Menuju Ekonomi Sirkular Lokal

Keberhasilan TPS 3R Rejo Lestari menunjukkan bahwa ekonomi sirkular tidak selalu membutuhkan teknologi yang sangat kompleks.

Yang dibutuhkan adalah:

pemilahan yang baik, kelembagaan yang kuat, pasar yang jelas, dukungan masyarakat, serta kolaborasi dengan sektor industri.

Ketika komponen tersebut tersedia, sampah tidak lagi hanya menjadi beban lingkungan.

Ia dapat berubah menjadi material yang memiliki nilai ekonomi dan fungsi baru.

Pada akhirnya, tantangan pengelolaan sampah bukan hanya soal bagaimana mengangkut sampah lebih cepat.

Pertanyaan yang lebih penting adalah:

berapa banyak sampah yang bisa dicegah agar tidak pernah sampai ke TPA?

TPS 3R Rejo Lestari menunjukkan salah satu jawabannya: pilah dari sumber, manfaatkan kembali material yang bernilai, dan bangun pasar untuk residu yang masih dapat digunakan.

Konten Terkait

Back to top button
Data Sydney
Erek erek
Batavia SDK
BUMD ENERGI JAKARTA
JAKPRO