Berita

Mari Elka pertumbuhan ekonomi harus sejalan dengan aksi iklim

Integrasi Pertumbuhan Ekonomi dan Aksi Iklim sebagai Strategi Pembangunan Indonesia

Wakil Ketua Dewan Ekonomi Nasional dan Dewan Pembina World Resources Institute (WRI) Indonesia, Mari Elka Pangestu, menegaskan bahwa masa depan pembangunan ekonomi Indonesia harus berlandaskan pada prinsip keberlanjutan. Menurutnya, sudah tidak relevan lagi memperdebatkan pilihan antara pertumbuhan ekonomi tinggi dan perlindungan lingkungan.

Beliau menekankan perlunya mengadopsi strategi pertumbuhan hijau (green growth) yang mengintegrasikan kebijakan ekonomi makro dengan aksi iklim yang ambisius.

“Bagaimana kita bisa mencapai pertumbuhan 6 sampai 8 persen, tapi juga menjaga keberlanjutan? Isunya bukan lagi antara pembangunan dan perubahan iklim. Saya rasa kita sudah berjalan jauh dalam perdebatan itu.”

Fondasi Kebijakan untuk Ekonomi Rendah Karbon

Mari Elka Pangestu menyoroti kemajuan signifikan yang telah dicapai Indonesia sebagai fondasi untuk strategi ekonomi rendah karbon:

  • Penyusunan $2^{\text{nd}}$ Nationally Determined Contribution (NDC): Perencanaan kontribusi iklim nasional kedua menuju tahun 2035.
  • Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 110 Tahun 2025 tentang Nilai Ekonomi Karbon (NEK): Perpres ini diharapkan menjadi platform kuat untuk mekanisme perdagangan karbon dan membangun ekosistem nilai ekonomi karbon di Indonesia.
  • Integrasi Perencanaan Makro: Bappenas telah memasukkan strategi rendah karbon, lengkap dengan model dan target yang terhubung langsung dengan NDC, ke dalam perencanaan pembangunan makro.

Tantangan Utama: Implementasi Sektoral dan Keadilan Transisi

Meskipun kerangka makro sudah terbentuk, tantangan terbesar berada pada implementasi di tingkat sektoral:

  1. Peta Jalan Sektoral: Setiap sektor (energi, transportasi, industri, dsb.) harus memiliki peta jalan dekarbonisasi dan adaptasi yang jelas dan saling terhubung.
  2. Transisi Energi yang Adil (Just Transition): Transisi menuju energi bersih harus dilakukan secara adil dan terjangkau. Mari mengingatkan, jika subsidi energi dihapus tanpa memberikan akses alternatif yang terjangkau bagi masyarakat kecil, kebijakan tersebut tidak akan berhasil.

Kerangka Kerja Nasional untuk Menarik Investasi

Untuk mempercepat implementasi dan menarik dukungan internasional, Mari menyarankan pembentukan Country Platform for Climate and Development, yang menyatukan seluruh aspek kebijakan dalam satu kerangka kerja:

  • Sinkronisasi Kebijakan: Menyatukan kebijakan makro, sektoral, investasi, dan pembiayaan.
  • Kejelasan Permintaan: Saat meminta bantuan internasional, Indonesia harus secara jelas menguraikan:
    • Kebijakan yang akan diubah.
    • Institusi yang akan diperkuat.
    • Proyek yang akan dijalankan.
    • Metode pengukuran hasilnya.

Pendekatan terpadu ini akan meningkatkan kredibilitas Indonesia di mata donor dan investor internasional.

Peluang Ekonomi Baru

Strategi pertumbuhan hijau bukan hanya soal mengatasi krisis iklim (“Rumah kita sudah terbakar”), tetapi juga menciptakan peluang ekonomi:

  • Peningkatan Daya Saing: Daya saing global saat ini diukur dari keberlanjutan. Menjadi bagian dari rantai pasokan berkelanjutan adalah kunci agar produk Indonesia tetap bisa diekspor.
  • Penciptaan Lapangan Kerja Hijau: Transformasi ini membuka peluang investasi dan lapangan kerja di sektor energi terbarukan, transportasi bersih, dan inovasi teknologi ramah lingkungan.

Harapan Menjelang COP30: Mari berharap Indonesia dapat memamerkan kisah sukses transformasi hijau ini di Konferensi Perubahan Iklim PBB (COP30) di Brasil untuk mendapatkan pendanaan, dukungan teknologi, dan akses investasi internasional.

https://esgnow.republika.co.id/berita/t4j9xf416/mari-elka-pertumbuhan-ekonomi-harus-sejalan-dengan-aksi-iklim

Temukan peta dengan kualitas terbaik untuk gambar peta indonesia lengkap dengan provinsi.

Konten Terkait

Back to top button
Data Sydney
Erek erek
Batavia SDK
BUMD ENERGI JAKARTA
JAKPRO