Megaproyek Nikel di Kolaka: Ketika Ambisi Energi Hijau Berhadapan dengan Ruang Hidup Warga

Pengembangan industri nikel menjadi bagian penting dari ambisi Indonesia masuk ke rantai pasok kendaraan listrik dunia. Namun, di Kecamatan Pomalaa, Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara, ekspansi industri tersebut juga menghadirkan persoalan lingkungan dan sosial yang semakin terasa bagi masyarakat sekitar.
Salah satu kawasan yang menjadi sorotan adalah Indonesia Pomalaa Industrial Park (IPIP) dan fasilitas pengolahan PT Kolaka Nickel Indonesia. Kawasan ini dikembangkan sebagai bagian dari industri pengolahan nikel untuk mendukung produksi material baterai kendaraan listrik.
Di balik besarnya nilai investasi, perubahan lanskap di Pomalaa berlangsung cepat. Dalam tiga tahun terakhir, pembukaan lahan disebut telah melampaui 2.000 hektare. Aktivitas konstruksi dan pertambangan memunculkan kekhawatiran terhadap sungai, persawahan, kawasan hutan, serta wilayah pesisir yang selama ini menjadi sumber kehidupan masyarakat.
Sungai Oko-oko Mulai Tertekan
Salah satu perhatian terbesar berada di Daerah Aliran Sungai Oko-oko. Air sungai yang sebelumnya menjadi bagian penting kehidupan masyarakat kini dilaporkan mengalami peningkatan sedimentasi dan perubahan kualitas akibat aktivitas pembukaan lahan.
Sedimen dari kawasan yang terbuka dapat terbawa air hujan menuju sungai, kemudian bergerak hingga wilayah persawahan dan pesisir.
Kondisi tersebut menjadi masalah serius karena sungai tidak hanya berfungsi sebagai saluran air. Sungai juga mendukung pertanian, menyediakan sumber air, dan menjadi bagian dari ekosistem yang terhubung dengan laut.
Selain Sungai Oko-oko, kawasan industri juga bersinggungan dengan DAS Mekongga serta kawasan hutan lindung yang memiliki fungsi ekologis penting.
Banjir Lumpur Merendam Sawah dan Rumah Warga
Dampak lingkungan mulai terlihat pada akhir 2025. Banjir lumpur dilaporkan merendam sekitar 247 hektare persawahan di Desa Lamedai dan Oko-oko.
Sekitar 189 rumah petani juga terdampak.
Bagi masyarakat yang menggantungkan kehidupan dari pertanian, kejadian seperti ini bukan sekadar persoalan genangan air. Sawah yang tertutup sedimen dapat kehilangan produktivitas dan membutuhkan waktu serta biaya untuk dipulihkan.
Perubahan kondisi lingkungan tersebut menunjukkan betapa erat hubungan antara aktivitas industri di hulu dengan kehidupan masyarakat di bagian hilir.
Kawasan Industri Seluas 11 Ribu Hektare
Pengembangan IPIP dan fasilitas pengolahan nikel melibatkan sejumlah perusahaan besar dalam rantai pasok industri global. Kawasan industri yang direncanakan memiliki luas mencapai sekitar 11.000 hektare dan akan dilengkapi fasilitas pengolahan dengan teknologi High Pressure Acid Leaching (HPAL).
Teknologi tersebut digunakan untuk mengolah bijih nikel kadar rendah menjadi bahan yang dapat digunakan dalam industri baterai.
Kehadiran industri ini menjadi bagian dari strategi hilirisasi mineral Indonesia. Dengan mengolah nikel di dalam negeri, pemerintah berharap nilai tambah tidak berhenti pada ekspor bahan mentah.
Namun, pengembangan industri berskala besar membutuhkan air, energi, lahan, dan infrastruktur dalam jumlah signifikan. Karena itu, daya dukung lingkungan menjadi faktor yang perlu diperhitungkan sejak tahap perencanaan.
Perusahaan Lakukan Sejumlah Upaya Mitigasi
Pihak IPIP menyampaikan telah melakukan sejumlah langkah untuk menangani dampak yang muncul.
Di Desa Lamedai, perusahaan membangun tanggul di empat titik kawasan persawahan untuk membantu mengurangi risiko luapan Sungai Oko-oko. Saluran irigasi sepanjang kurang lebih 2,5 kilometer juga diperbaiki.
Perusahaan juga mengusulkan untuk menanggung sekitar 41 persen biaya penanganan Sungai Oko-oko, meskipun implementasinya masih membutuhkan kesepakatan dengan perusahaan lain yang beroperasi di wilayah tersebut.
Untuk mengurangi debu dari aktivitas konstruksi, perusahaan mengoperasikan 17 kendaraan penyiram air dan tujuh kendaraan penyapu jalan setiap hari.
Perusahaan menyatakan pemantauan kualitas udara juga dilakukan secara berkala dan hasilnya masih memenuhi standar lingkungan.
Lapangan Kerja Tidak Boleh Menggantikan Perlindungan Lingkungan
Dari sisi ekonomi, pengembangan kawasan industri diharapkan menciptakan lapangan kerja baru. IPIP dan Pemerintah Kabupaten Kolaka juga memiliki komitmen untuk memprioritaskan sekitar 70 persen tenaga kerja lokal.
Namun, keberhasilan industri tidak cukup hanya diukur dari jumlah investasi atau lapangan kerja yang tercipta.
Masyarakat membutuhkan jaminan bahwa sungai tetap dapat digunakan, sawah tetap produktif, kualitas udara tetap sehat, dan sumber air tidak mengalami kerusakan dalam jangka panjang.
Karena itu, keterbukaan informasi lingkungan menjadi sangat penting. Masyarakat perlu mengetahui kondisi kualitas air, udara, kawasan hutan, serta rencana pengelolaan dampak yang dilakukan perusahaan.
Paradoks di Balik Kendaraan Listrik
Kasus Pomalaa memperlihatkan sebuah paradoks dalam transisi energi global.
Kendaraan listrik dikembangkan untuk membantu mengurangi penggunaan bahan bakar fosil dan menekan emisi. Namun, baterai kendaraan listrik membutuhkan mineral seperti nikel yang proses penambangannya dapat memberikan tekanan besar terhadap lingkungan apabila tidak dikelola secara bertanggung jawab.
Artinya, teknologi rendah karbon tidak otomatis menjadi ramah lingkungan jika rantai pasok bahan bakunya menimbulkan kerusakan ekosistem.
Transisi energi yang benar-benar berkelanjutan perlu memperhitungkan seluruh siklus produksinya, mulai dari tambang, pengolahan mineral, produksi baterai, penggunaan kendaraan, hingga daur ulang.
Pomalaa kini berada di persimpangan antara ambisi menjadi bagian penting industri baterai dunia dan kebutuhan mempertahankan ruang hidup masyarakat. Hilirisasi nikel dapat memberikan manfaat ekonomi besar, tetapi keberhasilannya tidak boleh dibayar dengan rusaknya sungai, hilangnya sawah produktif, dan menurunnya kualitas lingkungan.
Energi hijau seharusnya tidak hanya hijau ketika digunakan oleh konsumen. Seluruh proses produksinya juga harus menghormati alam dan masyarakat yang hidup di sekitar sumber daya tersebut.
Sumber: Ekuatorial — Megaproyek Nikel Meredupkan Nadi Kehidupan di Jantung Kolaka Ekuatorial
https://www.ekuatorial.com/2026/10/megaproyek-nikel-meredupkan-nadi-kehidupan-di-jantung-kolaka/



