Australia Punya Banyak Proyek Energi Terbarukan, tetapi Terlalu Sedikit yang Masuk Tahap Konstruksi

Australia memiliki portofolio proyek energi terbarukan dan penyimpanan baterai yang cukup besar untuk mendukung target energi bersih 2030. Namun, tantangan utamanya bukan lagi kekurangan proyek, melainkan terlalu sedikit proyek yang benar-benar sudah masuk tahap konstruksi.
Institute for Energy Economics and Financial Analysis (IEEFA) meluncurkan Australian Renewable Energy Scorecard, sebuah alat interaktif yang memberikan gambaran kuartalan mengenai perkembangan proyek energi terbarukan di Australia.
Scorecard tersebut menunjukkan bahwa proyek yang masih berada dalam tahap pengembangan sebenarnya cukup banyak. Jika lebih banyak proyek dapat segera masuk ke tahap konstruksi, Australia berpotensi membuka manfaat ekonomi yang signifikan.
IEEFA memperkirakan percepatan proyek dapat membuka sekitar 127.000 job-years atau akumulasi tahun kerja, sekaligus mendorong investasi sekitar AUD44 miliar.
Temuan ini menunjukkan bahwa hambatan transisi energi tidak selalu berada pada minimnya rencana. Tantangan justru sering muncul pada proses perizinan, pembiayaan, koneksi jaringan, kepastian investasi, dan kemampuan membawa proyek dari tahap perencanaan menuju pembangunan nyata.
LNG Australia Jadi Sorotan
Selain perkembangan energi terbarukan, IEEFA juga menyoroti perdagangan LNG Australia.
Perusahaan-perusahaan China diperkirakan telah memperoleh setidaknya AUD1,6 miliar dari keuntungan arbitrase sejak 2021 melalui penjualan kembali LNG Australia ke pasar lain.
Pada 2026, nilai keuntungan tersebut diperkirakan dapat jauh melampaui tahun-tahun sebelumnya.
Fenomena ini menjadi perhatian karena dua pembeli LNG terbesar Australia, yaitu Jepang dan China, sama-sama menjual kembali sebagian volume gas yang mereka beli.
Kondisi tersebut menimbulkan pertanyaan mengenai prioritas pemanfaatan sumber gas domestik Australia. IEEFA menilai ada alasan kuat untuk memastikan sumber gas berbiaya rendah juga tersedia bagi kebutuhan domestik, bukan hanya dialirkan ke pasar ekspor.
Situasi ini menunjukkan bahwa kebijakan energi tidak hanya berkaitan dengan produksi, tetapi juga dengan siapa yang mendapatkan manfaat dari sumber daya tersebut.
Tarif Berbagi Surya Bisa Bantu Rumah Tangga Hemat
IEEFA juga membahas peluang dari solar sharer tariffs, yaitu skema tarif listrik yang memberikan insentif kepada rumah tangga untuk menggunakan listrik secara lebih fleksibel ketika produksi tenaga surya sedang tinggi.
Skema ini dapat mendorong penggunaan peralatan listrik seperti pemanas air dan pendingin ruangan pada waktu ketika pasokan energi surya melimpah.
Bagi rumah tangga yang memiliki kendaraan listrik, tarif semacam ini diperkirakan dapat memberikan penghematan tahunan sekitar AUD734 hingga AUD2.257.
Pendekatan tersebut juga membuka peluang penggunaan baterai di tempat-tempat yang sulit memasang PLTS atap, seperti apartemen. Salah satu contohnya adalah penggunaan baterai plug-in yang dapat diisi ketika listrik murah atau pasokan tenaga surya tinggi, kemudian digunakan kembali saat dibutuhkan.
Tantangan Transisi Energi Bukan Hanya Menambah Pembangkit
Perkembangan di Australia memberikan gambaran bahwa transisi energi memiliki banyak dimensi.
Pembangunan pembangkit energi terbarukan membutuhkan percepatan konstruksi dan jaringan. Pasar gas membutuhkan tata kelola yang mampu menjaga kepentingan domestik. Sementara di tingkat rumah tangga, desain tarif listrik juga dapat membantu masyarakat mendapatkan manfaat langsung dari energi bersih.
Transisi energi yang berhasil bukan hanya soal berapa banyak proyek yang diumumkan. Ukuran sebenarnya adalah berapa banyak proyek yang berhasil dibangun, berapa besar manfaat yang diterima masyarakat, dan seberapa cepat sistem energi menjadi lebih bersih, terjangkau, dan tangguh.
Sumber: IEEFA — September 2026 Update
https://connect.ieefa.org/september2026-update-ieefas-recent-research




