Berita

Pemerintah Siapkan Insentif Teknologi Penangkap Karbon, Industri Didorong Percepat Dekarbonisasi

Pemerintah Indonesia tengah menyiapkan skema insentif bagi perusahaan yang menerapkan teknologi penangkapan karbon sebagai bagian dari upaya mempercepat dekarbonisasi sektor industri. Teknologi Carbon Capture and Utilization atau CCU yang telah diuji coba di PT Petrokimia Gresik dilaporkan mampu menurunkan emisi karbon dioksida lebih dari 95 persen dalam uji coba selama enam bulan. Selain mengurangi emisi, teknologi tersebut berpotensi mengubah karbon yang ditangkap menjadi produk bernilai ekonomi berupa soda abu atau soda ash, sehingga penerapannya dinilai dapat memberikan manfaat lingkungan sekaligus mendukung pengurangan ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan baku industri.

Utusan Khusus Presiden Bidang Iklim dan Energi Hashim Djojohadikusumo mengatakan pemerintah sedang menyusun skema insentif untuk mendorong perusahaan menerapkan teknologi penangkap karbon. Teknologi tersebut telah digunakan dalam proyek percontohan di Petrokimia Gresik dan dinilai mempunyai peluang untuk dikembangkan pada sektor industri lainnya, termasuk pembangkit listrik tenaga uap berbahan bakar batu bara.

Hashim menyampaikan hal tersebut dalam Investor Daily Summit 2026 di Jakarta pada Kamis, 15 Oktober 2026. Menurutnya, teknologi yang digunakan dalam pengembangan tersebut berasal antara lain dari Jepang dan Taiwan. Pemerintah melihat penerapan teknologi penangkapan karbon sebagai salah satu pilihan untuk mengurangi emisi dari kegiatan industri yang masih menghasilkan karbon dioksida dalam jumlah besar.

Pengembangan teknologi ini juga ditempatkan dalam konteks yang lebih luas, yakni upaya Indonesia mempercepat dekarbonisasi sektor manufaktur. Pemerintah menargetkan sektor manufaktur dapat mencapai emisi nol bersih atau net zero emission pada 2050, satu dekade lebih cepat dibandingkan target nasional pada 2060.

Uji Coba di Petrokimia Gresik Turunkan Emisi Lebih dari 95 Persen

Penerapan teknologi Carbon Capture and Utilization sebelumnya telah diuji coba di PT Petrokimia Gresik melalui kerja sama dengan penyedia teknologi dari Jepang dan Taiwan. Berdasarkan laporan Kementerian Perindustrian pada November 2025, uji coba selama enam bulan menunjukkan teknologi tersebut mampu menurunkan emisi karbon dioksida lebih dari 95 persen.

Hasil uji coba tersebut telah diverifikasi oleh Sucofindo sebagai surveyor independen. Temuan ini menjadi salah satu dasar bagi pemerintah untuk melihat peluang pengembangan teknologi penangkapan dan pemanfaatan karbon pada skala yang lebih luas di sektor industri.

Berbeda dengan pendekatan yang hanya menangkap karbon untuk kemudian disimpan, teknologi CCU berusaha memanfaatkan karbon dioksida yang berhasil ditangkap sebagai bahan untuk menghasilkan produk lain. Dalam proyek yang dikembangkan di Petrokimia Gresik, salah satu produk yang menjadi perhatian adalah soda abu atau soda ash.

Pendekatan tersebut memberikan dimensi ekonomi pada teknologi dekarbonisasi. Karbon yang sebelumnya hanya dipandang sebagai emisi yang harus dikurangi berpotensi diolah menjadi bahan baku yang mempunyai nilai bagi sektor industri.

Karbon Ditangkap untuk Menghasilkan Soda Abu

Soda abu merupakan salah satu bahan baku yang digunakan oleh berbagai industri. Indonesia selama ini masih mengandalkan impor untuk memenuhi kebutuhan komoditas tersebut, sehingga kemampuan memproduksinya dari proses pemanfaatan karbon dapat memberikan manfaat tambahan apabila teknologi tersebut terbukti layak secara teknis dan ekonomis dalam skala industri.

Dalam pemberitaan Bisnis.com, teknologi yang diuji coba di Petrokimia Gresik diproyeksikan mempunyai potensi menghasilkan soda abu hingga satu juta ton per tahun. Kementerian Perindustrian juga menyebut terdapat potensi tambahan pendapatan bagi perusahaan sekitar US$200 juta per tahun.

Angka tersebut masih merupakan proyeksi potensi pengembangan teknologi, sehingga perlu dibedakan dari kapasitas produksi yang telah terealisasi. Uji coba di Petrokimia Gresik menunjukkan kemampuan teknologi dalam menangkap karbon, sedangkan peningkatan menuju produksi soda abu dalam skala besar membutuhkan pengembangan dan perhitungan lebih lanjut.

Meski demikian, peluang menghasilkan produk bernilai ekonomi menjadi faktor penting dalam mendorong penerapan teknologi dekarbonisasi. Selama ini, investasi pengurangan emisi sering dipandang perusahaan sebagai tambahan biaya. Apabila karbon yang ditangkap dapat dimanfaatkan menjadi produk komersial, sebagian biaya penerapan teknologi berpotensi diimbangi oleh nilai ekonomi yang dihasilkan.

Pemerintah Siapkan Insentif untuk Industri

Pemerintah melihat biaya investasi sebagai salah satu faktor penting yang menentukan kecepatan adopsi teknologi penangkapan karbon. Karena itu, skema insentif sedang disiapkan bagi perusahaan yang bersedia menerapkan teknologi tersebut.

Insentif diharapkan dapat membantu memperkecil hambatan investasi, terutama pada tahap awal ketika biaya teknologi dan risiko penerapannya masih menjadi pertimbangan perusahaan. Pemerintah juga ingin mendorong semakin banyak industri melakukan dekarbonisasi tanpa kehilangan daya saing.

Skema insentif menjadi relevan karena penerapan teknologi baru pada fasilitas industri tidak hanya membutuhkan pembelian perangkat. Perusahaan juga harus mempertimbangkan integrasi teknologi dengan proses produksi yang sudah berjalan, kebutuhan energi, biaya operasional, pemeliharaan, kualitas produk hasil pemanfaatan karbon, hingga kepastian pasar bagi produk tersebut.

Karena itu, keberhasilan teknologi penangkap karbon tidak hanya ditentukan oleh kemampuan teknis menangkap COâ‚‚. Kelayakan ekonominya juga akan menentukan apakah teknologi tersebut dapat berkembang dari proyek percontohan menjadi penerapan komersial.

Tidak Hanya untuk Industri Pupuk

Potensi penerapan CCU tidak terbatas pada industri pupuk. Teknologi tersebut dinilai dapat dikembangkan pada sektor lain yang menghasilkan emisi karbon dioksida dalam jumlah besar, termasuk industri semen, kimia, baja, dan keramik.

Sektor-sektor tersebut menjadi perhatian karena proses produksinya mempunyai karakteristik emisi yang berbeda dibandingkan kegiatan ekonomi biasa. Pada beberapa industri, emisi tidak hanya berasal dari energi yang digunakan, tetapi juga dari proses produksi itu sendiri.

Industri semen menjadi salah satu contohnya. Produksi semen menghasilkan emisi dari penggunaan energi sekaligus proses kimia ketika bahan baku tertentu diproses. Kondisi semacam ini membuat dekarbonisasi industri berat menjadi lebih kompleks dibandingkan sektor yang dapat mengurangi emisi terutama dengan mengganti sumber listriknya.

Teknologi penangkapan karbon karena itu dipandang sebagai salah satu opsi untuk menangani emisi yang sulit dihilangkan hanya melalui efisiensi energi atau elektrifikasi. Namun penerapannya tetap membutuhkan penyesuaian berdasarkan karakteristik masing-masing industri.

Teknologi Juga Dipertimbangkan untuk PLTU

Pemerintah juga melihat peluang penggunaan teknologi penangkap karbon pada pembangkit listrik tenaga uap berbahan bakar batu bara. Hashim menyampaikan bahwa teknologi tersebut berpotensi digunakan pada pembangkit yang masih beroperasi untuk mengurangi emisi yang dihasilkan.

Dalam pernyataannya, Hashim bahkan menyebut teknologi tersebut dapat membuka kemungkinan pembangkit berbahan bakar batu bara tetap beroperasi dengan memanfaatkan sistem penangkapan karbon. Pernyataan tersebut merupakan pandangan pemerintah mengenai potensi teknologi dan belum berarti seluruh PLTU dapat secara otomatis terus beroperasi hanya dengan memasang perangkat penangkap karbon.

Penerapan pada pembangkit listrik dalam skala luas akan sangat bergantung pada kelayakan teknis dan ekonominya. Setiap pembangkit mempunyai usia, teknologi, kapasitas, efisiensi, konfigurasi, dan karakteristik emisi yang berbeda, sehingga kebutuhan investasi untuk mengintegrasikan teknologi penangkap karbon juga dapat berbeda.

Sumber Bisnis.com juga menyebut teknologi tersebut berpotensi digunakan untuk mengurangi polusi dari pembakaran batu bara di PLTU dan industri yang menggunakan boiler. Namun manfaat aktualnya tetap perlu dinilai berdasarkan jenis teknologi yang digunakan dan polutan apa yang dapat ditangani oleh sistem tersebut.

CCU Menjadi Bagian Peta Jalan Dekarbonisasi Industri

Pengembangan teknologi penangkap karbon merupakan bagian dari peta jalan dekarbonisasi sektor manufaktur yang disusun Kementerian Perindustrian. Pemerintah menargetkan sektor manufaktur mencapai net zero emission pada 2050, sementara target nasional berada pada 2060.

Percepatan target sektor manufaktur menunjukkan besarnya tantangan yang dihadapi industri dalam beberapa dekade mendatang. Perusahaan tidak hanya dituntut meningkatkan produksi dan daya saing, tetapi juga mengurangi intensitas emisi dari proses industrinya.

Untuk mencapai target tersebut, teknologi CCU bukan satu-satunya instrumen yang dapat digunakan. Namun teknologi penangkapan dan pemanfaatan karbon dapat menjadi salah satu pilihan, terutama bagi industri dengan emisi yang sulit dihindari melalui perubahan sumber energi saja.

Keberhasilan proyek percontohan seperti yang dilakukan di Petrokimia Gresik karena itu mempunyai arti penting. Proyek tersebut dapat memberikan data mengenai kemampuan teknologi, biaya, kebutuhan energi, kualitas produk hasil pemanfaatan karbon, serta berbagai persoalan operasional sebelum penerapan diperluas.

Dekarbonisasi Berkaitan dengan Daya Saing Industri

Upaya mengurangi emisi industri juga semakin berkaitan dengan perdagangan internasional. Produk yang masuk ke pasar tertentu mulai menghadapi persyaratan karbon yang lebih ketat, sehingga intensitas emisi dalam proses produksi dapat memengaruhi daya saing perusahaan.

Salah satu perkembangan yang menjadi perhatian adalah penerapan Carbon Border Adjustment Mechanism atau CBAM oleh Uni Eropa pada 2026. Mekanisme tersebut memperkuat tekanan bagi industri beremisi tinggi untuk mulai memperhitungkan kandungan karbon produknya ketika memasuki pasar Eropa.

Dalam konteks tersebut, investasi dekarbonisasi tidak lagi hanya berkaitan dengan kepatuhan terhadap kebijakan lingkungan di dalam negeri. Kemampuan menurunkan emisi dapat menjadi bagian dari strategi perusahaan mempertahankan akses terhadap pasar ekspor.

Chief Executive Officer Institute for Essential Services Reform (IESR) Fabby Tumiwa menilai dekarbonisasi industri tidak hanya perlu dipandang sebagai tantangan, tetapi juga sebagai peluang bagi Indonesia untuk memperkuat industri rendah karbon. Transformasi tersebut dapat menjadi bagian dari strategi meningkatkan daya saing industri nasional ketika pasar global semakin memperhatikan jejak emisi produk.

Dari Biaya Lingkungan Menjadi Produk Bernilai Ekonomi

Salah satu daya tarik utama teknologi CCU adalah kemungkinan mengubah pendekatan terhadap karbon yang ditangkap. Jika karbon hanya ditangkap dan kemudian membutuhkan pengelolaan tambahan, seluruh proses terutama menghasilkan biaya untuk mengurangi emisi.

CCU mencoba menambahkan tahap pemanfaatan sehingga karbon dapat menjadi bagian dari proses produksi baru. Dalam kasus Petrokimia Gresik, karbon dioksida diarahkan untuk menghasilkan soda abu yang dibutuhkan industri domestik.

Apabila pendekatan tersebut dapat dilakukan secara komersial, manfaatnya dapat muncul dari dua arah. Perusahaan berpotensi mengurangi emisi sekaligus memperoleh produk yang mempunyai nilai ekonomi, sementara Indonesia berpeluang mengurangi ketergantungan terhadap impor soda abu.

Namun manfaat tersebut tetap harus dibuktikan pada skala industri. Kapasitas proyek percontohan dan fasilitas komersial mempunyai perbedaan yang besar, baik dari sisi kebutuhan modal, energi, bahan baku, pengoperasian, maupun pasar.

Karena itu, keberhasilan menurunkan emisi lebih dari 95 persen dalam uji coba merupakan perkembangan penting, tetapi belum menjadi satu-satunya ukuran keberhasilan komersialisasi teknologi.

Insentif Perlu Mendorong Teknologi yang Benar-benar Efektif

Rencana pemerintah memberikan insentif juga membuat evaluasi teknologi menjadi semakin penting. Dukungan pemerintah idealnya diarahkan pada penerapan yang mampu menunjukkan pengurangan emisi secara terukur dan memberikan manfaat ekonomi maupun industri yang jelas.

Pengukuran menjadi faktor penting karena teknologi penangkapan karbon sendiri membutuhkan energi untuk beroperasi. Untuk mengetahui manfaat bersihnya, keseluruhan proses perlu diperhitungkan, mulai dari karbon yang berhasil ditangkap hingga energi dan sumber daya yang digunakan untuk menjalankan sistem.

Jika karbon kemudian dimanfaatkan menjadi produk, siklus hidup produk tersebut juga perlu diperhatikan. Tujuannya agar klaim pengurangan emisi mencerminkan manfaat yang benar-benar terjadi, bukan hanya perpindahan emisi dari satu bagian proses ke bagian lainnya.

Dengan pendekatan seperti itu, kebijakan insentif dapat mendorong inovasi sekaligus memastikan dukungan pemerintah menghasilkan penurunan emisi yang dapat diverifikasi.

Industri Rendah Karbon Menjadi Bagian dari Persaingan Masa Depan

Perubahan kebijakan iklim global membuat dekarbonisasi semakin dekat dengan persoalan ekonomi. Industri dengan intensitas karbon tinggi berpotensi menghadapi tekanan yang semakin besar ketika negara tujuan ekspor memperketat standar lingkungan.

Sebaliknya, perusahaan yang mampu menghasilkan produk dengan emisi lebih rendah dapat memperoleh posisi yang lebih baik ketika konsumen dan pasar mulai memperhitungkan jejak karbon.

Kondisi tersebut membuat investasi teknologi hijau tidak lagi dapat dilihat hanya sebagai beban kepatuhan. Efisiensi energi, energi terbarukan, elektrifikasi, penggunaan material rendah karbon, ekonomi sirkular, serta teknologi penangkapan karbon dapat menjadi bagian dari strategi mempertahankan daya saing industri.

Bagi Indonesia, tantangannya adalah memastikan proses dekarbonisasi tidak hanya dilakukan dengan membeli teknologi dari luar negeri. Pengembangan kemampuan teknologi, rekayasa, manufaktur, operasi, dan pemeliharaan di dalam negeri juga penting agar transformasi industri menghasilkan nilai tambah ekonomi nasional.

Petrokimia Gresik Menjadi Laboratorium Penting

Proyek percontohan di Petrokimia Gresik mempunyai posisi penting karena memberikan kesempatan untuk menguji teknologi CCU dalam kondisi industri yang nyata. Data dari proyek tersebut dapat menjadi dasar untuk menentukan apakah teknologi layak dikembangkan ke skala yang lebih besar.

Keberhasilan teknis dalam menangkap karbon harus dilanjutkan dengan evaluasi keekonomian. Pemerintah dan industri perlu mengetahui berapa biaya investasi yang dibutuhkan, berapa biaya operasional per ton karbon yang ditangkap, berapa energi yang digunakan, berapa kapasitas produk yang dapat dihasilkan, serta bagaimana harga produk tersebut dibandingkan dengan produk impor.

Jika keseluruhan perhitungan menunjukkan hasil yang kompetitif, teknologi dapat mempunyai peluang lebih besar untuk diperluas. Sebaliknya, jika biaya masih terlalu tinggi, insentif dan pengembangan teknologi dapat diarahkan untuk menurunkan hambatan tersebut.

Pendekatan berbasis data seperti ini penting agar perluasan teknologi tidak hanya didorong oleh keberhasilan demonstrasi, tetapi juga oleh kelayakan penerapannya dalam jangka panjang.

Penangkapan Karbon Bukan Pengganti Seluruh Strategi Dekarbonisasi

Meskipun mempunyai potensi besar, teknologi penangkapan karbon sebaiknya ditempatkan sebagai salah satu bagian dari strategi dekarbonisasi industri, bukan satu-satunya solusi.

Industri tetap perlu meningkatkan efisiensi energi, mengurangi pemborosan, menggunakan energi terbarukan ketika memungkinkan, memperbaiki proses produksi, serta mengembangkan material dan teknologi yang menghasilkan emisi lebih rendah.

CCU dapat mempunyai peran penting terutama ketika terdapat emisi proses yang sulit dihilangkan dengan pendekatan lain. Kombinasi berbagai teknologi dan kebijakan akan menentukan seberapa cepat sektor manufaktur dapat bergerak menuju target emisi nol bersih 2050.

Hal tersebut juga berarti insentif pemerintah perlu dirancang dalam kerangka dekarbonisasi yang lebih luas. Tujuannya bukan sekadar meningkatkan jumlah fasilitas penangkap karbon, tetapi mencapai penurunan emisi industri secara nyata dan terukur.

Dari Proyek Percontohan Menuju Skala Industri

Hasil uji coba Petrokimia Gresik memberikan sinyal bahwa teknologi CCU mempunyai peluang untuk dikembangkan lebih lanjut di Indonesia. Penurunan emisi karbon dioksida lebih dari 95 persen yang dilaporkan dari uji coba selama enam bulan menjadi salah satu hasil yang akan diperhatikan ketika pemerintah dan industri mengevaluasi langkah berikutnya.

Potensi produksi soda abu hingga satu juta ton per tahun juga memberikan dimensi ekonomi yang menarik karena Indonesia masih membutuhkan komoditas tersebut dari luar negeri. Jika teknologi dapat dikembangkan secara kompetitif, manfaat yang diharapkan tidak hanya berupa penurunan emisi, tetapi juga substitusi impor dan potensi tambahan pendapatan bagi perusahaan.

Namun perjalanan dari proyek percontohan menuju skala industri tetap membutuhkan pembuktian lebih lanjut. Kelayakan ekonomi, kebutuhan investasi, konsumsi energi, kesiapan teknologi, kualitas produk, pasar, dan kemampuan penerapan pada berbagai jenis fasilitas harus diperhitungkan secara menyeluruh.

Rencana pemerintah menyiapkan insentif dapat menjadi salah satu instrumen untuk mempercepat proses tersebut. Insentif dapat membantu industri menghadapi biaya awal penerapan teknologi sekaligus mendorong lebih banyak perusahaan melakukan inovasi dekarbonisasi.

Pada akhirnya, teknologi penangkapan karbon akan mempunyai nilai strategis apabila mampu membuktikan tiga hal secara bersamaan: mengurangi emisi secara nyata, dapat diterapkan dengan biaya yang layak, dan menghasilkan manfaat ekonomi yang memperkuat daya saing industri. Uji coba di Petrokimia Gresik memberikan langkah awal menuju arah tersebut, tetapi keberhasilan sesungguhnya akan ditentukan ketika teknologi mampu bergerak dari fasilitas percontohan menuju penerapan komersial yang terukur dan berkelanjutan.

Jika proses tersebut berhasil, CCU tidak hanya menjadi alat untuk menangkap karbon yang keluar dari fasilitas industri. Teknologi tersebut dapat menjadi salah satu bagian dari transformasi industri Indonesia menuju produksi yang lebih rendah karbon, lebih kompetitif di pasar global, sekaligus mampu menciptakan nilai ekonomi dari emisi yang sebelumnya hanya dianggap sebagai beban lingkungan.


Sumber: https://hijau.bisnis.com/read/20261015/652/2013125/teknologi-penangkap-karbon-didorong-untuk-industri-pemerintah-siapkan-insentif

Konten Terkait

Back to top button
Data Sydney
Erek erek
Batavia SDK
BUMD ENERGI JAKARTA
JAKPRO