Berita

Biaya Tersembunyi Karhutla Kalimantan Barat, Ketika Masyarakat Harus Menanggung Sendiri Kerugian yang Tak Terhitung

Di balik luasnya hutan dan lahan yang terbakar, kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan Barat menyisakan beban ekonomi dan sosial yang tidak selalu tercermin dalam laporan kerugian bencana. Mulai dari hilangnya sumber penghidupan, meningkatnya biaya kebutuhan sehari-hari, kesulitan memperoleh air bersih, hingga pengeluaran tambahan untuk pendidikan anak, masyarakat terdampak harus menghadapi berbagai konsekuensi yang sering kali luput dari perhitungan resmi.

Kebakaran hutan dan lahan atau karhutla di Kalimantan Barat tidak hanya menghanguskan vegetasi, merusak ekosistem, dan menghasilkan kabut asap yang membahayakan kesehatan masyarakat, tetapi juga menciptakan beban ekonomi berlapis yang harus ditanggung keluarga terdampak dalam kehidupan sehari-hari. Kerugian tersebut tidak selalu terlihat dalam angka luas lahan terbakar maupun biaya pemadaman, karena banyak pengeluaran tambahan dan kehilangan pendapatan berlangsung di tingkat rumah tangga tanpa tercatat secara menyeluruh dalam penilaian dampak bencana.

Kondisi tersebut tergambar dalam kesaksian sejumlah perempuan yang ditemui selama kunjungan lapangan di berbagai wilayah Kalimantan Barat, sebagaimana disampaikan melalui unggahan media sosial yang menyoroti biaya-biaya tersembunyi akibat karhutla. Para perempuan tersebut menggambarkan bagaimana keluarga harus berjuang mempertahankan ladang yang terbakar, menghadapi kenaikan harga kebutuhan sehari-hari, membeli air bersih, hingga mengeluarkan biaya tambahan untuk memastikan anak-anak tetap dapat mengikuti kegiatan pendidikan.

Ketika Karhutla Justru Terasa Lebih Berat daripada Pandemi

Salah satu pernyataan yang paling menggambarkan beratnya kondisi masyarakat adalah perbandingan antara penanganan karhutla dan masa pandemi COVID-19. Menurut penuturan para perempuan yang ditemui, situasi pandemi dalam beberapa hal justru terasa lebih ringan karena pemerintah menetapkannya sebagai kedaruratan nasional yang disertai berbagai bentuk bantuan bagi masyarakat.

Pada masa pandemi, keluarga yang menghadapi pembatasan aktivitas masih dapat memperoleh sejumlah bentuk dukungan, termasuk bantuan kuota internet bagi peserta didik untuk mengikuti pembelajaran dari rumah. Sementara itu, ketika karhutla mengganggu kehidupan masyarakat, berbagai kebutuhan tambahan justru harus dipenuhi menggunakan kemampuan ekonomi keluarga masing-masing, meskipun sebagian warga juga telah menerima bantuan darurat dari pemerintah maupun masyarakat.

Perbandingan tersebut bukan berarti pandemi tidak menimbulkan penderitaan besar, melainkan memperlihatkan adanya perbedaan pengalaman masyarakat dalam menghadapi dua jenis bencana. Bagi keluarga yang kehilangan sumber penghidupan akibat kebakaran, meningkatnya biaya kebutuhan pokok dan terbatasnya akses terhadap bantuan yang sesuai dapat membuat tekanan ekonomi terasa semakin berat.

Kehilangan Ladang Berarti Kehilangan Sumber Penghidupan

Bagi masyarakat yang menggantungkan kehidupannya pada pertanian, kebakaran lahan tidak hanya menyebabkan kerusakan tanaman yang terlihat di permukaan, tetapi juga berpotensi menghancurkan hasil kerja dan investasi yang telah dikeluarkan selama satu musim tanam. Bibit, pupuk, tenaga kerja, waktu, dan biaya pengolahan lahan dapat hilang ketika api menjangkau kawasan pertanian, sementara keluarga masih membutuhkan dana tambahan untuk membersihkan serta memulihkan lahan yang terdampak.

Kerugian tersebut menjadi semakin berat apabila hasil pertanian merupakan sumber utama pendapatan keluarga, karena hilangnya panen dapat memengaruhi kemampuan rumah tangga memenuhi kebutuhan pangan, pendidikan, dan kesehatan. Dalam kondisi demikian, masyarakat menghadapi dua tekanan secara bersamaan, yakni kehilangan pendapatan yang seharusnya diperoleh dan munculnya biaya baru untuk mempertahankan atau membangun kembali sumber penghidupan mereka.

Biaya pemulihan yang harus ditanggung keluarga sering kali tidak terlihat dalam perhitungan kerugian lingkungan, terutama apabila penilaian hanya berfokus pada luas wilayah terbakar atau nilai ekonomi lahan yang rusak. Padahal, pemulihan kehidupan masyarakat dapat membutuhkan waktu jauh lebih panjang dibandingkan proses pemadaman api.

Krisis Air Bersih Menambah Pengeluaran Rumah Tangga

Kesulitan mendapatkan air bersih menjadi salah satu persoalan nyata yang dihadapi masyarakat Kalimantan Barat selama musim kemarau dan karhutla pada 2026. Di sejumlah wilayah, menurunnya ketersediaan dan kualitas sumber air menyebabkan warga harus mencari pasokan alternatif untuk memenuhi kebutuhan minum, memasak, mandi, dan aktivitas rumah tangga lainnya.

Persoalan tersebut tercermin dalam penyaluran bantuan air bersih yang dilakukan pemerintah dan berbagai kelompok masyarakat di Pontianak, Kubu Raya, serta sejumlah wilayah lain pada September 2026. Ombudsman RI Perwakilan Kalimantan Barat bahkan melakukan pemantauan distribusi air bersih selama masa tanggap darurat bencana asap di Kabupaten Kubu Raya untuk memastikan kebutuhan dasar masyarakat tetap memperoleh perhatian.

Bagi keluarga yang harus membeli air secara mandiri, kondisi tersebut menciptakan tambahan pengeluaran yang sebelumnya mungkin tidak masuk dalam anggaran rumah tangga. Beban tersebut menjadi lebih berat ketika berlangsung bersamaan dengan kenaikan harga kebutuhan, gangguan pekerjaan, dan menurunnya pendapatan akibat aktivitas ekonomi yang terdampak kebakaran.

Pendidikan Anak Ikut Menanggung Dampak Karhutla

Dampak karhutla juga menjangkau sektor pendidikan ketika kondisi kabut asap dan gangguan aktivitas masyarakat membuat proses belajar anak menghadapi hambatan. Apabila sekolah harus mengalihkan kegiatan pembelajaran ke rumah, keluarga dapat membutuhkan perangkat komunikasi, jaringan internet, dan kuota data yang menimbulkan pengeluaran tambahan.

Bagi keluarga berpenghasilan terbatas, biaya tersebut bukan persoalan kecil karena harus dipenuhi bersamaan dengan kebutuhan pangan, air bersih, serta pengeluaran lain yang meningkat selama bencana. Kondisi ini menunjukkan bahwa dampak karhutla terhadap pendidikan tidak cukup hanya dihitung berdasarkan jumlah sekolah yang menghentikan kegiatan tatap muka atau lamanya gangguan pembelajaran, tetapi juga perlu mempertimbangkan biaya yang harus dikeluarkan keluarga untuk menjaga keberlanjutan pendidikan anak.

Persoalan lain yang tidak kalah penting adalah dampak kesehatan dan psikologis akibat paparan kabut asap, termasuk kebutuhan pengobatan, berkurangnya produktivitas kerja, serta meningkatnya beban pengasuhan dalam rumah tangga. Berbagai konsekuensi tersebut dapat saling berkaitan dan memperbesar tekanan ekonomi, terutama bagi keluarga yang tidak memiliki tabungan maupun sumber pendapatan alternatif.

Kerugian Karhutla Tidak Boleh Hanya Dihitung dari Luas Lahan Terbakar

Berbagai pengalaman masyarakat Kalimantan Barat memperlihatkan bahwa perhitungan dampak karhutla perlu dilakukan secara lebih menyeluruh dengan memasukkan kerugian langsung maupun tidak langsung yang dialami keluarga. Nilai tanaman yang terbakar, kehilangan pendapatan, biaya pemulihan lahan, pengeluaran untuk air bersih, kebutuhan pendidikan, serta biaya kesehatan merupakan bagian dari beban nyata yang seharusnya mendapat perhatian dalam evaluasi dan perencanaan penanganan bencana.

Pengalaman warga juga menunjukkan pentingnya mekanisme bantuan yang tidak hanya berfokus pada pemadaman kebakaran dan penanganan kabut asap, tetapi juga mendukung pemulihan ekonomi dan pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat setelah kondisi darurat berlangsung. Tanpa pendekatan tersebut, keluarga terdampak berpotensi terus menanggung kerugian bahkan ketika api telah berhasil dipadamkan dan kualitas udara mulai membaik.

Pada akhirnya, persoalan karhutla di Kalimantan Barat mengingatkan bahwa penderitaan masyarakat tidak dapat sepenuhnya diterjemahkan melalui statistik luas lahan terbakar, jumlah titik panas, maupun anggaran pemadaman yang dikeluarkan pemerintah. Di balik setiap peristiwa kebakaran terdapat keluarga yang kehilangan penghasilan, ibu yang harus mencari air bersih, dan anak-anak yang membutuhkan biaya tambahan agar tetap dapat belajar, sehingga penilaian dampak bencana perlu memberikan perhatian lebih besar terhadap kerugian ekonomi dan sosial yang selama ini ditanggung sendiri oleh masyarakat.

Sumber utama: Unggahan Instagram mengenai biaya-biaya yang tidak dihitung sebagai dampak karhutla di Kalimantan Barat.

https://www.instagram.com/p/DeY-g1fkiVV

Sumber pendukung: Ombudsman RI Perwakilan Kalimantan Barat, Pemantauan Distribusi Air Bersih untuk Masyarakat Kabupaten Kubu Raya, 12 September 2026.

https://ombudsman.go.id/perwakilan/news/r/pwk–ombudsman-kalbar-lakukan-pemantauan-distribusi-air-bersih-untuk-masyarakat-kabupaten-kubu-raya

Konten Terkait

Back to top button
Data Sydney
Erek erek
Batavia SDK
BUMD ENERGI JAKARTA
JAKPRO