Berita

Tiga Orangutan Kembali ke Hutan Kehje Sewen: Perjalanan Panjang dari Penyelamatan Menuju Kehidupan Liar

Setelah bertahun-tahun menjalani perawatan dan rehabilitasi, Dennis, Amesh, dan Catherine akhirnya mendapat kesempatan untuk kembali hidup di habitat alaminya. Pelepasliaran ini menjadi pengingat bahwa menyelamatkan orangutan bukan sekadar memindahkan satwa ke hutan, melainkan mempersiapkan mereka agar mampu bertahan hidup secara mandiri.

Kembali ke habitat alami setelah bertahun-tahun direhabilitasi

Tiga individu orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus morio) hasil rehabilitasi Pusat Rehabilitasi Orangutan Samboja Lestari, Kalimantan Timur, dilepasliarkan ke Hutan Kehje Sewen, Kabupaten Kutai Timur. Kegiatan yang dilakukan oleh Yayasan Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF) bersama Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur pada 5 November 2026 ini menjadi momen penting dalam upaya mengembalikan satwa dilindungi ke habitat alaminya.

Ketiga orangutan tersebut adalah Dennis, Amesh, dan Catherine. Dennis dan Amesh merupakan orangutan jantan masing-masing berusia 11 dan 12 tahun, sedangkan Catherine merupakan orangutan betina berusia 11 tahun.

Mereka tidak dilepasliarkan begitu saja. Sebelum dinyatakan siap kembali ke hutan, ketiganya telah melalui proses rehabilitasi panjang untuk mengembangkan kemampuan dasar yang dibutuhkan dalam kehidupan liar, mulai dari memanjat pohon, mengenali dan mencari pakan alami, hingga membuat sarang di pepohonan.

Kemampuan tersebut menjadi bekal penting agar orangutan tidak lagi bergantung pada manusia dan dapat menjalani kehidupannya secara mandiri.

Tiga orangutan dengan kisah penyelamatan berbeda

Di balik pelepasliaran ini, masing-masing orangutan memiliki perjalanan yang berbeda sebelum akhirnya memperoleh kesempatan kembali ke alam.

1. Amesh, korban dampak kebakaran hutan

Amesh diselamatkan pada 24 September 2016 dari wilayah Sangatta Selatan ketika masih berusia sekitar satu hingga dua tahun. Ia ditemukan setelah terpisah dari induknya dalam situasi pascakebakaran hutan pada 2015.

Setelah dievakuasi, Amesh menjalani proses rehabilitasi di Samboja Lestari, termasuk mengikuti Sekolah Hutan dan masa sosialisasi di Pulau 7. Tahapan tersebut membantunya mengembangkan kembali perilaku alami sebagai orangutan, seperti memanjat, mencari makanan, dan membangun sarang.

Kisah Amesh memperlihatkan bagaimana kebakaran hutan tidak hanya merusak pepohonan dan ekosistem, tetapi juga dapat memutus kehidupan satwa liar dari habitat dan keluarganya.

2. Dennis, diselamatkan dari pemeliharaan manusia

Dennis diselamatkan oleh BKSDA Samarinda pada 14 September 2018 ketika berusia sekitar dua hingga tiga tahun. Ia ditemukan di sebuah perkebunan di wilayah Bengalon setelah sempat dipelihara di rumah kosong.

Pengalaman berada dalam lingkungan manusia membuat Dennis harus menjalani proses rehabilitasi untuk mengembangkan kembali naluri alaminya. Di Samboja Lestari, ia mengikuti tahapan pembelajaran yang membantunya menjadi lebih mandiri, termasuk dalam mencari pakan dan membuat sarang.

3. Catherine, pulih dari gangguan kesehatan

Catherine tiba di Samboja Lestari pada 29 Juni 2019 setelah dievakuasi oleh BKSDA Tenggarong dari wilayah Muara Badak. Saat itu, ia membutuhkan perawatan medis intensif akibat air sacculitis, yaitu peradangan pada kantung udara.

Setelah menjalani perawatan dan rehabilitasi, kondisi Catherine berangsur membaik. Ia kemudian mengembangkan kemampuan untuk mengenali pakan alami dan membangun sarang di pepohonan, hingga akhirnya dinilai siap kembali ke habitat alaminya.

Ketiga kisah tersebut menunjukkan bahwa rehabilitasi orangutan bukan proses singkat. Setiap individu membutuhkan penanganan yang disesuaikan dengan kondisi kesehatan, pengalaman hidup, serta kemampuan bertahan hidupnya.

Mengapa pelepasliaran harus melalui proses panjang?

Orangutan merupakan satwa arboreal yang menghabiskan sebagian besar kehidupannya di pepohonan. Mereka membutuhkan kemampuan untuk bergerak di antara tajuk pohon, mencari buah dan bagian tumbuhan lainnya, serta membangun sarang untuk beristirahat.

Karena itu, orangutan yang pernah kehilangan induk, mengalami pemeliharaan oleh manusia, atau hidup dalam kondisi yang tidak sesuai dengan perilaku alaminya tidak dapat langsung dilepaskan ke hutan.

Pusat rehabilitasi seperti Samboja Lestari berperan memulihkan kemampuan tersebut melalui sejumlah tahapan pembelajaran. Tujuannya bukan sekadar membuat orangutan sehat secara fisik, tetapi juga memastikan mereka memiliki perilaku yang cukup untuk hidup tanpa bantuan manusia.

Pemeriksaan kesehatan juga menjadi syarat penting. Dalam laporan ANTARA, satu orangutan jantan bernama Marlon yang semula dipersiapkan untuk dilepasliarkan bersama ketiganya harus ditunda keberangkatannya karena mengalami diare.

Keputusan tersebut diambil karena perjalanan dari Samboja Lestari menuju Hutan Kehje Sewen mencapai sekitar 600 kilometer dan membutuhkan waktu kurang lebih 24 jam. Kondisi kesehatan yang benar-benar baik menjadi pertimbangan utama sebelum satwa menempuh perjalanan panjang dan memasuki lingkungan baru.

Hutan Kehje Sewen, rumah baru bagi orangutan

Hutan Kehje Sewen merupakan kawasan hutan di Kalimantan Timur yang dikelola oleh PT Restorasi Habitat Orangutan Indonesia (RHOI), perusahaan yang dibentuk oleh Yayasan BOS untuk mendukung pengelolaan habitat pelepasliaran orangutan.

Kawasan ini memiliki luas sekitar 86.593 hektare dan menjadi salah satu lokasi penting untuk mengembalikan orangutan hasil rehabilitasi ke alam liar.

Menurut keterangan BOSF, sebelum pelepasliaran dilakukan, tim melakukan pemantauan kondisi kawasan melalui citra satelit dan verifikasi langsung di lapangan untuk memastikan lokasi tujuan aman dari kebakaran hutan dan lahan.

Hal ini sangat penting karena pelepasliaran hanya akan berhasil apabila habitat tujuan mampu menyediakan sumber pakan, tempat berlindung, serta kondisi lingkungan yang mendukung kehidupan orangutan.

Hutan yang terlindungi bukan hanya tempat untuk melepaskan satwa, melainkan fondasi utama bagi kelangsungan hidup mereka.

Pelepasliaran bukan akhir dari upaya konservasi

Setelah orangutan dilepasliarkan, pekerjaan konservasi belum selesai. Mereka masih harus beradaptasi dengan lingkungan baru, mengenali wilayah jelajah, menemukan sumber makanan, dan membangun kehidupan mandiri di hutan.

BOSF menyatakan pemantauan akan dilakukan secara intensif setiap hari selama tiga hingga enam bulan pertama. Periode tersebut merupakan masa penting untuk mengamati kemampuan adaptasi dan perkembangan orangutan setelah kembali ke habitat alami. Pemantauan selanjutnya tetap dilanjutkan selama satu hingga dua tahun dengan intensitas yang lebih longgar.

Berdasarkan laporan ANTARA, populasi orangutan di Hutan Kehje Sewen telah mencapai 156 individu setelah pelepasliaran tersebut, dengan perkiraan kapasitas tersisa sekitar 20 individu. Sementara itu, sekitar 110 orangutan lainnya masih menjalani perawatan di pusat rehabilitasi Samboja Lestari.

Angka tersebut menunjukkan besarnya tantangan konservasi yang masih harus dihadapi. Pusat rehabilitasi membutuhkan dukungan berkelanjutan, sementara kawasan hutan harus terus dijaga agar dapat menampung dan mendukung kehidupan satwa yang dikembalikan ke alam.

Pada akhirnya, keberhasilan konservasi orangutan tidak cukup diukur dari berapa banyak individu yang berhasil dilepasliarkan. Ukuran yang lebih penting adalah apakah mereka mampu bertahan hidup, berkembang biak, dan menjalani kehidupan secara alami di habitat yang aman.

Kisah Dennis, Amesh, dan Catherine menjadi pengingat bahwa setiap orangutan yang kembali ke hutan membawa perjalanan panjang penyelamatan dan pemulihan. Namun, kesempatan mereka untuk hidup bebas hanya akan berarti jika manusia juga mampu menjaga hutan yang menjadi rumahnya.

Referensi utama

  1. ANTARA News – BOSF-BKSDA Kaltim lepas liarkan tiga orangutan ke Hutan Kehje Sewen. ANTARA News+1
  2. Yayasan BOS – 35 Tahun Yayasan BOS: Empat Orangutan dari Samboja Lestari Bersiap Memulai Hidup Liar di Hutan Kehje Sewen. Yayasan Pertahanan Orangutan Borneo
  3. Kementerian Kehutanan – Kembalikan Satwa ke Habitat Alami, Kemenhut Bersama Mitra Lepasliarkan Empat Orangutan di Kaltim. Kehutanan
  4. detikKalimantan – Usai Rehabilitasi, 3 Orang Utan Dilepasliarkan ke Hutan Kehje Sewen Kutim. detikcom

Konten Terkait

Back to top button
Data Sydney
Erek erek
Batavia SDK
BUMD ENERGI JAKARTA
JAKPRO