BRIN Rekomendasikan Konsep Kota Hijau untuk Keberlanjutan Ekosistem

Di tengah pesatnya perkembangan perkotaan di Indonesia, konsep pembangunan kota hijau (green city) dan kota hutan (forest city) semakin menjadi topik perbincangan yang relevan dan mendesak. Pusat Riset Ekologi dan Etnobiologi (PREE) di bawah naungan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) telah mengemukakan gagasan yang strategis ini sebagai solusi untuk menciptakan lingkungan perkotaan yang berkelanjutan dan ramah ekosistem. Dengan rencana pemekaran wilayah yang akan menghasilkan sekitar 178.000 kota dan kabupaten baru di Indonesia, penerapan konsep kota hijau dan kota hutan dianggap sangat penting untuk memastikan keberlanjutan ekosistem di masa depan.
Pembangunan berorientasi hijau ini juga mengusung tantangan besar dalam menjaga keseimbangan alam dengan keberadaan manusia di area perkotaan. Sejalan dengan visi ini, Hendra Gunawan, seorang Peneliti Ahli Utama dari PREE BRIN, menjelaskan berbagai karakteristik dan langkah yang diperlukan untuk mewujudkan kota hijau dan kota hutan di Indonesia, dalam sebuah webinar bertajuk “Pengelolaan Keanekaragaman Hayati di Lanskap Antropogenik: Tantangan dan Peluang Untuk Keberlanjutan Ekosistem” yang diselenggarakan pada 31 Oktober 2024. Webinar ini membahas beberapa aspek yang krusial untuk diperhatikan agar konsep kota hijau dan kota hutan dapat berfungsi efektif dalam menjaga kelestarian alam perkotaan.
Karakteristik dan Prinsip Dasar Kota Hijau
Kota hijau merupakan konsep perkotaan yang mengedepankan integrasi antara ruang terbuka hijau (RTH) dengan perencanaan tata ruang yang memperhatikan keberlanjutan ekosistem. Salah satu karakteristik utama kota hijau adalah adanya RTH yang memadai serta program-program perlindungan keanekaragaman hayati. Tujuannya adalah agar lingkungan perkotaan tetap memiliki area hijau yang cukup untuk mendukung flora dan fauna asli, sekaligus menciptakan ruang rekreasi alami bagi penduduk.
Lebih lanjut, Hendra Gunawan menekankan bahwa kota hijau juga perlu memiliki Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) yang berorientasi pada konservasi alam. Hal ini termasuk upaya untuk mengurangi emisi gas rumah kaca (GRK), pengelolaan limbah yang bijaksana, serta pemanfaatan infrastruktur hijau yang efisien. Konsep kota hijau diharapkan menjadi solusi bagi masalah polusi dan pencemaran perkotaan yang sering kali memengaruhi kualitas hidup penduduk.
Dalam praktiknya, kota hijau idealnya memiliki transportasi yang ramah lingkungan, penggunaan sumber daya seperti energi dan air yang efisien, serta program-program yang mendorong perilaku ramah lingkungan di masyarakatnya. Infrastruktur hijau ini mencakup sistem jalan hijau, drainase alami, dan ruang hijau yang dapat membantu menjaga keanekaragaman hayati serta mengurangi jejak karbon. Lebih lanjut, dukungan masyarakat dan sektor swasta sangat diperlukan untuk mendorong perekonomian lokal yang berkelanjutan.
Kota Hutan: Konsep dengan Ruang Hijau yang Lebih Menyeluruh
Selain konsep kota hijau, PREE BRIN juga memperkenalkan konsep kota hutan. Berbeda dengan kota hijau yang memiliki RTH di area-area tertentu saja, kota hutan adalah area perkotaan dengan ruang hijau yang lebih menyeluruh. Menurut Hendra, kota hutan memerlukan area hijau yang lebih luas dan merata untuk mendukung keanekaragaman hayati serta fungsi ekologis lainnya.
Beberapa contoh yang diusulkan dalam pengembangan kota hutan mencakup hutan kota berkonsep keanekaragaman, taman keanekaragaman hayati (kehati), dan arboretum. Semua ini adalah bagian dari upaya untuk menciptakan ekosistem alami yang tidak hanya berfungsi sebagai ruang hijau, tetapi juga menjadi habitat bagi berbagai spesies flora dan fauna, yang sangat penting dalam menjaga keseimbangan alam di wilayah perkotaan.
Menjaga Keanekaragaman Hayati Perkotaan
Konsep kota hijau dan kota hutan juga menyentuh aspek keanekaragaman hayati. Dalam konteks ini, penting untuk menjaga kelestarian satwa dan tumbuhan di area perkotaan. Salah satu elemen yang sering diabaikan dalam konservasi perkotaan adalah keanekaragaman satwa, seperti burung yang berperan penting dalam ekosistem. Menurut Hadinoto, seorang Dosen Fakultas Kehutanan dan Sains dari Universitas Lancang Kuning, burung memiliki peran yang sangat vital dalam ekosistem perkotaan, seperti agen penyerbukan, pengendalian hama, penyebaran biji, dan sebagai bagian dari rantai makanan.
Hadinoto menyampaikan hasil penelitiannya mengenai keragaman jenis burung di Kota Pekanbaru, di mana ia berhasil mendata sebanyak 2.244 ekor burung yang terdiri dari 75 jenis dalam 34 famili. Penelitian ini menunjukkan bahwa meskipun berada di wilayah perkotaan, masih banyak spesies burung yang bertahan dan berkembang di lingkungan tersebut. Tingkat persepsi masyarakat terhadap upaya konservasi burung di Pekanbaru juga cukup baik, yang menunjukkan kesadaran akan pentingnya melindungi satwa liar dalam menjaga ekosistem perkotaan yang sehat.
Tantangan dan Peluang Mewujudkan Kota Hijau dan Kota Hutan
Meskipun konsep kota hijau dan kota hutan menawarkan solusi terhadap permasalahan lingkungan di perkotaan, implementasinya tidak selalu mudah. Salah satu tantangan utama adalah memastikan adanya kebijakan tata ruang yang mendukung pengembangan ruang hijau yang berkelanjutan. Selain itu, perilaku masyarakat dan kesadaran lingkungan juga memegang peranan penting. Kota hijau dan kota hutan tidak hanya membutuhkan perencanaan yang baik, tetapi juga dukungan masyarakat dalam menerapkan gaya hidup ramah lingkungan, seperti mengurangi penggunaan kendaraan pribadi, menghemat energi, dan mendukung upaya daur ulang.
Di sisi lain, peluang besar juga terbuka untuk mewujudkan konsep ini. Misalnya, semakin banyak perusahaan yang tertarik untuk berinvestasi dalam proyek-proyek ramah lingkungan, termasuk di Asia Tenggara. Keberadaan pusat data yang ramah lingkungan di wilayah ini, misalnya, dapat menjadi pendorong untuk investasi hijau yang berkelanjutan. Hal ini menunjukkan bahwa pembangunan kota hijau dan kota hutan dapat menarik minat dari berbagai pihak, baik lokal maupun internasional, untuk terlibat dalam menciptakan lingkungan perkotaan yang lebih baik.
Kota Hijau dan Kota Hutan sebagai Pilar Masa Depan Perkotaan yang Berkelanjutan
Dengan pertumbuhan jumlah kota di Indonesia yang diproyeksikan terus meningkat, konsep kota hijau dan kota hutan perlu menjadi bagian dari rencana pembangunan perkotaan. Kota hijau dengan karakteristik ruang terbuka hijau, transportasi ramah lingkungan, efisiensi energi, dan pengurangan emisi dapat memberikan solusi terhadap tantangan ekologi di perkotaan. Di sisi lain, kota hutan yang menempatkan ruang hijau di seluruh area perkotaan dapat lebih mendukung keanekaragaman hayati serta berperan sebagai paru-paru kota.
Kedua konsep ini tidak hanya memberikan keuntungan bagi lingkungan tetapi juga menciptakan kota yang lebih nyaman dan sehat untuk ditinggali. Dengan dukungan masyarakat dan kolaborasi dari berbagai pihak, kota hijau dan kota hutan dapat menjadi model yang menginspirasi di tengah tantangan lingkungan global yang semakin kompleks.
Sumber:
Temukan peta dengan kualitas terbaik untuk gambar peta indonesia lengkap dengan provinsi.




