ALERTA GEOTHERMAL GUNUNG GEDE PANGRANGO: “Energi Bersih” yang Mengorbankan Warga?

Isu geothermal di kawasan Gunung Gede Pangrango kembali memantik perhatian publik. Ini bukan sekadar perdebatan pro atau kontra energi terbarukan, melainkan soal cara pembangunan dilakukan dan siapa yang akhirnya harus menanggung risikonya.
Selama ini, geothermal sering dipromosikan sebagai “energi bersih” dan solusi transisi energi. Namun di lapangan, proyek tersebut justru memunculkan keresahan warga karena aktivitas alat berat diduga masuk tanpa persetujuan masyarakat, tanpa sosialisasi yang memadai, serta berpotensi mengganggu kawasan hutan lindung. Kekhawatiran terbesar warga bukan hanya soal proyek, tetapi dampaknya terhadap sumber mata air, keseimbangan ekosistem, serta ruang hidup masyarakat yang selama ini bergantung pada air, tanah, dan hutan.
Penolakan warga pun tidak muncul karena anti-kemajuan. Mereka menolak karena sadar, ketika hutan rusak dan mata air hilang, tidak ada teknologi yang mampu mengembalikannya seperti semula. Situasi semakin memanas ketika warga disebut sampai menyita alat berat sebagai bentuk protes agar suara mereka didengar.
Kondisi ini memunculkan pertanyaan besar: jika proyek geothermal benar-benar aman dan adil, mengapa penolakan justru datang dari akar rumput? Mengapa masyarakat harus melakukan tindakan ekstrem demi mendapat perhatian?
Transisi energi seharusnya menjadi jalan keluar dari krisis iklim, bukan pembuka jalan bagi krisis baru. Jika pembangunan dilakukan dengan mengabaikan hak warga dan mengorbankan alam, maka proyek tersebut bukan solusi, melainkan bentuk baru pemaksaan atas nama “kemajuan”.
Gunung bukan lahan kosong. Hutan bukan ruang bebas eksploitasi. Dan energi bersih tidak boleh dijadikan alasan untuk merusak segalanya.
Temukan peta dengan kualitas terbaik untuk gambar peta indonesia lengkap dengan provinsi.




