Berita

Banjarmasin Sesak oleh Asap: Ketika Karhutla Bukan Lagi Berita, tetapi Udara yang Kami Hirup Setiap Hari

Sebagai putri daerah, sulit rasanya melihat kondisi Banjarmasin tahun ini.

Kebakaran hutan dan lahan bukan lagi sekadar berita yang kami baca di media. Asapnya hadir di depan rumah, di jalan menuju tempat kerja, di sekolah, dan di udara yang kami hirup setiap hari.

Pagi hari yang seharusnya terasa segar justru sering dimulai dengan aroma asap. Langit tampak kusam. Jarak pandang berkurang. Mata terasa perih, tenggorokan tidak nyaman, dan bernapas pun terkadang terasa berbeda.

Bagi kami yang tinggal di Banjarmasin, karhutla bukan sebuah angka statistik.

Ini adalah udara yang masuk ke paru-paru kami.

Image
Image

Tahun Ini Terasa Lebih Berat

Tahun 2026 menjadi salah satu periode yang sangat berat bagi Kalimantan Selatan.

BMKG mencatat kebakaran hutan dan lahan di sejumlah wilayah telah menyebabkan kabut asap dan menurunkan kualitas udara. Pada 19 Agustus 2026, konsentrasi partikulat PM2.5 yang dipantau Stasiun Klimatologi Kalimantan Selatan bahkan sempat membuat kualitas udara masuk kategori berbahaya, disertai jarak pandang yang sangat rendah. (Staklim Kalsel)

Memasuki awal September, kabut asap masih menyelimuti Banjarmasin.

Pada 2 September 2026, Stasiun Kayu Tangi mencatat Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) untuk PM10 berada pada angka 102, yang masuk kategori tidak sehat. Aroma asap juga masih terasa pekat, khususnya di kawasan perbatasan Banjarmasin dan Kabupaten Banjar. (RRI)

Kalimantan Selatan sendiri telah berstatus Siaga Darurat Karhutla dan Kekeringan sejak 6 Juli hingga 31 Oktober 2026. (BNPB)

Jadi ketika warga mengatakan kondisi tahun ini terasa lebih parah, pengalaman itu memiliki konteks yang sangat nyata.

Kami Tidak Seharusnya Terbiasa Menghirup Asap

Yang paling mengkhawatirkan adalah ketika kabut asap mulai dianggap sebagai bagian biasa dari musim kemarau di Kalimantan.

Seolah-olah setiap beberapa tahun masyarakat harus menerima keadaan yang sama:

hutan dan lahan terbakar, udara memburuk, masker kembali digunakan, sekolah dan aktivitas terganggu, lalu semua berharap hujan segera turun.

Padahal udara bersih bukan kemewahan.

Udara bersih adalah kebutuhan dasar.

Masyarakat tidak seharusnya dipaksa memilih antara tetap beraktivitas dan mempertaruhkan kesehatan karena harus menghirup udara yang tercemar asap.

Yang Terbakar Bukan Hanya Hutan

Ketika hutan dan lahan terbakar, kerugiannya jauh lebih besar daripada luas hektare yang hangus.

Asap membawa partikel sangat kecil seperti PM2.5 yang dapat masuk jauh ke dalam saluran pernapasan.

Anak-anak, lansia, ibu hamil, penderita asma, dan masyarakat dengan penyakit jantung atau paru-paru menjadi kelompok yang paling rentan.

Kabut asap juga mengganggu aktivitas ekonomi, pendidikan, transportasi, dan kehidupan sehari-hari.

Jadi karhutla bukan hanya persoalan kehutanan.

Ini adalah persoalan kesehatan publik.

Banjarmasin Bahkan Bisa Menghirup Asap dari Wilayah Lain

Banjarmasin bukan kawasan hutan luas, tetapi kota ini tetap bisa terdampak kebakaran yang terjadi di daerah sekitarnya.

Pada akhir Agustus, kabut asap yang menyelimuti Banjarmasin diduga berasal dari kebakaran hutan dan lahan di wilayah sekitar seperti Banjarbaru dan daerah lainnya, kemudian terbawa angin menuju kota. (RRI)

Inilah sifat persoalan karhutla.

Api mungkin berada puluhan kilometer dari rumah kita, tetapi asapnya tidak mengenal batas kabupaten atau kota.

Karena itu, penanganannya tidak dapat dilakukan secara terpisah-pisah.

Perlindungan gambut, hutan, semak, dan kawasan rawan kebakaran di seluruh Kalimantan Selatan pada akhirnya juga merupakan perlindungan terhadap udara yang dihirup warga Banjarmasin.

Kemarau Memicu, tetapi Kerusakan Lingkungan Membuat Kita Semakin Rentan

Musim kemarau yang kering memang menjadi faktor penting dalam meningkatnya risiko karhutla tahun ini.

BMKG memperkirakan risiko kemunculan titik panas pada September 2026 sangat tinggi di Kalimantan Selatan, bahkan mencakup sekitar 96,4 persen wilayah provinsi dalam kategori risiko tinggi pada analisis iklimnya. (BMKG Content)

Namun kemarau seharusnya tidak otomatis berarti hutan harus terbakar.

Persoalannya menjadi jauh lebih kompleks ketika bertemu dengan lahan yang telah terdegradasi, gambut yang kering, pembukaan lahan, serta kawasan yang kehilangan tutupan vegetasi alaminya.

Semakin rusak bentang alam, semakin rentan pula kawasan tersebut terhadap api.

Karena itu, pemadaman saja tidak cukup.

Yang harus dilakukan adalah mencegah kondisi yang membuat kebakaran terus berulang.

Kami Tidak Hanya Membutuhkan Hujan

Setiap kali kabut asap memburuk, masyarakat berharap hujan turun.

Dan hujan memang dapat membantu meredakan api dan membersihkan udara.

Tetapi kita tidak bisa terus menggantungkan keselamatan pada hujan.

Yang dibutuhkan adalah perlindungan dan restorasi lahan gambut, pengawasan terhadap pembukaan lahan, sistem deteksi dini, kesiapan pemadaman sebelum api membesar, penegakan hukum terhadap pembakaran, serta transparansi mengenai siapa yang menguasai lahan yang terbakar.

Pemerintah saat ini telah melakukan berbagai upaya, termasuk operasi modifikasi cuaca di sejumlah wilayah Kalimantan untuk meningkatkan kelembapan lahan dan membantu penanganan kebakaran. (BMKG)

Tetapi penanganan jangka panjang harus jauh lebih besar daripada sekadar memadamkan api ketika krisis sudah terjadi.

Jangan Biarkan Anak-Anak Kalimantan Menganggap Langit Berasap sebagai Hal Normal

Ada satu hal yang seharusnya kita takutkan lebih dari kabut asap itu sendiri:

ketika generasi berikutnya mulai menganggapnya sebagai sesuatu yang biasa.

Anak-anak Kalimantan seharusnya tumbuh mengenal langit biru, sungai yang sehat, rawa dan gambut yang tetap basah, serta hutan yang masih hidup.

Bukan tumbuh dengan ingatan bahwa setiap musim kemarau mereka harus mengenakan masker karena hutan kembali terbakar.

Sebagai warga Banjarmasin, kami tidak meminta sesuatu yang berlebihan.

Kami hanya ingin bisa membuka pintu rumah pada pagi hari dan menghirup udara tanpa rasa khawatir.

Karhutla bukan tradisi musim kemarau.

Kabut asap bukan kondisi yang harus diterima.

Dan udara bersih bukan hadiah.

Udara bersih adalah hak kami.

Banjarmasin tidak seharusnya terus hidup di bawah asap.

https://www.linkedin.com/posts/kesumaayanti_ini-adalah-yang-terjadi-saat-ini-di-kota-ugcPost-7501311214933716994-WFJ4/?utm_source=share&utm_medium=member_desktop&rcm=ACoAAAtGGkQBsxwMBmX3lEJO8btihnfBCaHqTz4

Konten Terkait

Back to top button
Data Sydney
Erek erek
Batavia SDK
BUMD ENERGI JAKARTA
JAKPRO