Berita

Barito dan Mahakam Menyusut: Ketika Kemarau Bertemu Kerusakan Daerah Aliran Sungai

Dua sungai besar yang menjadi urat nadi Kalimantan, Sungai Barito dan Sungai Mahakam, kini sama-sama menghadapi tekanan serius akibat musim kemarau 2026.

Di sejumlah titik Sungai Barito, permukaan air turun drastis hingga hamparan pasir dan bagian dasar sungai yang biasanya terendam mulai terlihat. Citra satelit yang dianalisis Badan Informasi Geospasial menunjukkan penyusutan badan air berlangsung bertahap sejak Mei hingga Agustus 2026.

Sementara itu, di Sungai Mahakam, penurunan muka air mulai mengganggu jalur transportasi menuju wilayah pedalaman Kalimantan Timur. Distribusi bahan bakar minyak, bahan pangan, dan kebutuhan masyarakat di Mahakam Ulu ikut terdampak karena sejumlah kapal tidak dapat lagi melintas hingga kawasan hulu seperti biasanya.

Fenomena ini bukan sekadar soal sungai yang surut.

Ia menjadi pengingat penting bahwa kesehatan sungai sangat bergantung pada kondisi hutan dan daerah aliran sungai yang berada jauh di hulunya.

Kemarau Panjang Menjadi Pemicu Utama

BMKG mencatat musim kemarau 2026 berlangsung dengan tekanan cukup kuat akibat rendahnya curah hujan dan pengaruh El Nino.

Di wilayah Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan, periode tanpa hujan berlangsung selama puluhan hari. Bahkan beberapa wilayah Kalimantan Selatan memasuki kategori kekeringan ekstrem dengan lebih dari 60 hari tanpa hujan.

Kondisi tersebut secara langsung mengurangi limpasan air yang masuk ke sungai.

Ketika hujan berkurang dalam waktu lama, pasokan dari anak-anak sungai, rawa, tanah, dan kawasan tangkapan air juga menurun.

Akibatnya, debit sungai menyusut.

Namun persoalannya tidak berhenti pada faktor cuaca.

Ketika Hutan Hulu Tidak Lagi Mampu Menyimpan Air

Hutan di wilayah hulu memiliki fungsi yang sangat penting dalam sistem hidrologi.

Kanopi pepohonan memperlambat jatuhnya air hujan ke tanah. Akar membantu air meresap lebih dalam. Lapisan tanah hutan menyimpan sebagian air tersebut dan melepaskannya secara perlahan menuju sungai.

Proses inilah yang membantu menjaga aliran air tetap tersedia ketika hujan mulai jarang turun.

Ketika tutupan hutan berkurang akibat pembukaan perkebunan, pertambangan, pembangunan jalan, kebakaran, atau penggunaan lahan lainnya, kemampuan lanskap untuk menahan air juga dapat menurun.

Air hujan lebih cepat menjadi limpasan permukaan.

Saat musim hujan, kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko banjir dan erosi.

Sebaliknya, ketika musim kemarau datang, cadangan air yang dapat dilepaskan secara perlahan menuju sungai menjadi lebih sedikit.

Inilah alasan mengapa deforestasi di daerah aliran sungai sering disebut sebagai faktor yang dapat memperbesar ekstrem hidrologi: air terlalu cepat datang ketika hujan, tetapi terlalu cepat hilang ketika kemarau.

Sungai Barito Menunjukkan Penyusutan yang Sangat Jelas

Salah satu kondisi paling mencolok terlihat di sekitar Jembatan Kalahien, Barito Selatan, Kalimantan Tengah.

Pada awal Mei 2026, badan Sungai Barito masih terlihat relatif lebar.

Memasuki Juli, area pasir di tepian dan tengah sungai mulai bertambah luas. Pada pertengahan Agustus, bagian dasar sungai yang sebelumnya tertutup air semakin banyak terlihat.

Badan Informasi Geospasial menegaskan bahwa Sungai Barito tidak sepenuhnya mengering. Alur utama masih mengalir, tetapi lebar permukaan air aktif mengalami penyusutan yang sangat nyata.

BMKG menyebut wilayah Barito Selatan juga mengalami hari tanpa hujan yang panjang hingga sangat panjang.

Rendahnya curah hujan tersebut menjadi penyebab langsung berkurangnya ketersediaan air permukaan dan debit sungai.

Mahakam Mulai Mengganggu Distribusi ke Pedalaman

Situasi serupa terjadi di Sungai Mahakam.

Penurunan muka air menyebabkan jalur transportasi sungai menuju Mahakam Ulu terganggu.

Balai Wilayah Sungai IV Samarinda menyebut transportasi air pada awal September 2026 hanya dapat melayani hingga Kecamatan Tering, Kutai Barat.

Padahal Sungai Mahakam selama ini menjadi jalur penting bagi pengangkutan bahan pokok, BBM, penumpang, dan berbagai kebutuhan masyarakat pedalaman.

Ketika muka air terlalu rendah, kapal dengan muatan besar berisiko kandas.

Akibatnya, biaya distribusi dapat meningkat dan akses masyarakat terhadap berbagai kebutuhan dasar menjadi lebih sulit.

Sungai Bukan Hanya Air yang Mengalir

Barito dan Mahakam merupakan jauh lebih dari sekadar jalur air.

Sungai-sungai ini menghubungkan desa, kota, hutan, rawa, dan berbagai ekosistem di Kalimantan.

Jutaan masyarakat bergantung pada sistem sungai untuk transportasi, air, perikanan, pertanian, perdagangan, dan kehidupan sehari-hari.

Ketika debit sungai berubah drastis, dampaknya dapat menyebar ke berbagai sektor sekaligus.

Nelayan kehilangan ruang tangkap.

Transportasi terganggu.

Pasokan barang terhambat.

Kualitas air dapat berubah.

Ekosistem rawa dan lahan basah ikut mengalami tekanan.

Karena itu, kekeringan sungai seharusnya tidak dilihat hanya sebagai fenomena alam musiman.

Hutan Hulu Adalah Infrastruktur Air yang Sering Dilupakan

Selama ini pembangunan infrastruktur air sering identik dengan bendungan, kanal, embung, dan jaringan perpipaan.

Padahal hutan juga merupakan bagian dari infrastruktur air alami.

Hutan yang sehat membantu menjaga infiltrasi, mengurangi sedimentasi, melindungi mata air, mempertahankan kelembapan tanah, dan menstabilkan aliran sungai.

Nilainya mungkin tidak terlihat dalam bentuk beton atau bangunan, tetapi fungsi ekologisnya sangat besar.

Ketika hutan hulu hilang, biaya penggantinya dapat muncul dalam bentuk banjir, kekeringan, sedimentasi, kerusakan infrastruktur, hingga kesulitan memperoleh air bersih.

Jangan Tunggu Sungai Kering untuk Menjaga Hutannya

Krisis air di Sungai Barito dan Mahakam seharusnya menjadi momentum untuk melihat kembali kondisi daerah aliran sungai di Kalimantan.

Penanganannya tidak cukup hanya dengan mengantisipasi kemarau.

Perlindungan hutan hulu, pemulihan kawasan kritis, pengendalian pertambangan dan pembukaan lahan, rehabilitasi sempadan sungai, perlindungan rawa dan gambut, serta pengawasan perubahan tutupan lahan harus menjadi bagian dari strategi jangka panjang.

Sebab sungai besar tidak mendapatkan air hanya dari hujan yang jatuh tepat di atas permukaannya.

Air tersebut berasal dari ribuan anak sungai, mata air, rawa, tanah, dan hutan yang membentuk satu kesatuan daerah aliran sungai.

Jika bagian hulunya terus rusak, daya tahan sungai terhadap musim kemarau juga dapat semakin melemah.

Barito dan Mahakam hari ini sedang memberikan peringatan.

Kemarau memang mengurangi hujan. Tetapi ketika kemampuan hutan menyimpan air ikut hilang, dampak kekeringan dapat menjadi jauh lebih berat.

Menjaga sungai berarti menjaga hutannya.

Dan menjaga hutan di hulu berarti menjaga kehidupan jutaan orang yang bergantung pada air di hilir.

Konten Terkait

Back to top button
Data Sydney
Erek erek
Batavia SDK
BUMD ENERGI JAKARTA
JAKPRO