Berita

Bukan Hanya Karhutla, Kekeringan Juga Melanda Kalimantan: Ketika Air Menghilang dan Lahan Semakin Mudah Terbakar

Ketika perhatian tertuju pada kebakaran hutan dan lahan yang menimbulkan kabut asap, ada krisis lain yang berlangsung pada saat bersamaan di Kalimantan: kekeringan. Air semakin sulit diperoleh di sejumlah tempat, tanah dan vegetasi kehilangan kelembapan, sementara sumber air yang biasanya menopang kehidupan masyarakat menghadapi tekanan. Karhutla adalah bagian yang terlihat melalui api dan asap. Kekeringan adalah krisis yang perlahan bekerja di baliknya.

Api memang lebih mudah menarik perhatian.

Kobaran terlihat.

Asap memenuhi langit.

Jarak pandang berkurang.

Foto dan video tersebar di media sosial.

Namun ketika kemarau berlangsung panjang, persoalannya tidak berhenti pada kebakaran.

Di tempat lain, masyarakat mulai menghadapi pertanyaan yang lebih mendasar:

dari mana mendapatkan air?

Sumur dapat mengalami penurunan muka air.

Sumber air permukaan menyusut.

Tanaman membutuhkan lebih banyak penyiraman.

Tanah mengering.

Dan semakin kering suatu lanskap, semakin besar pula perhatian yang harus diberikan terhadap risiko kebakaran.

Inilah hubungan yang membuat kekeringan dan karhutla menjadi kombinasi berbahaya.

Kekeringan Bukan Sekadar Tidak Turun Hujan

Kita sering memahami kekeringan secara sederhana:

tidak ada hujan dalam waktu lama.

Padahal kekeringan memiliki beberapa dimensi.

Kekeringan meteorologis terjadi ketika curah hujan berada jauh di bawah kondisi normal dalam periode tertentu.

Jika kondisi tersebut berlangsung, dampaknya dapat berkembang menjadi kekeringan hidrologis, ketika debit sungai, danau, waduk atau ketersediaan air lainnya mengalami penurunan.

Kemudian ada kekeringan pertanian, ketika kelembapan tanah tidak mencukupi kebutuhan tanaman.

Pada akhirnya dapat muncul kekeringan sosial-ekonomi ketika keterbatasan air mulai memengaruhi aktivitas masyarakat dan perekonomian.

Dengan kata lain, hujan yang berhenti hanyalah awal.

Dampaknya dapat menjalar dari atmosfer menuju tanah, sungai, tanaman, pertanian hingga rumah tangga.

Air yang Hilang dari Lanskap Meningkatkan Kerentanan

Dalam kondisi normal, kelembapan membantu mempertahankan ketahanan suatu lanskap terhadap api.

Ketika kemarau berlangsung panjang, situasinya berubah.

Daun kering menumpuk.

Ranting kehilangan kelembapan.

Rumput mengering.

Permukaan tanah menjadi lebih kering.

Material organik yang sebelumnya lembap dapat berubah menjadi bahan bakar.

Karena itu, kekeringan tidak selalu menjadi penyebab langsung kebakaran—tetap dibutuhkan sumber penyalaan—tetapi dapat menciptakan kondisi yang membuat kebakaran jauh lebih mudah terjadi dan berkembang.

Satu percikan yang mungkin tidak berarti pada kondisi basah dapat menjadi jauh lebih berbahaya ketika lanskap sudah sangat kering.

Gambut Menjadi Perhatian Khusus

Persoalan menjadi lebih kompleks pada bentang alam gambut.

Gambut terbentuk dari material organik yang terakumulasi dalam kondisi jenuh air selama waktu yang sangat panjang.

Dalam kondisi alami, air merupakan bagian penting dari sistem tersebut.

Ketika muka air turun dan gambut mengering, material organik yang sebelumnya basah menjadi lebih rentan terbakar.

Dan kebakaran gambut berbeda dengan kebakaran vegetasi biasa.

Api tidak selalu hanya berada di permukaan.

Ia dapat merambat melalui lapisan organik.

Inilah sebabnya kebakaran gambut dapat sulit dipadamkan.

Permukaan mungkin terlihat tidak lagi memiliki nyala api, tetapi bara dan panas masih dapat tersimpan pada lapisan tertentu.

Ketika kondisi kembali mendukung, api dapat muncul lagi.

Karena Itu Air Adalah Bagian dari Pencegahan Karhutla

Jika kita melihat persoalan karhutla hanya sebagai persoalan api, maka respons kita akan selalu berpusat pada pemadaman.

Ada api.

Datangkan petugas.

Pasang pompa.

Cari sumber air.

Padamkan.

Tetapi pada lanskap rentan, pengelolaan air merupakan bagian penting dari pencegahan.

Menjaga kondisi hidrologis kawasan gambut.

Memantau muka air tanah.

Menjaga kanal dan infrastruktur pembasahan sesuai kebutuhan ekologis.

Melindungi daerah tangkapan air.

Memulihkan kawasan yang mengalami degradasi.

Semua itu membantu membangun lanskap yang lebih tahan terhadap kebakaran.

Karena pada akhirnya:

lanskap yang kehilangan air lebih mudah menjadi lanskap yang terbakar.

Ironi: Saat Kebakaran Membesar, Air untuk Memadamkannya Justru Berkurang

Ada paradoks dalam penanganan karhutla pada musim kering.

Semakin panjang kemarau, semakin kering vegetasi.

Risiko kebakaran meningkat.

Tetapi pada saat yang sama, sumber air yang dibutuhkan untuk pemadaman dapat ikut menyusut.

Petugas akhirnya menghadapi dua masalah sekaligus:

lebih banyak material mudah terbakar, tetapi air semakin sulit diperoleh.

Pada lokasi yang jauh dari sumber air, pemadaman menjadi semakin berat.

Pompa membutuhkan sumber air.

Selang memiliki keterbatasan jarak.

Akses menuju titik kebakaran tidak selalu tersedia.

Dalam situasi tertentu, air bahkan harus dipindahkan dari lokasi lain.

Karena itu, kesiapsiagaan terhadap karhutla seharusnya dimulai jauh sebelum musim kering mencapai kondisi terburuk.

Bagi Masyarakat, Kekeringan Berarti Persoalan yang Sangat Praktis

Di tingkat rumah tangga, kekeringan tidak terasa sebagai istilah meteorologi.

Ia terasa ketika air sulit diperoleh.

Ketika sumur tidak lagi menghasilkan air sebanyak biasanya.

Ketika tanaman mulai layu.

Ketika masyarakat harus menghemat penggunaan air.

Ketika kebutuhan memasak, mencuci, mandi dan sanitasi harus dipenuhi dari pasokan yang semakin terbatas.

Dan tidak semua masyarakat memiliki kemampuan yang sama untuk menghadapi kondisi tersebut.

Rumah tangga dengan tangki penyimpanan besar memiliki pilihan berbeda dengan keluarga tanpa tempat penyimpanan.

Wilayah dengan jaringan air perpipaan yang andal memiliki ketahanan berbeda dengan masyarakat yang bergantung sepenuhnya pada sumur dangkal atau sumber air lokal.

Karena itu, kekeringan juga memiliki dimensi ketimpangan.

Air Bersih Harus Menjadi Prioritas

Ketika kekeringan berkembang menjadi krisis air, prioritas pertama bukan mempertahankan seluruh pola konsumsi seperti biasa.

Prioritasnya adalah kebutuhan dasar manusia.

Air minum.

Memasak.

Sanitasi.

Kebersihan.

Kebutuhan fasilitas kesehatan.

Kemudian kebutuhan penting lainnya.

Dalam kondisi darurat, distribusi air bersih dapat menjadi sangat penting.

Tetapi pengiriman menggunakan mobil tangki merupakan respons krisis.

Ia bukan penyelesaian jangka panjang.

Jika wilayah yang sama berulang kali membutuhkan bantuan air setiap musim kering, maka ada persoalan ketahanan air yang perlu diselesaikan secara struktural.

Kalimantan Identik dengan Sungai, Mengapa Bisa Kekeringan?

Pertanyaan ini wajar.

Kalimantan dikenal sebagai pulau dengan sungai-sungai besar.

Kapuas.

Mahakam.

Barito.

Kahayan.

Katingan.

Dan banyak sistem sungai lainnya.

Bagaimana wilayah dengan begitu banyak air dapat mengalami kekeringan?

Karena keberadaan sungai besar tidak otomatis berarti setiap masyarakat selalu memiliki akses terhadap air bersih dalam jumlah memadai.

Ada persoalan lokasi.

Kualitas air.

Infrastruktur.

Jarak.

Kondisi sumber air lokal.

Distribusi.

Perubahan penggunaan lahan.

Dan kemampuan suatu lanskap menyimpan air.

Air mungkin tersedia di suatu tempat, tetapi tidak tersedia pada tempat dan waktu ketika masyarakat membutuhkannya.

Itulah inti persoalan water security atau ketahanan air.

Hutan Sebenarnya Merupakan Infrastruktur Air

Ketika membicarakan air, kita biasanya membayangkan bendungan.

Pipa.

Waduk.

Pompa.

Tangki.

Instalasi pengolahan.

Semua itu memang infrastruktur air.

Tetapi ada infrastruktur lain yang sering tidak kita perlakukan sebagai infrastruktur:

hutan.

Tutupan vegetasi berinteraksi dengan siklus air.

Serasah membantu melindungi permukaan tanah.

Akar menciptakan struktur tanah.

Air hujan tidak seluruhnya langsung berubah menjadi limpasan permukaan.

Sebagian masuk ke tanah dan bergerak melalui sistem hidrologis.

Daerah tangkapan air yang sehat membantu menjaga fungsi hidrologi suatu lanskap.

Karena itu, melindungi hutan bukan hanya persoalan menyelamatkan pohon atau satwa.

Ia juga bagian dari menjaga sistem air.

Kerusakan Daerah Tangkapan Air Memiliki Konsekuensi

Bayangkan dua lanskap.

Lanskap pertama memiliki tutupan vegetasi yang baik.

Lanskap kedua sebagian besar permukaannya terbuka atau mengalami degradasi.

Ketika hujan sangat deras, respons hidrologinya dapat berbeda.

Pada kawasan yang rusak, limpasan permukaan dan erosi dapat meningkat tergantung kondisi tanah, kemiringan dan penggunaan lahan.

Air cepat bergerak meninggalkan suatu lokasi.

Ketika musim kering datang, kemampuan lanskap mempertahankan air juga dapat menjadi lebih buruk.

Inilah salah satu alasan konservasi daerah aliran sungai tidak boleh hanya dibicarakan ketika terjadi banjir.

Kesehatan DAS berhubungan dengan dua sisi ekstrem:

terlalu banyak air ketika hujan dan terlalu sedikit air ketika kemarau.

Menanam Pohon Saja Tidak Cukup

Solusi kekeringan sering disederhanakan menjadi:

“Tanam pohon.”

Menanam pohon memang dapat menjadi bagian penting dari rehabilitasi.

Tetapi pemulihan hidrologis jauh lebih kompleks.

Jenis tanaman harus sesuai.

Lokasinya harus tepat.

Bibit harus bertahan hidup.

Tanah perlu dipulihkan.

Area resapan harus dijaga.

Sungai dan sempadannya perlu dilindungi.

Pada gambut, kondisi hidrologisnya juga harus diperhatikan.

Dan yang paling penting:

hutan alami yang masih sehat jangan dirusak sambil berharap kerusakan dapat digantikan dengan penanaman di tempat lain.

Melindungi ekosistem yang masih utuh biasanya jauh lebih efektif daripada menghancurkannya terlebih dahulu lalu mencoba membangunnya kembali.

Kota di Kalimantan Juga Harus Belajar Menyimpan Air Hujan

Kekeringan bukan hanya urusan desa.

Kawasan perkotaan juga perlu meningkatkan ketahanan air.

Salah satu pendekatannya adalah rainwater harvesting.

Air hujan dari atap dapat dikumpulkan.

Disaring.

Ditampung.

Kemudian digunakan kembali untuk kebutuhan yang sesuai dengan kualitasnya.

Menyiram tanaman.

Membersihkan halaman.

Flushing toilet setelah sistem dirancang dengan benar.

Kebutuhan non-potabel lainnya.

Konsepnya sangat sederhana:

ketika air datang berlimpah, jangan membuang semuanya.

Simpan sebagian untuk digunakan ketika hujan berhenti.

Sumur Resapan dan Ruang Hijau Memiliki Fungsi Berbeda

Kota juga membutuhkan lebih banyak kesempatan bagi air untuk kembali masuk ke tanah.

Permukaan beton dan aspal membuat sebagian besar hujan berubah menjadi limpasan.

Karena itu, berbagai infrastruktur hijau dapat digunakan sesuai kondisi setempat:

sumur resapan,

biopori,

rain garden,

permukaan berpori,

ruang terbuka hijau,

dan perlindungan area resapan.

Namun setiap teknologi harus ditempatkan sesuai kondisi geologi, muka air tanah, kualitas air dan tata ruang.

Tidak ada satu jenis infrastruktur yang cocok untuk semua lokasi.

Industri dan Gedung Besar Juga Harus Menghemat Air

Pada saat masyarakat diminta menghemat air, pengguna besar juga harus ikut melakukan efisiensi.

Gedung komersial dapat melakukan audit air.

Industri dapat mengidentifikasi proses yang memungkinkan penggunaan kembali air.

Kondensat AC dapat ditampung untuk kebutuhan tertentu.

Air hujan dapat dipanen.

Kebocoran dapat diperbaiki.

Peralatan hemat air dapat digunakan.

Air berkualitas tinggi tidak seharusnya digunakan untuk semua keperluan jika tersedia sumber alternatif yang aman dan sesuai standar.

Prinsipnya:

gunakan kualitas air sesuai dengan kebutuhannya.

Pertanian Menghadapi Tantangan Lebih Besar

Kekeringan juga dapat memengaruhi sektor pertanian.

Tanaman membutuhkan air pada fase pertumbuhan tertentu.

Jika air tidak tersedia ketika dibutuhkan, produktivitas dapat menurun.

Petani kemudian menghadapi pilihan sulit.

Mengurangi luas tanam.

Mengubah jadwal.

Mencari sumber air tambahan.

Atau menggunakan komoditas yang lebih toleran terhadap kondisi kering.

Karena itu, informasi iklim dan prakiraan musim menjadi sangat penting.

Pertanian masa depan tidak cukup hanya mengetahui kapan biasanya musim hujan datang berdasarkan kebiasaan masa lalu.

Petani semakin membutuhkan informasi cuaca dan iklim yang dapat membantu menentukan keputusan tanam.

Satwa Liar Juga Mencari Air

Ketika sumber air menyusut, dampaknya tidak hanya dirasakan manusia.

Satwa juga membutuhkan air.

Perubahan ketersediaan air dan kondisi habitat dapat mendorong satwa bergerak mencari sumber lain.

Dalam lanskap yang telah terfragmentasi, perjalanan tersebut dapat membawa satwa semakin dekat dengan jalan, perkebunan atau permukiman manusia.

Risiko konflik manusia-satwa kemudian dapat meningkat.

Kekeringan dengan demikian bukan hanya persoalan hidrologi.

Ia dapat menjadi persoalan konservasi keanekaragaman hayati.

Karhutla Memperburuk Krisis yang Sudah Ada

Kemudian api datang.

Vegetasi yang sudah stres karena kekeringan terbakar.

Tanah semakin terbuka.

Habitat rusak.

Asap mencemari udara.

Masyarakat yang sudah menghadapi kesulitan air kini harus menghadapi pencemaran udara.

Air dibutuhkan untuk kebutuhan rumah tangga.

Air juga dibutuhkan untuk memadamkan api.

Petugas membutuhkan air.

Fasilitas kesehatan membutuhkan air.

Kebutuhan meningkat tepat ketika ketersediaannya sedang berada dalam tekanan.

Inilah mengapa kekeringan dan karhutla dapat menciptakan krisis berlapis.

Jangan Hanya Mengukur Berapa Hektare yang Terbakar

Ketika musim karhutla datang, indikator yang paling sering diberitakan adalah:

jumlah hotspot,

jumlah kejadian kebakaran,

luas lahan terbakar.

Ketiganya penting.

Tetapi gambaran risikonya akan jauh lebih lengkap jika kita juga memantau:

curah hujan,

hari tanpa hujan,

kelembapan tanah,

muka air tanah gambut,

debit sungai,

ketersediaan air baku,

kondisi waduk,

dan jumlah masyarakat yang mengalami kesulitan air.

Dengan demikian, kita tidak hanya mengetahui di mana api sudah terjadi.

Kita juga dapat melihat di mana kondisi sedang berkembang menuju krisis.

Krisis Air Harus Dicegah Sebelum Mobil Tangki Datang

Mobil tangki air adalah simbol respons darurat.

Ketika kendaraan tersebut mulai masuk ke permukiman untuk membagikan air, artinya masyarakat sudah berada pada tahap membutuhkan bantuan.

Sistem yang lebih tangguh bekerja lebih awal.

Sumber air dipetakan.

Kapasitas penyimpanan diperkuat.

Infrastruktur diperbaiki.

Kebocoran ditekan.

Air hujan ditampung.

Daerah resapan dilindungi.

Ekosistem gambut dijaga.

Masyarakat mendapatkan informasi mengenai risiko kekeringan lebih awal.

Dengan demikian, kita bergerak dari:

crisis response

menuju:

drought resilience.

Kalimantan Sedang Memberikan Peringatan

Ketika langit dipenuhi asap, kita melihat krisis udara.

Ketika sungai, sumur atau sumber air mulai menyusut, kita melihat krisis air.

Ketika keduanya terjadi bersamaan, sebenarnya alam sedang memberikan satu pesan yang sama:

lanskap sedang kehilangan keseimbangannya.

Kita tidak bisa terus memperlakukan banjir, kekeringan dan karhutla sebagai tiga persoalan yang sepenuhnya terpisah.

Ketiganya berhubungan dengan bagaimana air bergerak dan disimpan dalam lanskap.

Bagaimana hutan dikelola.

Bagaimana gambut dipertahankan.

Bagaimana lahan digunakan.

Bagaimana kota dibangun.

Dan bagaimana kita mempersiapkan diri menghadapi variabilitas iklim.

Ketika Hujan Kembali, Jangan Lupakan Kekeringannya

Suatu saat hujan akan kembali turun.

Sungai akan bertambah.

Tanah kembali basah.

Api padam.

Asap perlahan menghilang.

Dan seperti yang sering terjadi, perhatian publik ikut berpindah.

Justru di situlah pekerjaan terpenting harus dimulai.

Memulihkan daerah tangkapan air.

Menjaga hutan yang masih tersisa.

Memulihkan hidrologi gambut yang rusak.

Membangun cadangan air.

Memperbaiki jaringan distribusi.

Memanen air hujan.

Mengurangi pemborosan.

Meningkatkan kesiapsiagaan desa dan kota.

Karena ketika kemarau berikutnya datang, pertanyaannya bukan lagi apakah kita tahu kekeringan bisa terjadi.

Kita sudah tahu.

Pertanyaannya adalah:

apa yang kita lakukan ketika air masih tersedia untuk mempersiapkan hari ketika air menjadi langka?

Karhutla memperlihatkan krisis melalui kobaran api.

Kekeringan bekerja lebih senyap.

Tidak selalu ada sirene.

Tidak selalu ada asap.

Tidak selalu menghasilkan gambar dramatis.

Kadang tanda pertamanya hanya sumur yang turun beberapa sentimeter.

Tanah yang mulai retak.

Daun yang mulai layu.

Sungai yang semakin dangkal.

Tetapi jika tanda-tanda itu terus diabaikan, persoalan yang awalnya tampak kecil dapat berkembang menjadi krisis yang menyentuh kehidupan jutaan orang.

Kalimantan tidak hanya membutuhkan kemampuan memadamkan api. Kalimantan juga membutuhkan kemampuan menjaga air tetap berada di lanskap.

Sebab ketika air hilang, yang terancam bukan hanya kebutuhan manusia.

Hutan menjadi lebih rentan.

Gambut menjadi lebih mudah terbakar.

Pertanian menghadapi tekanan.

Satwa kehilangan sumber kehidupan.

Dan api mendapatkan kondisi yang dibutuhkannya untuk menyebar.

Menjaga air berarti menjaga hutan. Menjaga hutan membantu menjaga air. Dan keduanya merupakan fondasi penting agar Kalimantan tidak terus menghadapi siklus kekeringan, kebakaran dan asap yang sama.


Sumber: https://www.facebook.com/reel/2617737962076386

Konten Terkait

Back to top button
Data Sydney
Erek erek
Batavia SDK
BUMD ENERGI JAKARTA
JAKPRO