Dari Sampah Plastik Menjadi Minyak dan Gas, Inovasi Warga Sragen Ini Ubah Limbah Jadi Energi

Masalah sampah plastik sering kali terlihat seperti persoalan yang sulit diselesaikan. Namun bagi Sugiyono, warga Dukuh Sunggingan, Desa Jambeyan, Kecamatan Sambirejo, Kabupaten Sragen, tumpukan plastik justru menjadi awal lahirnya sebuah inovasi.
Pria 46 tahun yang sehari-hari bekerja sebagai sopir ambulans itu berhasil mengolah sampah plastik menjadi minyak dan gas yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar alternatif.
Inovasi ini berawal dari kegelisahannya melihat banyaknya sampah yang dihasilkan di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Jambeyan.
Sampah 20–30 Kilogram Setiap Hari
Setiap hari, SPPG Jambeyan menghasilkan sekitar 20 hingga 30 kilogram sampah, baik organik maupun anorganik.
Salah satu persoalan terbesar adalah sampah plastik.
Jika langsung dibakar, plastik menghasilkan asap hitam pekat dan residu yang cukup banyak. Kondisi tersebut membuat Sugiyono mencari cara lain agar sampah plastik tidak hanya berpindah masalah dari tumpukan sampah menjadi pencemaran udara.
Berbekal rasa penasaran dan pengetahuan yang diperoleh secara otodidak dari internet, ia mulai bereksperimen dengan teknologi pirolisis.
Mengenal Pirolisis Sampah Plastik
Pirolisis merupakan proses pemanasan material pada kondisi minim atau tanpa oksigen.
Dalam pengolahan plastik, proses ini dapat memecah material menjadi produk yang lebih sederhana, termasuk uap yang kemudian dapat dikondensasikan menjadi cairan serta gas yang mudah terbakar.
Sugiyono awalnya hanya berfokus pada produksi minyak hasil kondensasi yang ia sebut sebagai biosolar.
Namun dalam proses percobaan, ia menemukan bahwa selain cairan, muncul gas yang juga memiliki potensi energi.
Dari sinilah eksperimennya berkembang.
Gas Pirolisis Bisa Menyalakan Kompor
Gas hasil proses pirolisis kemudian dicoba ditampung menggunakan tabung bekas freon.
Setelah melalui beberapa modifikasi, tabung tersebut disambungkan ke sebuah kompor.
Hasilnya cukup mengejutkan.
Gas dapat terbakar dan menghasilkan nyala api berwarna biru yang relatif stabil.
Menurut Sugiyono, dari sekitar 1 kilogram sampah plastik, ia mampu menghasilkan gas dengan tekanan hingga sekitar 300 psi.
Gas tersebut disebut dapat digunakan untuk menyalakan kompor selama kurang lebih 55 menit.
Ia memperkirakan diperlukan sekitar delapan tabung gas hasil pengolahan plastik untuk menghasilkan energi yang sebanding dengan satu tabung elpiji 3 kilogram.
Dirakit dari Barang Bekas
Salah satu hal menarik dari inovasi ini adalah alat yang digunakan tidak sepenuhnya berasal dari komponen mahal.
Sugiyono memanfaatkan sejumlah barang bekas seperti pipa dan tabung freon.
Namun beberapa komponen tetap harus dibeli, termasuk drum, rangka, kebutuhan pengelasan, dan kompor oli.
Total biaya pembuatan instalasi disebut mencapai sekitar Rp3 juta.
Bagi skala eksperimen rumah tangga atau komunitas, biaya tersebut dinilai masih relatif terjangkau dibandingkan teknologi pengolahan sampah industri.
Dari Masalah Sampah Menjadi Energi
Awalnya, tujuan Sugiyono sederhana: mengurangi jumlah sampah plastik yang harus dibuang.
Namun eksperimen tersebut menunjukkan bahwa limbah dapat memiliki nilai lain jika diolah menggunakan teknologi yang tepat.
Plastik yang sebelumnya hanya menumpuk atau dibakar kini dapat menghasilkan dua jenis produk energi sekaligus, yaitu cairan hasil kondensasi dan gas yang dapat digunakan sebagai bahan bakar.
Pendekatan seperti ini mencerminkan prinsip waste-to-energy, yakni mengubah limbah menjadi sumber energi.
Pentingnya Pemilahan Sampah
Meski teknologi menjadi bagian penting dalam proses pengolahan, Sugiyono menilai pemilahan sejak sumber tetap menjadi kunci.
Saat ini, sampah yang diterima di instalasinya belum seluruhnya terpilah.
Karena itu, ia mendorong agar sampah organik dan anorganik dipisahkan lebih awal.
Pemilahan akan membuat proses pengolahan lebih efektif sekaligus mengurangi risiko masuknya material yang tidak sesuai ke instalasi pirolisis.
Ini juga menjadi pengingat bahwa teknologi pengolahan sampah tidak dapat berjalan optimal tanpa perubahan kebiasaan masyarakat.
Potensi Pengolahan Sampah di Tingkat RT dan RW
Sugiyono berharap konsep pengolahan sampah sederhana dapat dikembangkan di tingkat masyarakat.
Ia membayangkan jika setiap unit lingkungan, instansi, RT, atau RW memiliki sistem pengelolaan sampah sendiri, sebagian limbah dapat diselesaikan lebih dekat dari sumbernya.
Pendekatan tersebut berpotensi mengurangi volume sampah yang harus dikirim ke tempat pembuangan akhir.
Selain itu, pengelolaan lokal juga dapat membantu mengurangi praktik pembuangan sampah sembarangan ke sungai atau pembakaran terbuka.
Tetap Membutuhkan Standar Keamanan
Meski inovasi ini menarik, pengolahan plastik melalui pirolisis tetap membutuhkan perhatian besar terhadap aspek keselamatan dan lingkungan.
Gas hasil pirolisis bersifat mudah terbakar dan penyimpanannya dalam tekanan tinggi membutuhkan peralatan yang dirancang khusus.
Begitu pula dengan emisi, residu, kualitas bahan bakar, dan komposisi plastik yang digunakan.
Tidak semua plastik menghasilkan produk yang sama, dan beberapa jenis material dapat menghasilkan senyawa berbahaya ketika dipanaskan.
Karena itu, pengembangan teknologi seperti ini idealnya disertai pengujian teknis, sistem pengendalian emisi, standar tabung bertekanan, serta pendampingan dari tenaga ahli.
Hal ini penting agar solusi terhadap persoalan sampah tidak menimbulkan risiko baru bagi kesehatan maupun keselamatan masyarakat.
Sampah Tidak Selalu Berakhir di TPA
Eksperimen Sugiyono menunjukkan bahwa inovasi lingkungan tidak selalu harus dimulai dari laboratorium besar atau investasi bernilai miliaran rupiah.
Terkadang, solusi lahir dari kegelisahan melihat masalah sehari-hari dan keberanian untuk mencoba pendekatan baru.
Teknologi pirolisis memang bukan satu-satunya jawaban terhadap persoalan sampah plastik. Pengurangan penggunaan plastik, penggunaan kembali, serta daur ulang tetap harus menjadi prioritas.
Namun untuk jenis sampah tertentu yang sulit didaur ulang, teknologi pengolahan dapat menjadi salah satu alternatif yang layak dikaji.
Dari sebuah instalasi sederhana di Jambeyan, muncul pesan penting: sampah yang selama ini dianggap sebagai beban masih memiliki peluang untuk diubah menjadi sumber daya—selama dikelola dengan teknologi, keselamatan, dan tanggung jawab lingkungan yang tepat.




