Berita

DKI Dorong Teknologi Pirolisis untuk Atasi Gunungan Sampah Bantargebang

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta terus mencari solusi untuk mengatasi persoalan sampah yang menumpuk di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, Bekasi. Salah satu teknologi yang kini mendapat perhatian adalah pirolisis, metode pengolahan sampah melalui proses pemanasan pada suhu tinggi dengan sedikit atau tanpa oksigen.

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyatakan dukungannya terhadap pengembangan teknologi tersebut sebagai bagian dari upaya memperbaiki sistem pengelolaan sampah Jakarta.

Pramono mengungkapkan bahwa dirinya telah bertemu dengan Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Maruli Simanjuntak serta jajaran Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) untuk membahas peluang pengembangan teknologi pengolahan sampah di Bantargebang.

Timbunan Sampah Bantargebang Hampir 55 Juta Ton

Persoalan sampah di Bantargebang menjadi semakin mendesak karena volume sampah yang tersimpan di kawasan tersebut disebut telah mencapai hampir 55 juta ton.

Selama bertahun-tahun, Bantargebang menjadi tujuan utama pembuangan sampah yang berasal dari Jakarta. Besarnya volume sampah yang masuk setiap hari membuat kawasan ini menghadapi tekanan lingkungan yang sangat besar.

Untuk mengurangi ketergantungan terhadap sistem pembuangan konvensional, Pemprov DKI Jakarta mulai mengubah pendekatan pengelolaan sampah.

Jika sebelumnya pola yang digunakan lebih banyak mengandalkan konsep angkut dan timbun, kini pemerintah mendorong sistem pilah, angkut, dan olah.

Perubahan tersebut menjadi bagian dari kebijakan pengelolaan sampah yang dituangkan melalui Instruksi Gubernur Nomor 5 Tahun 2025.

Apa Itu Teknologi Pirolisis?

Pirolisis merupakan proses dekomposisi material organik dengan menggunakan panas bersuhu tinggi dalam kondisi tanpa oksigen atau dengan jumlah oksigen yang sangat terbatas.

Melalui proses tersebut, berbagai jenis material dapat diubah menjadi produk lain seperti gas, minyak hasil pirolisis, maupun residu padat yang berpotensi dimanfaatkan kembali.

Dalam konteks pengelolaan sampah, teknologi ini dinilai memiliki potensi untuk membantu mengurangi volume sampah yang harus ditimbun.

Namun penerapan pirolisis juga membutuhkan pemilahan sampah yang baik, teknologi pengendalian emisi, serta sistem operasional yang memenuhi standar lingkungan.

Karena karakter sampah perkotaan sangat beragam, teknologi pengolahannya juga harus disesuaikan dengan jenis dan komposisi sampah yang tersedia.

Bantargebang Didorong Menjadi Sumber Daya

Pemprov DKI Jakarta menilai bahwa sampah seharusnya tidak lagi hanya dipandang sebagai material yang harus dibuang.

Dengan perkembangan teknologi, sampah dapat diolah menjadi berbagai produk bernilai guna.

Karena itu, pemerintah membuka peluang bagi berbagai pihak yang memiliki teknologi maupun kemampuan pengolahan untuk terlibat dalam pemanfaatan sampah Bantargebang.

Pramono menyebut minat terhadap pengelolaan sampah di kawasan tersebut cukup besar. Bahkan dalam satu hari, sejumlah delegasi disebut datang menawarkan konsep maupun teknologi untuk memanfaatkan timbunan sampah.

Kondisi ini menunjukkan bahwa Bantargebang mulai dilihat tidak hanya sebagai tempat pembuangan akhir, tetapi juga sebagai sumber material yang berpotensi diolah kembali.

Pemerintah Terbuka pada Berbagai Teknologi

Pemprov DKI Jakarta menyatakan tidak ingin bergantung hanya pada satu teknologi dalam menyelesaikan persoalan sampah.

Berbagai metode pengolahan dapat dikembangkan selama memenuhi aspek teknis, ekonomi, dan lingkungan.

Pirolisis menjadi salah satu opsi yang kini mendapat dukungan, termasuk pengembangan yang melibatkan Kementerian ESDM dan TNI.

Pendekatan teknologi yang beragam diperlukan karena persoalan sampah Jakarta memiliki skala yang sangat besar.

Selain teknologi termal seperti pirolisis, pengelolaan sampah juga perlu diperkuat melalui pemilahan dari sumber, daur ulang, pengomposan, pengurangan sampah plastik, serta penerapan ekonomi sirkular.

Pirolisis Bukan Solusi Tunggal

Meski memiliki potensi, penggunaan teknologi pirolisis tidak dapat menjadi satu-satunya jawaban terhadap persoalan sampah Jakarta.

Pengurangan sampah tetap harus dimulai dari sumbernya.

Rumah tangga, kawasan komersial, pasar, industri hingga perkantoran perlu didorong untuk melakukan pemilahan sehingga sampah organik, plastik, kertas, logam, dan jenis sampah lainnya tidak selalu tercampur.

Pemilahan akan menentukan efektivitas berbagai teknologi pengolahan di tahap berikutnya.

Selain itu, penerapan pirolisis harus disertai pengawasan ketat terhadap emisi, residu pengolahan, konsumsi energi, serta dampak lingkungan yang mungkin muncul.

Dengan demikian, teknologi tidak sekadar memindahkan persoalan sampah menjadi persoalan pencemaran baru.

Menuju Pengelolaan Sampah yang Lebih Berkelanjutan

Perubahan konsep dari angkut-timbun menjadi pilah-angkut-olah dapat menjadi langkah penting dalam reformasi pengelolaan sampah Jakarta.

Namun keberhasilannya akan sangat bergantung pada konsistensi pemerintah, kesiapan teknologi, keterlibatan masyarakat, serta transparansi dalam menentukan teknologi yang akan digunakan.

Bantargebang telah menampung sampah Jakarta selama puluhan tahun. Dengan timbunan yang kini mencapai puluhan juta ton, pendekatan lama jelas semakin sulit dipertahankan.

Pemanfaatan teknologi seperti pirolisis dapat menjadi salah satu bagian dari solusi, tetapi harus ditempatkan dalam strategi yang lebih besar: mengurangi sampah dari sumber, meningkatkan daur ulang, memanfaatkan kembali material, dan membangun ekonomi sirkular.

Jika seluruh pendekatan tersebut berjalan bersama, sampah yang selama ini dianggap sebagai beban perkotaan dapat perlahan berubah menjadi sumber daya yang memiliki nilai ekonomi sekaligus mengurangi tekanan terhadap lingkungan.

https://news.detik.com/berita/d-8656847/pramono-dukung-teknologi-pirolisis-untuk-olah-sampah-di-bantargebang

Konten Terkait

Back to top button
Data Sydney
Erek erek
Batavia SDK
BUMD ENERGI JAKARTA
JAKPRO