Tiga provinsi bangun kerja sama regional sunda kecil, targetkan superhub pariwisata dan energi terbarukan

Kebangkitan Sunda Kecil: Bali, NTB, dan NTT Bersatu Membangun Superhub Ekonomi Hijau
Momentum bersejarah tercipta di Sirkuit Mandalika saat tiga provinsi Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Nusa Tenggara Timur (NTT) secara resmi menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) pembentukan Kerja Sama Regional Bali, NTB, NTT (KR-BNN).
Inisiatif ini bertujuan untuk mereaktivasi kejayaan historis kawasan Sunda Kecil sebagai pusat perdagangan dunia, sekaligus menghapus ketimpangan ekonomi antarwilayah.
1. Lima Pilar Strategis KR-BNN
Kerja sama ini tidak hanya sekadar seremonial, melainkan sebuah cetak biru pembangunan terintegrasi yang berfokus pada lima sektor kunci:
- Pariwisata Terintegrasi: Menjadikan kawasan sebagai superhub pariwisata nasional yang saling terhubung.
- Konektivitas Wilayah: Mempercepat distribusi barang dan mobilitas tenaga kerja antar-pulau.
- Energi Terbarukan: Transformasi energi fosil menuju energi hijau.
- Perdagangan Regional: Memperkuat pasar domestik antar-ketiga provinsi.
- Ekspor Komoditas: Peningkatan daya saing produk lokal di pasar global.
2. Transformasi Energi: Lumbung Listrik Bersih Nasional
Salah satu poin paling transformatif dari kolaborasi ini adalah integrasi energi terbarukan. Wilayah Timur Indonesia kini diposisikan sebagai pemasok energi bersih untuk Bali dan skala nasional.
| Provinsi | Potensi Energi Terbarukan | Sumber Utama |
| NTB | 13.563 MW | Tenaga Surya & Angin |
| NTT | 388.310 MW | Tenaga Surya (90%) |
Rencana Strategis: Melalui jaringan kabel bawah laut, pasokan listrik melimpah dari NTB dan NTT akan dialirkan ke Bali. Langkah ini akan memutus ketergantungan Bali terhadap energi fosil dari Jawa, sekaligus mewujudkan kemandirian energi berbasis ekonomi biru.
3. Mitigasi Krisis Iklim dan Infrastruktur Tangguh
Berada di zona badai tropis global, kawasan Sunda Kecil memiliki kerentanan tinggi terhadap bencana (seperti memori kelam Siklon Seroja 2021). Oleh karena itu, KR-BNN menyepakati pembangunan yang Adaptif Iklim:
- Infrastruktur Tangguh: Standar bangunan dan fasilitas publik yang tahan terhadap banjir rob dan kenaikan permukaan laut.
- Manajemen Bencana: Pengembangan sistem peringatan dini (early warning system) lintas batas provinsi.
- Pariwisata Berkelanjutan: Memastikan pertumbuhan ekonomi tidak merusak ekosistem pesisir yang menjadi daya tarik utama.
4. Mengoreksi Sejarah, Menatap 2026
Sejak tahun 1958, pemisahan administrasi membuat Bali tumbuh pesat sementara NTB dan NTT cenderung menjadi zona penyangga. Gubernur NTB, Lalu Muhamad Iqbal, dan Gubernur Bali, I Wayan Koster, sepakat bahwa KR-BNN adalah upaya “rekoneksi sejarah” untuk memastikan kemakmuran tidak lagi terpusat di satu titik.
Target Utama Tahun 2026:
- Aktivasi pusat ekonomi biru berbasis maritim.
- Distribusi logistik yang lebih murah dan cepat antar-provinsi.
- Peningkatan standar kualitas tenaga kerja lokal agar kompetitif di level global.
“Kerja sama ini adalah bentuk keadilan ekonomi. Bali tidak lagi tumbuh sendirian, tetapi bergerak bersama NTB dan NTT sebagai aktor utama pembangunan nasional.” — I Wayan Koster, Gubernur Bali.
sumber:
Temukan peta dengan kualitas terbaik untuk gambar peta indonesia lengkap dengan provinsi.




