Berita

Sulap Botol Bekas Jadi Kebun Vertikal, Mahasiswa Unair Dorong Desa Dilem Lebih Hijau

MOJOKERTO – Keterbatasan lahan bukan menjadi penghalang untuk menghadirkan ruang hijau dan menghasilkan tanaman pangan di lingkungan permukiman. Melalui program pengabdian masyarakat Jagawana, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Airlangga mengajak masyarakat memanfaatkan lahan terbatas dengan mengembangkan vertical garden berbahan botol plastik bekas.

Kegiatan yang berlangsung di Area PAUD Desa Dilem, Kecamatan Gondang, Kabupaten Mojokerto, Sabtu (22/8/2026), tersebut melibatkan mahasiswa lintas jurusan bersama Taman Hutan Raya (Tahura) Raden Soerjo. Selain praktik menanam, kegiatan juga menjadi sarana edukasi untuk menumbuhkan kesadaran terhadap lingkungan sekaligus mengenalkan cara sederhana menghasilkan tanaman hortikultura di sekitar rumah.

Vertical Garden Jadi Solusi Lahan Terbatas

Kegiatan diawali dengan sosialisasi mengenai konsep vertical garden atau kebun vertikal. Teknik ini memungkinkan berbagai tanaman dibudidayakan dengan memanfaatkan ruang secara vertikal sehingga tidak membutuhkan lahan yang luas.

Konsep tersebut dinilai cocok diterapkan di kawasan permukiman yang memiliki keterbatasan ruang untuk bercocok tanam. Dengan memanfaatkan dinding, rak maupun konstruksi sederhana, masyarakat tetap dapat menghadirkan tanaman produktif di lingkungan tempat tinggal.

Dalam kegiatan ini, peserta memanfaatkan rak bambu yang dipadukan dengan botol plastik bekas sebagai wadah tanaman. Selain murah dan mudah dibuat, penggunaan barang bekas tersebut sekaligus menjadi upaya mengurangi sampah plastik melalui pemanfaatan kembali.

Peserta juga mendapatkan pengetahuan dasar mengenai teknik budidaya hortikultura agar tanaman dapat tumbuh dengan baik. Salah satu hal penting yang disampaikan adalah pemilihan media tanam.

“Penanaman hortikultura jangan menggunakan tanah yang basah, nanti tanaman cepat mati,” ujar narasumber dari Tahura Raden Soerjo.

Selain kondisi media tanam, penempatan tanaman dan intensitas penyiraman turut menjadi perhatian.

“Sebaiknya diletakkan di tempat yang teduh, tidak terkena sinar matahari langsung, dan disiram dua kali sehari agar pertumbuhannya tetap terjaga,” tambahnya.

Botol Plastik Bekas Disulap Jadi Media Tanam

Setelah mendapatkan materi, mahasiswa langsung mempraktikkan pembuatan kebun vertikal. Botol-botol plastik bekas dipasang dan disusun pada rak bambu untuk dijadikan wadah tanaman.

Setiap wadah kemudian diisi media tanam dan bibit hortikultura yang relatif cepat tumbuh. Setelah proses penanaman selesai, peserta melakukan penyiraman awal sesuai dengan teknik yang telah diperkenalkan sebelumnya.

Praktik langsung tersebut membuat peserta tidak hanya memahami konsep secara teoritis, tetapi juga mengetahui tahapan sederhana membuat vertical garden yang nantinya dapat diterapkan kembali bersama masyarakat.

Pemanfaatan botol plastik bekas memberikan nilai tambah pada kegiatan tersebut. Barang yang sebelumnya berpotensi menjadi sampah diubah menjadi sarana produktif untuk menghasilkan tanaman sekaligus mempercantik lingkungan.

Dari Pengelolaan Sampah hingga Ketahanan Pangan

Kolaborasi program Jagawana dan Tahura Raden Soerjo tidak hanya diarahkan untuk memperbanyak ruang hijau, tetapi juga membawa pesan mengenai pemanfaatan sumber daya secara lebih bertanggung jawab.

Penggunaan kembali botol plastik sebagai media tanam sejalan dengan semangat Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) 12, yakni konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab. Sampah plastik yang sulit terurai dapat dimanfaatkan kembali sehingga memiliki fungsi baru dan tidak langsung berakhir sebagai limbah.

Penerapan kebun vertikal juga mendukung SDG 11 tentang kota dan permukiman yang berkelanjutan, terutama melalui pemanfaatan ruang terbatas untuk memperbanyak tanaman di lingkungan permukiman.

Sementara dari sisi pangan, tanaman hortikultura yang dihasilkan berpotensi dimanfaatkan masyarakat sebagai sumber bahan pangan segar. Hal tersebut turut mendukung upaya meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan masyarakat sebagaimana menjadi bagian dari SDG 3.

Diharapkan Menjadi Kebiasaan Masyarakat

Lebih dari sekadar kegiatan penanaman selama satu hari, program ini diharapkan dapat menumbuhkan kebiasaan baru dalam memanfaatkan ruang dan barang bekas di lingkungan Desa Dilem.

Pengetahuan yang diperoleh mahasiswa dan peserta diharapkan dapat diteruskan kepada masyarakat sehingga semakin banyak warga yang mampu membuat kebun sederhana secara mandiri.

Dengan teknik yang relatif mudah, biaya terjangkau dan tidak membutuhkan lahan luas, vertical garden dapat menjadi salah satu alternatif penghijauan yang dapat dikembangkan mulai dari tingkat rumah tangga.

Melalui langkah sederhana tersebut, upaya menjaga lingkungan tidak hanya diwujudkan dengan menanam pohon dalam skala besar. Mengubah botol bekas menjadi tempat tumbuh tanaman di halaman rumah pun dapat menjadi bagian dari gerakan membangun lingkungan yang lebih hijau, mengurangi sampah, sekaligus memperkuat ketahanan pangan masyarakat.

https://www.kompasiana.com/nabilabida/6a8b2284c925c4681d46d39e/kolaborasi-jagawana-tahura-hijaukan-desa-dilem-lewat-vertical-garden#goog_rewarded

Konten Terkait

Back to top button
Data Sydney
Erek erek
Batavia SDK
BUMD ENERGI JAKARTA
JAKPRO