Energi Surya Kini Bisa Lebih Murah dari Batu Bara di Indonesia
Anggapan bahwa batu bara selalu menjadi sumber listrik termurah di Indonesia mulai dipertanyakan.
Laporan terbaru dari Institute for Energy Economics and Financial Analysis (IEEFA) menunjukkan bahwa perubahan biaya energi dalam beberapa tahun terakhir telah membuat tenaga surya dan angin semakin kompetitif, bahkan dalam sejumlah perhitungan lebih murah dibandingkan pembangkit listrik tenaga batu bara.
Kenaikan harga batu bara, minyak, dan gas, volatilitas nilai tukar, serta bertambah tuanya aset pembangkit fosil telah mengikis keunggulan biaya energi fosil.
Pada saat yang sama, biaya teknologi energi terbarukan terus menurun.
Perubahan ini menurut IEEFA perlu menjadi dasar baru dalam perencanaan sistem kelistrikan Indonesia.
Biaya Pembangkit Batu Bara Naik 46 Persen
IEEFA mencatat biaya rata-rata pembangkitan listrik tenaga batu bara meningkat dari sekitar Rp637 per kWh pada 2020 menjadi Rp930 per kWh pada 2025.
Artinya, terjadi kenaikan sekitar 46 persen hanya dalam lima tahun.
Untuk 2026, IEEFA memperkirakan rata-rata biaya pembangkitan batu bara dapat kembali meningkat menjadi sekitar Rp1.060 per kWh.
Perubahan tersebut menunjukkan bahwa asumsi lama mengenai murahnya listrik batu bara tidak lagi selalu mencerminkan kondisi ekonomi pembangkitan saat ini.
Batu Bara Terlihat Murah karena Harga Domestik Dikendalikan
Salah satu faktor yang membuat batu bara terlihat sangat kompetitif di Indonesia adalah kebijakan Domestic Market Obligation (DMO) dan pengaturan harga domestik atau Domestic Price Obligation (DPO).
Kebijakan tersebut membantu menjaga harga batu bara untuk kebutuhan domestik tetap di bawah harga pasar.
Menurut estimasi IEEFA, jika tidak menggunakan DPO, biaya pembangkitan listrik tenaga batu bara pada 2025 bisa mencapai sekitar Rp1.455 per kWh.
Angka tersebut sekitar 56 persen lebih tinggi dibandingkan biaya sekitar Rp930 per kWh ketika DPO diterapkan.
Dengan kata lain, kebijakan harga batu bara memiliki pengaruh besar terhadap persepsi bahwa listrik batu bara merupakan sumber energi termurah.
LCOE Surya Lebih Rendah dari Batu Bara
IEEFA membandingkan berbagai teknologi menggunakan Levelized Cost of Electricity atau LCOE.
LCOE digunakan untuk menghitung rata-rata biaya menghasilkan satu unit listrik selama umur suatu pembangkit.
Menurut laporan tersebut, kisaran LCOE sejumlah teknologi di Indonesia adalah:
- PLTS skala utilitas: 5,6–8,4 sen dolar AS per kWh
- Angin darat: 6,8–10,3 sen dolar AS per kWh
- Batu bara: 10,0–15,1 sen dolar AS per kWh
- Gas: 14,0–21,0 sen dolar AS per kWh
Perbandingan tersebut menunjukkan perubahan besar dalam ekonomi pembangkitan listrik.
IEEFA memperkirakan tenaga surya skala utilitas dapat sekitar 44 persen lebih murah dibandingkan batu bara, sedangkan tenaga angin darat sekitar 32 persen lebih murah berdasarkan perbandingan LCOE yang digunakan dalam laporan.
Bahkan batas atas biaya PLTS dalam estimasi tersebut masih berada di bawah batas bawah biaya batu bara.
Gas Justru Menjadi Salah Satu Pilihan Termahal
Gas sering dipandang sebagai bahan bakar transisi antara batu bara dan energi terbarukan.
Namun dari perspektif LCOE yang dipaparkan IEEFA, pembangkit berbasis gas justru memiliki kisaran biaya tertinggi.
Pada estimasi paling rendah sekalipun, biaya gas sekitar 14 sen dolar AS per kWh, lebih tinggi dibandingkan sebagian besar estimasi surya dan angin.
Hal ini menunjukkan bahwa pembangunan pembangkit fosil baru dapat membawa risiko biaya jangka panjang yang lebih tinggi dibandingkan alternatif energi terbarukan.
Program Surya 100 GW Bisa Mengubah Sistem Listrik Indonesia
Perubahan ekonomi energi tersebut muncul bersamaan dengan program 100 GW tenaga surya Indonesia.
Program tersebut pertama kali diumumkan pemerintah pada Juni 2025 dan secara resmi diluncurkan pada 25 Agustus 2026.
IEEFA menilai program 100 GW sebaiknya tidak diperlakukan hanya sebagai target tambahan di luar perencanaan kelistrikan.
Sebaliknya, pengembangan tenaga surya perlu diintegrasikan langsung ke dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik atau RUPTL.
Dengan begitu, lokasi pembangunan PLTS dapat ditentukan berdasarkan manfaat ekonomi dan teknis yang paling besar.
Apa Itu Dynamic Least-Cost Planning?
Salah satu rekomendasi utama IEEFA adalah penggunaan pendekatan dynamic least-cost planning.
Konsep ini berarti sistem kelistrikan tidak hanya memilih teknologi berdasarkan asumsi biaya masa lalu.
Perencanaan harus terus memperbarui berbagai faktor seperti:
- biaya pembangunan pembangkit,
- harga bahan bakar,
- risiko perubahan nilai tukar,
- tingkat suku bunga dan biaya pembiayaan,
- biaya jaringan dan penyimpanan energi,
- kondisi regional,
- hingga proyeksi perubahan teknologi.
Pendekatan ini menjadi semakin penting karena biaya teknologi energi berubah sangat cepat.
Jika keputusan hari ini didasarkan pada harga teknologi sepuluh tahun lalu, hasilnya dapat berupa investasi yang mahal selama puluhan tahun berikutnya.
Pembangkit Batu Bara Tidak Efisien Bisa Dipensiunkan Lebih Cepat
IEEFA juga menilai percepatan penghentian pembangkit fosil yang tidak efisien dapat mendukung pengembangan tenaga surya.
Pembangkit batu bara yang mahal dan berusia tua dapat menggunakan kapasitas jaringan yang sebenarnya dapat dimanfaatkan oleh energi terbarukan.
Pensiun dini pembangkit tertentu berpotensi:
- membuka kapasitas jaringan,
- mengurangi kebutuhan subsidi,
- mengurangi biaya operasi,
- dan memberikan ruang bagi pembangunan energi terbarukan.
Namun keputusan pensiun dini tetap membutuhkan kajian sistem kelistrikan yang matang agar keandalan pasokan listrik tidak terganggu.
Subsidi dan Kompensasi Listrik Naik Tajam
Kenaikan biaya energi fosil juga membawa konsekuensi terhadap keuangan negara.
IEEFA mencatat rata-rata tarif listrik yang dibayar konsumen pada 2025 berada sekitar Rp1.112,69 per kWh.
Sementara itu, rata-rata biaya pokok penyediaan listrik PLN ditambah margin usaha diperkirakan mencapai sekitar Rp1.785,64 per kWh.
Selisih tersebut sebagian ditutup melalui subsidi dan kompensasi pemerintah.
Menurut laporan, nilai subsidi dan kompensasi meningkat dari sekitar Rp65,9 triliun pada 2020 menjadi Rp200 triliun pada 2025.
Kenaikan ini menunjukkan bahwa persoalan biaya listrik tidak dapat dilihat hanya dari tarif yang dibayar pelanggan.
Sebagian biaya sebenarnya dialihkan ke APBN melalui subsidi dan kompensasi.
Indonesia Timur Bisa Mendapat Manfaat Lebih Besar
Salah satu temuan penting laporan IEEFA adalah adanya ketimpangan besar biaya listrik antarwilayah.
Sistem besar seperti Jawa dan Sumatera memiliki biaya pembangkitan relatif lebih rendah karena skala jaringan yang besar.
Sebaliknya, wilayah seperti Maluku, Papua, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur masih menghadapi biaya tinggi.
Salah satu penyebabnya adalah ketergantungan pada pembangkit diesel.
Diesel tidak hanya mahal, tetapi juga sangat sensitif terhadap harga minyak dan biaya logistik.
Surya Plus Baterai Bisa Menggantikan Diesel
IEEFA menilai kombinasi PLTS dan Battery Energy Storage System atau BESS sudah dapat menghasilkan listrik dengan biaya lebih rendah dibandingkan diesel dalam sejumlah sistem.
Keberadaan baterai menjadi sangat penting.
Tanpa penyimpanan energi, PLTS hanya menghasilkan listrik ketika matahari tersedia.
Dengan baterai, sebagian energi siang hari dapat disimpan dan digunakan pada malam hari atau ketika produksi surya menurun.
Artinya, PLTS plus baterai bukan hanya menghemat bahan bakar diesel pada siang hari.
Dalam konfigurasi yang tepat, sistem tersebut dapat menggantikan sebagian fungsi pembangkit diesel sebagai sumber listrik yang dapat dijadwalkan.
Sistem Kecil Justru Bisa Lebih Cepat Beralih
Wilayah Indonesia Timur memiliki banyak sistem kelistrikan kecil dan terisolasi.
Kondisi ini sering dianggap sebagai kelemahan.
Namun dalam transisi energi, sistem kecil juga dapat menawarkan keuntungan.
Penggantian pembangkit diesel dengan PLTS plus baterai dapat dilakukan tanpa harus selalu membangun jaringan transmisi berkapasitas sangat besar.
Karena itu, wilayah dengan biaya listrik tinggi dapat menjadi prioritas investasi energi terbarukan.
RUPTL 2025–2034 Sudah Membuka Ruang Besar untuk Energi Terbarukan
RUPTL 2025–2034 menargetkan pembangunan sekitar 42,6 GW energi terbarukan dan 10,3 GW penyimpanan energi hingga 2034.
Target tersebut menunjukkan peningkatan signifikan dibandingkan rencana sebelumnya.
Jika dipadukan dengan pembangunan jaringan transmisi, target tersebut dapat menjadi fondasi penting untuk meningkatkan penetrasi energi terbarukan.
Program surya 100 GW kemudian menciptakan peluang tambahan untuk mempercepat perubahan sistem kelistrikan.
Tantangan berikutnya adalah memastikan kedua agenda tersebut saling terintegrasi.
Investor Swasta Memerlukan Kepastian
Transisi energi dengan skala puluhan hingga ratusan gigawatt membutuhkan investasi sangat besar.
Karena itu, IEEFA menekankan pentingnya partisipasi sektor swasta.
Beberapa faktor yang dinilai penting antara lain Power Purchase Agreement atau PPA yang bankable, proses pengadaan yang transparan dan kompetitif, serta kepastian regulasi.
Kepastian tersebut dapat membantu menurunkan risiko proyek.
Semakin kecil risiko, semakin rendah biaya modal yang dibutuhkan investor.
Pada akhirnya, biaya listrik juga dapat semakin rendah.
Tantangan Bukan Lagi Apakah Energi Terbarukan Bisa Bersaing
Selama bertahun-tahun, salah satu kritik terhadap energi terbarukan adalah harganya dianggap terlalu mahal.
Namun perhitungan ekonomi pembangkitan kini berubah.
Teknologi surya menjadi semakin murah.
Baterai juga mengalami perkembangan pesat.
Sebaliknya, pembangkit fosil menghadapi risiko kenaikan harga bahan bakar, nilai tukar, serta biaya pemeliharaan aset tua.
Karena itu, menurut IEEFA, persoalan utama Indonesia kini bukan lagi apakah energi terbarukan dapat bersaing dengan batu bara.
Pertanyaannya adalah:
Apakah sistem perencanaan listrik Indonesia mampu mengikuti perubahan ekonomi energi dengan cukup cepat?
Transisi Energi Bisa Menjadi Strategi Ekonomi
Pengembangan energi terbarukan sering dibicarakan terutama dalam konteks pengurangan emisi karbon.
Namun laporan ini memperlihatkan dimensi lain.
Transisi energi juga dapat menjadi strategi ekonomi.
Mengurangi ketergantungan terhadap diesel dapat menekan impor bahan bakar.
PLTS dapat mengurangi paparan terhadap volatilitas harga komoditas.
Energi domestik dapat meningkatkan keamanan pasokan.
Sementara penurunan biaya pembangkitan dapat mengurangi tekanan terhadap PLN dan anggaran pemerintah.
Dengan demikian, manfaat energi terbarukan tidak hanya muncul dalam bentuk penurunan emisi.
Ia juga dapat berarti biaya listrik yang lebih terkendali, risiko fiskal yang lebih rendah, dan ketahanan energi yang lebih kuat.
Era Asumsi Batu Bara Murah Mulai Berubah
Struktur ekonomi energi Indonesia sedang mengalami perubahan.
Batu bara masih memainkan peran besar dalam sistem kelistrikan nasional, tetapi statusnya sebagai sumber listrik termurah tidak dapat lagi dianggap sebagai sesuatu yang permanen.
Ketika tenaga surya semakin murah, teknologi penyimpanan berkembang, dan biaya pembangkit fosil meningkat, strategi pembangunan listrik juga harus berubah.
Program surya 100 GW memberikan Indonesia kesempatan untuk memanfaatkan momentum tersebut.
Namun keberhasilannya akan sangat bergantung pada kemampuan mengintegrasikan target tersebut ke dalam RUPTL, memperkuat jaringan, membangun penyimpanan energi, melakukan pengadaan secara kompetitif, serta memastikan investasi masuk ke wilayah yang memberikan manfaat ekonomi terbesar.
Pesan penting dari laporan IEEFA cukup jelas:
Transisi menuju energi terbarukan bukan lagi hanya soal memilih listrik yang lebih bersih. Dalam kondisi tertentu, ia juga semakin menjadi pilihan listrik yang lebih ekonomis.




