Giliran Bappenas Buka-bukaan Penyebab Banjir Sumatra

Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Bappenas menyatakan bahwa rangkaian banjir yang melanda wilayah Sumatera merupakan dampak nyata dari triple planetary crisis, yakni perubahan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, serta polusi dan limbah.
Deputi Bidang Pangan, Sumber Daya Alam, dan Lingkungan Hidup Bappenas, Leonardo AA Teguh Sambodo, menegaskan bahwa krisis tersebut bukan sekadar konsep ilmiah, melainkan telah menjadi ancaman serius bagi stabilitas ekonomi dan sosial.
“Ini kita alami dalam bencana terakhir di Sumatera. Ini adalah gabungan dari ketiganya, mulai dari ketidaksiapan kita menghadapi dampak aktivitas manusia, hingga hilangnya sebagian ekosistem yang seharusnya berfungsi sebagai penyangga,” ujar Teguh di Jakarta, Selasa (23/12/2025).
Teguh menyoroti paradoks global di mana penggunaan sumber daya alam meningkat hingga 65% dalam dua dekade terakhir, namun tingkat pemanfaatan kembali atau sirkularitas masih stagnan. Kondisi tersebut semakin mengkhawatirkan di Asia Tenggara, yang menyumbang lebih dari 50% kebocoran plastik ke laut dunia setiap tahun.
“Sangat memprihatinkan bahwa enam dari sepuluh negara anggota ASEAN, termasuk Indonesia, masuk dalam daftar pencemar plastik laut terbesar di dunia,” tegasnya.
Masalah ini diperparah oleh infrastruktur pengelolaan sampah yang tertinggal jauh dari laju urbanisasi. Saat ini, lebih dari 50% sampah di ASEAN tidak terangkut, dan kurang dari seperempatnya berhasil didaur ulang. Tanpa intervensi signifikan, Indonesia diproyeksikan akan menghasilkan lebih dari 82 juta ton sampah domestik per tahun.
Teguh juga memperingatkan bahwa Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) di berbagai daerah berpotensi penuh secara total pada 2028, jika tidak ada perubahan pendekatan.
Sebagai langkah solusi, Bappenas mendorong penerapan ekonomi sirkular secara menyeluruh.
“Kita tidak bisa lagi hanya mengandalkan pola kumpul, angkut, dan buang. Diperlukan perubahan paradigma dalam pengelolaan sumber daya,” ujarnya.
Ekonomi sirkular diharapkan mampu menekan eksploitasi sumber daya sejak tahap desain produk, penggunaan, hingga pengelolaan kembali sisa konsumsi agar tetap berada dalam rantai nilai ekonomi.
“Ekonomi sirkular merupakan modal ekonomi yang meminimalkan penggunaan sumber daya sejak awal hingga dapat dimanfaatkan kembali secara optimal,” pungkas Teguh.
Temukan peta dengan kualitas terbaik untuk gambar peta indonesia lengkap dengan provinsi.




