Gunung di Kolaka Dikeruk, Lanskap Berubah Menjadi Lubang-Lubang Besar: Ke Mana Perginya Hutan?

Pemandangan kawasan perbukitan di Kolaka, Sulawesi Tenggara, berubah drastis. Lanskap yang sebelumnya menjadi bagian dari bentang alam kini terlihat terkikis oleh aktivitas pengerukan, meninggalkan lubang-lubang besar di permukaan tanah.
Gunung yang dahulu berdiri dengan vegetasi dan bentang alam alaminya perlahan berubah menjadi kawasan terbuka. Di sejumlah lokasi, material tanah dan batuan dikeruk dalam skala besar sehingga menyisakan cekungan yang dalam.
Perubahan tersebut kembali memunculkan pertanyaan besar mengenai bagaimana aktivitas pertambangan dilakukan dan sejauh mana pemulihan lingkungan dijalankan setelah lahan dieksploitasi.
Ketika Gunung Berubah Menjadi Lubang
Pertambangan pada dasarnya merupakan aktivitas pemanfaatan sumber daya alam. Namun, ketika dilakukan dengan metode pengerukan terbuka, perubahan terhadap bentang alam dapat terlihat sangat jelas.
Lapisan tanah dan vegetasi harus dibuka untuk mengambil material yang berada di bawah permukaan. Jika area yang telah selesai ditambang tidak segera direklamasi, bekas tambang dapat meninggalkan lubang besar dan kawasan yang kehilangan tutupan vegetasi.
Persoalannya bukan hanya mengenai perubahan pemandangan.
Hilangnya vegetasi dapat meningkatkan risiko erosi, mengubah tata air, dan memengaruhi ekosistem di sekitar kawasan tambang.
Apa yang Terjadi Setelah Tambang Selesai?
Pertanyaan penting dalam aktivitas pertambangan bukan hanya berapa banyak sumber daya yang berhasil diambil, tetapi juga:
Apa yang ditinggalkan setelah sumber daya tersebut habis?
Reklamasi dan rehabilitasi menjadi bagian penting dalam pengelolaan kawasan bekas tambang. Lahan yang telah dieksploitasi idealnya dipulihkan secara bertahap agar fungsi ekologisnya dapat kembali.
Pemulihan tentu tidak berarti mengembalikan gunung secara persis seperti kondisi awal. Namun, setidaknya lahan dapat ditata kembali, distabilkan, ditanami vegetasi, dan dikelola agar tidak menimbulkan risiko lingkungan yang lebih besar.
Jangan Sampai Keuntungan Hari Ini Menjadi Beban Generasi Berikutnya
Sumber daya mineral memiliki nilai ekonomi yang besar. Namun, alam juga memiliki nilai yang tidak selalu dapat dihitung dalam rupiah.
Hutan menyediakan habitat satwa, menyimpan karbon, menjaga tata air, dan melindungi tanah. Ketika sebuah kawasan dieksploitasi, seluruh fungsi tersebut ikut terdampak.
Karena itu, prinsip pembangunan berkelanjutan harus memastikan bahwa aktivitas ekonomi tidak hanya mengejar hasil hari ini, tetapi juga mempertimbangkan kondisi lingkungan setelah kegiatan berakhir.
Kawasan bekas tambang yang menyisakan lubang dalam seharusnya menjadi pengingat bahwa biaya lingkungan tidak boleh diwariskan begitu saja kepada generasi mendatang.
Kolaka dan Tantangan Menjaga Alam
Perubahan lanskap di kawasan pertambangan Kolaka menjadi bagian dari tantangan yang dihadapi banyak daerah kaya sumber daya alam.
Pertanyaannya bukan semata-mata apakah sumber daya alam boleh dimanfaatkan.
Pertanyaan yang lebih penting adalah:
Apakah alam yang dieksploitasi hari ini akan mendapatkan kesempatan untuk pulih?
Ketika gunung berubah menjadi lubang, pekerjaan rumah tidak berhenti pada selesainya kegiatan pengerukan. Justru setelah itu dimulai tanggung jawab untuk memulihkan lahan, menjaga keselamatan masyarakat, dan memastikan lingkungan tidak menjadi korban permanen dari aktivitas ekonomi.
Sebab sumber daya alam memang bisa diambil.
Tetapi kerusakan lingkungan yang ditinggalkan dapat menjadi warisan yang jauh lebih mahal untuk diperbaiki.




