Indonesia Butuh Investasi Rp17.892 Triliun untuk Bangun Energi Terbarukan hingga 2060

Transisi energi Indonesia membutuhkan investasi dalam skala sangat besar. Pemerintah memperkirakan kebutuhan investasi untuk pembangunan pembangkit dan jaringan energi baru dan terbarukan hingga 2060 mencapai sekitar US$1 triliun, atau setara kurang lebih Rp17.892 triliun dengan asumsi kurs Rp17.892 per dolar AS.
Perkiraan tersebut disampaikan Deputi Bidang Koordinasi Energi dan Sumber Daya Mineral Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Ellen Setiadi, dalam rangkaian pra-acara Indonesia International Sustainability Forum 2026 bertajuk Resilient Business in the Net Zero Era di Jakarta.
Investasi besar ini menjadi bagian dari strategi pemerintah untuk mempercepat transisi energi sekaligus mendukung target pertumbuhan ekonomi nasional. Pertumbuhan industri, digitalisasi, dan elektrifikasi diperkirakan akan membuat kebutuhan listrik Indonesia terus meningkat dalam beberapa tahun mendatang.
Pada 2030, kebutuhan listrik nasional diproyeksikan mencapai sekitar 600 terawatt hour (TWh), dengan konsumsi listrik mendekati 2.000 kilowatt hour (kWh) per kapita.
Peningkatan kebutuhan tersebut membuat pembangunan pembangkit baru tidak dapat hanya mengandalkan sumber energi konvensional. Energi terbarukan perlu dikembangkan lebih cepat agar pasokan listrik tetap cukup, andal, kompetitif, dan sekaligus lebih berkelanjutan.
Namun, membangun pembangkit saja tidak cukup. Salah satu tantangan besar Indonesia adalah lokasi sumber energi terbarukan yang sering berada jauh dari pusat konsumsi dan kawasan industri.
Karena itu, penguatan jaringan transmisi dan interkoneksi antarpulau menjadi bagian penting dari transformasi sistem energi. Jaringan yang lebih terhubung memungkinkan listrik dari wilayah dengan potensi energi terbarukan besar disalurkan ke daerah yang memiliki kebutuhan energi tinggi.
Pemerintah menargetkan sejumlah interkoneksi antarwilayah, termasuk Sumatera–Jawa, dapat mulai tersambung pada periode sekitar 2032–2035.
Interkoneksi juga menjadi semakin penting ketika penggunaan energi surya, angin, hidro, dan sumber terbarukan lainnya meningkat. Sistem kelistrikan yang terhubung dengan baik dapat membantu menyeimbangkan pasokan dan permintaan sekaligus meningkatkan keandalan jaringan.
Kebutuhan investasi hingga US$1 triliun menunjukkan bahwa transisi energi tidak mungkin hanya dibiayai oleh pemerintah. Keterlibatan BUMN, sektor swasta, investor internasional, lembaga keuangan, serta skema pembiayaan hijau akan menjadi faktor penting.
Di sisi lain, investasi sebesar ini juga membuka peluang ekonomi baru. Pembangunan pembangkit terbarukan, jaringan transmisi, sistem penyimpanan energi, industri baterai, panel surya, hingga teknologi digital jaringan listrik dapat menciptakan lapangan kerja dan industri baru.
Transisi energi Indonesia bukan hanya proyek lingkungan. Ini merupakan transformasi infrastruktur dan ekonomi berskala besar. Tantangannya adalah memastikan investasi triliunan rupiah tersebut benar-benar menghasilkan sistem energi yang lebih bersih, terjangkau, andal, dan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.




