Berita

Indonesia dan Kanada kolaborasi menanam 100 pohon ulin di Hari Bumi Sedunia

Dalam semangat memperingati Hari Bumi Sedunia yang jatuh setiap tanggal 22 April, sebuah kolaborasi lintas negara antara Indonesia dan Kanada telah menciptakan momen istimewa di tengah hijaunya kawasan Kalimantan Selatan. Sebanyak 100 bibit pohon ulin (Eusideroxylon zwageri), pohon endemik langka khas Kalimantan yang dikenal juga sebagai “kayu besi”, ditanam di kawasan Taman Biodiversitas Hutan Hujan Tropis Lembah Bukit Manjai, Mandiangin Timur, Kabupaten Banjar.

Penanaman ini bukan sekadar seremoni simbolik, namun sebuah aksi nyata untuk pelestarian lingkungan yang melibatkan dua institusi pendidikan tinggi—Universitas Lambung Mangkurat (ULM) dan University of Montreal, Kanada.

Pohon Ulin, Permata Hutan Kalimantan

Mengapa pohon ulin dipilih untuk ditanam? Jawabannya terletak pada peran ekologis dan status konservasi tanaman ini. Pohon ulin adalah salah satu spesies langka yang masuk dalam daftar merah Lembaga Konservasi Internasional (IUCN), artinya keberadaannya terancam punah dan membutuhkan perlindungan serius.

Menurut Dr. Amalia Rezeki, akademisi dan pemerhati lingkungan dari ULM yang turut memimpin kegiatan ini, pohon ulin bukan hanya lambang kekuatan hutan Kalimantan, tetapi juga menjadi rumah dan sumber makanan bagi berbagai jenis satwa liar. Selain itu, ulin memiliki kemampuan luar biasa dalam menyerap karbon dioksida (CO₂), gas rumah kaca yang menjadi penyebab utama perubahan iklim. Dengan menanam pohon ulin, maka kita turut andil dalam upaya mitigasi pemanasan global secara langsung—mengubah gas karbon menjadi biomassa yang bermanfaat.

Kolaborasi Lintas Negara: Ilmu dan Aksi Bersatu

Pada Minggu pagi yang cerah, Valerie Preseault, perwakilan dari University of Montreal, Kanada, memulai penanaman pohon secara simbolis. Ia didampingi oleh mahasiswa Program Studi Pendidikan Biologi ULM di bawah bimbingan Dr. Amalia Rezeki dan Luthfiana Nurtamara, M.Pd.

“Alhamdulillah, ini suatu kebanggaan dan kehormatan. Tim akademisi dari Kanada bisa turut serta dalam peringatan Hari Bumi Sedunia di Kalimantan Selatan,” ungkap Amalia.

Kehadiran Valerie dalam kegiatan ini tidak hanya memperkuat makna simbolis kerja sama dua negara, tetapi juga memberikan energi baru bagi mahasiswa untuk melihat bahwa pelestarian alam adalah tugas global. Valerie pun merasa bangga bisa terlibat. “Ini adalah pengalaman pertama saya menanam pohon ulin dan saya merasa sangat beruntung bisa ambil bagian dalam perayaan Hari Bumi di Indonesia,” ungkapnya dengan antusias.

Sebelumnya, Valerie juga berkontribusi sebagai dosen tamu di kampus ULM dengan mengisi kuliah tamu tentang hukum pidana, memperkuat semangat pertukaran ilmu dan budaya antara kedua kampus.

Mahasiswa Jadi Agen Perubahan

Selain penanaman pohon, mahasiswa juga didorong untuk menjadi agen perubahan dengan menyebarkan pesan-pesan pelestarian lingkungan melalui media sosial. Cara ini diharapkan mampu membentuk mata rantai kepedulian, di mana semangat mencintai dan menjaga bumi bisa menular ke lebih banyak orang.

“Aksi kecil seperti membagikan kegiatan ini di media sosial, bisa memberi dampak besar jika dilakukan bersama-sama,” jelas Luthfiana.

Semangat ini bukan hanya tentang pohon yang ditanam hari ini, tetapi juga tentang pohon-pohon yang akan tumbuh di masa depan—baik secara harfiah maupun metaforis.

Dukungan dari Masyarakat Konservasi

Bibit pohon ulin yang ditanam kali ini berasal dari Botanical Private Garden milik Chendrawan Sugianto, seorang pelaku konservasi pohon langka di Banjarmasin. Chendrawan juga dikenal sebagai pemilik PT Bandangan Tirta Agung, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang pengolahan air murni. Kontribusi pihak swasta dalam aksi ini menunjukkan bahwa konservasi alam bisa menjadi kolaborasi yang inklusif, melibatkan akademisi, mahasiswa, pemerintah, dan pelaku usaha.

Hari Bumi: Saatnya Merenung dan Bertindak

Hari Bumi Sedunia bukan hanya momen seremoni tahunan. Ia adalah pengingat bahwa bumi adalah satu-satunya rumah bagi kita dan seluruh makhluk hidup. Maka, menjaga bumi berarti menjaga masa depan kita sendiri.

Aksi penanaman 100 pohon ulin di Kalimantan Selatan ini adalah bukti bahwa harapan itu masih ada. Ketika ilmu, cinta terhadap alam, dan kerja sama lintas bangsa bersatu, maka perubahan besar bisa dimulai dari langkah kecil—seperti menanam satu pohon.

Semoga aksi ini menginspirasi lebih banyak kolaborasi global untuk menjaga hutan, memperkuat pelestarian keanekaragaman hayati, dan menumbuhkan kesadaran lingkungan di hati setiap manusia.


Sumber berita:
Antaranews: Indonesia-Kanada kolaborasi tanam 100 pohon ulin di Hari Bumi Sedunia

Temukan peta dengan kualitas terbaik untuk gambar peta indonesia lengkap dengan provinsi.

Konten Terkait

Back to top button
Data Sydney
Erek erek
Batavia SDK
BUMD ENERGI JAKARTA
JAKPRO