Artikel

Jejak perjalanan plastik dan pengaruhnya bagi perubahan iklim

Jejak Plastik Dari Ancaman Racun Tubuh Hingga Hambatan Politik Global

Siklus hidup plastik sekali pakai mulai dari kantong belanja hingga botol minuman ternyata tidak hanya berakhir sebagai tumpukan sampah atau mikroplastik di lingkungan. Dalam webinar bertajuk “Jejak Perjalanan Plastik dari Pabrik ke Tubuh Kita” yang diselenggarakan oleh Lapor Iklim, para pakar mengungkap bahwa plastik adalah pemicu utama krisis iklim sekaligus ancaman beracun bagi kesehatan manusia.

1. Plastik Bukan Sekadar Sampah, Melainkan Racun Berbahaya

Plastik diproduksi dari minyak dan gas bumi. Sepanjang siklus hidupnya, bahan ini terus-menerus melepaskan zat beracun ke udara dan rantai makanan.

Senior Advisor Nexus3 Foundation, Yuyun Ismawati, memaparkan beberapa fakta mengkhawatirkan mengenai ancaman kimia dalam plastik:

  • Ledakan Bahan Kimia Baru (Novel Entity): Setiap tahun ada sekitar 16.000 bahan kimia baru yang diproduksi secara masif untuk pembuatan plastik. Sayangnya, hanya 1% yang dikendalikan lewat konvensi internasional, sementara 99% sisanya lolos tanpa pengawasan.
  • Dampak Kesehatan Kronis: Kandungan berbahaya seperti BPA, phthalates, dan PFAS dapat merusak sistem hormon, mengganggu fungsi reproduksi, hingga memicu kanker.
  • Rekor Buruk Indonesia: Indonesia tercatat sebagai konsumen mikroplastik per kapita tertinggi di dunia, yakni mencapai 15 gram per bulan. Jika tren ini dibiarkan, akumulasi racun ini diprediksi dapat menurunkan tingkat kesuburan pria mendekati 0% pada tahun 2045.
  • Solusi Palsu Ekonomi Sirkular: Kantong kresek hitam merupakan contoh produk daur ulang berulang kali yang justru tinggi kandungan kimia berbahaya. Sementara itu, teknologi insinerator (pembakaran sampah) dinilai sebagai solusi semu karena abu hasil pembakarannya menyisakan racun yang pekat.

2. Hubungan Plastik dengan Krisis Iklim

Plastik dan perubahan iklim adalah dua sisi dari koin yang sama. Direktur Eksekutif Yayasan PIKUL, Torry Kuswardono, menjelaskan mengapa industri plastik memperparah pemanasan global:

  • Peralihan Strategi Industri Fosil: Ketika tren kendaraan listrik mulai menurunkan permintaan bahan bakar fosil, industri petrokimia global mengalihkan fokusnya untuk memproduksi plastik secara masif sebagai sumber keuntungan baru.
  • Kegagalan Daur Ulang: Hanya sebagian kecil plastik yang bisa didaur ulang. Sebagian besar berakhir mengotori alam atau dibakar di insinerator, yang melepaskan emisi karbon dalam jumlah besar.
  • Bioplastik Bukan Jawaban: Inovasi plastik berbasis tanaman (bioplastik) dinilai tidak realistis karena membutuhkan sumber daya alam yang terlalu besar untuk mengimbangi tingginya konsumsi manusia.

“Plastik adalah bagian dari persoalan iklim. Jika ingin keluar dari krisis, harus ada perubahan sistemik yang besar dalam sistem produksi, konsumsi, hingga kebijakan energi.”

Torry Kuswardono

3. Dinamika Politik Global dan Posisi Ambigu Indonesia

Upaya mengatasi polusi plastik melalui jalur diplomasi internasional masih menghadapi jalan buntu. Jurnalis Senior Harian Kompas, Ahmad Arif, yang hadir langsung dalam perundingan perjanjian plastik global (INC-5.2) di Jenewa, Swiss, membagikan catatannya:

  • Negosiasi yang Mundur: Draft perjanjian yang diajukan ditolak oleh sejumlah delegasi. Beberapa negara justru mendesak untuk kembali menggunakan draft lama hasil pertemuan INC-5 di Busan, Korea Selatan (2024).
  • Boikot Negara Produsen Minyak: Negara-negara produsen minyak seperti Arab Saudi, Iran, bahkan Amerika Serikat kompak menolak pembatasan produksi plastik. Delegasi AS bahkan dilaporkan mengirim memo penolakan kepada negara-negara kecil agar tidak mendukung pasal pembatasan tersebut.
  • Posisi Ambigu Indonesia: Di panggung formal, Indonesia tampak mendukung pengurangan plastik. Namun dalam meja negosiasi riil, delegasi Indonesia dinilai pasif, ambigu, dan tidak menunjukkan sikap tegas untuk membatasi produksi plastik karena terbentur kepentingan industri domestik. Kondisi ini kontras dengan Filipina yang tampil jauh lebih vokal.

Harapan ke Depan: Peran Media dan Kolaborasi

Meskipun diplomasi berjalan lambat, secercah harapan datang dari meningkatnya kesadaran publik. Co-Coordinator Aliansi Zero Waste Indonesia (AZWI), Nindhita Proboretno, mencatat bahwa liputan media terhadap isu plastik global terus meningkat pesat sejak pertemuan INC-1 hingga INC-5.

Peningkatan atensi ini penting untuk menekan pemerintah agar lebih ambisius. Menjelang rencana pertemuan berikutnya (INC 5.3), koalisi masyarakat sipil termasuk AZWI dan Lapor Iklim berkomitmen untuk terus mengawal kebijakan, mendorong penerapan sistem guna ulang (reuse), serta mendesak transparansi zat kimia berbahaya demi melindungi kesehatan publik dan bumi.

sumber:
https://aliansizerowaste.id/2025/08/25/jejak-perjalanan-plastik-dan-pengaruhnya-bagi-perubahan-iklim/

Temukan peta dengan kualitas terbaik untuk gambar peta indonesia lengkap dengan provinsi.

Konten Terkait

Back to top button
Data Sydney
Erek erek
Batavia SDK
BUMD ENERGI JAKARTA
JAKPRO