Karhutla Palangka Raya Tembus 1.201 Hektare, Lahan Gambut Jadi Tantangan Utama Pemadaman

Kebakaran hutan dan lahan atau karhutla kembali menjadi perhatian serius di Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Palangka Raya mencatat sepanjang periode 1 Juni hingga 16 September 2026 telah terjadi 567 kejadian karhutla dengan total luas lahan terbakar mencapai 1.201,15 hektare.
Kepala BPBD Kota Palangka Raya, Hendrikus Satriya Budi, menyebut kejadian tersebar di lima kecamatan, dengan jumlah terbanyak berada di Kecamatan Jekan Raya.
Jekan Raya Catat Kejadian Karhutla Terbanyak
Berdasarkan data BPBD, sebaran kejadian karhutla meliputi:
- Jekan Raya: 362 kejadian
- Sebangau: 119 kejadian
- Pahandut: 50 kejadian
- Bukit Batu: 33 kejadian
- Rakumpit: 3 kejadian
Data tersebut menunjukkan bahwa Jekan Raya menjadi wilayah dengan tekanan karhutla paling tinggi selama periode tersebut.
Jumlah kejadian yang besar juga memperlihatkan bahwa tantangan karhutla tidak hanya berkaitan dengan satu kebakaran besar, tetapi juga akumulasi banyak titik kejadian dalam waktu yang relatif singkat.
Lebih dari 1.200 Hektare Lahan Terbakar
Total luas area yang terbakar mencapai 1.201,15 hektare.
Angka ini penting karena kebakaran lahan tidak hanya menyebabkan hilangnya vegetasi.
Dampaknya dapat meluas ke kualitas udara, kesehatan masyarakat, habitat satwa, emisi gas rumah kaca, hingga terganggunya aktivitas sosial dan ekonomi.
Di wilayah dengan dominasi lahan gambut, dampaknya dapat menjadi lebih kompleks.
Lahan Gambut Sulit Dipadamkan
Salah satu tantangan terbesar dalam penanganan karhutla di Palangka Raya adalah karakteristik lahan gambut.
Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kota Palangka Raya, Muhammad Heri Pauzi, menjelaskan bahwa api di lahan gambut dapat merambat dan bertahan di bawah permukaan tanah.
Inilah yang membuat kebakaran gambut berbeda dari kebakaran vegetasi biasa.
Api yang tampak padam di permukaan belum tentu benar-benar berhenti.
Bara masih dapat tersimpan di lapisan gambut dan kembali memunculkan api ketika kondisi mendukung.
Mengapa Gambut Bisa Terbakar Lama?
Gambut terbentuk dari akumulasi bahan organik selama waktu yang sangat panjang.
Dalam kondisi alami, lahan gambut menyimpan banyak air.
Namun ketika mengering, material organik tersebut dapat berubah menjadi bahan bakar.
Api kemudian dapat masuk ke lapisan bawah tanah.
Karena itu, pemadaman tidak cukup hanya menyiram api yang terlihat.
Petugas harus memastikan bahwa bara di bawah permukaan benar-benar padam.
Kebakaran Gambut Menghasilkan Asap Pekat
Kebakaran gambut juga dikenal dapat menghasilkan asap dalam jumlah besar.
Proses pembakaran yang berlangsung lambat di bawah permukaan menghasilkan partikel halus dan berbagai senyawa yang dapat menurunkan kualitas udara.
Dalam kondisi tertentu, asap dapat menyebar jauh dari lokasi kebakaran.
Akibatnya, masyarakat yang berada jauh dari titik api pun dapat terkena dampaknya.
Risiko Kesehatan dari Asap Karhutla
Paparan asap karhutla dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan.
Kelompok yang paling rentan antara lain:
- anak-anak,
- lansia,
- ibu hamil,
- penderita asma,
- penderita penyakit paru,
- dan masyarakat yang bekerja di luar ruangan.
Partikel halus dapat masuk jauh ke dalam saluran pernapasan.
Karena itu, pemantauan kualitas udara menjadi bagian penting dalam penanganan karhutla.
Pemadaman Harus Dilakukan Menyeluruh
BPBD menyatakan setiap laporan kebakaran yang masuk langsung ditindaklanjuti dengan pengerahan personel dan sarana pemadaman.
Tujuannya bukan hanya memadamkan api, tetapi juga mencegah perluasan wilayah terbakar.
Respons cepat menjadi sangat penting, terutama di lahan gambut.
Semakin lama api dibiarkan, semakin besar peluang api masuk lebih dalam ke lapisan tanah.
Sumur Bor Menjadi Infrastruktur Penting
Salah satu upaya yang dilakukan adalah penyediaan sumber air melalui pembuatan sumur bor di sejumlah lokasi.
Ketersediaan air menjadi faktor penting dalam pemadaman.
Pada musim kemarau, sumber air permukaan dapat berkurang.
Jika petugas harus membawa air dari lokasi yang jauh, proses pemadaman menjadi lebih lambat.
Sumur bor membantu menyediakan sumber air lebih dekat dengan kawasan rawan.
Kolaborasi Banyak Pihak Diperkuat
Penanganan karhutla di Palangka Raya melibatkan berbagai pihak.
BPBD bekerja sama dengan:
- Manggala Agni,
- TNI,
- Polri,
- Dinas Kehutanan,
- BKSDA,
- pemadam kebakaran,
- relawan,
- Masyarakat Peduli Api,
- serta perangkat kecamatan dan kelurahan.
Kolaborasi ini penting karena karhutla merupakan persoalan yang membutuhkan respons cepat dan cakupan wilayah luas.
Patroli Terpadu Menjadi Kunci Pencegahan
Pemadaman bukan satu-satunya strategi.
Patroli terpadu juga dilakukan untuk memantau kawasan rawan.
Pendekatan ini penting karena biaya dan dampak pemadaman jauh lebih besar jika kebakaran sudah meluas.
Dengan patroli, titik api dapat ditemukan lebih awal.
Respons awal dapat mencegah kebakaran kecil berkembang menjadi kejadian besar.
Pencegahan Jauh Lebih Efektif daripada Pemadaman
Dalam pengendalian karhutla, pencegahan memiliki nilai yang sangat besar.
Kebakaran gambut sangat sulit dan mahal dipadamkan setelah api masuk ke bawah tanah.
Karena itu, strategi ideal adalah menjaga agar gambut tetap basah dan mencegah sumber api muncul.
Pendekatan ini dapat dilakukan melalui:
- pengelolaan muka air gambut,
- patroli,
- pemantauan hotspot,
- edukasi masyarakat,
- penegakan hukum,
- serta penyediaan infrastruktur air.
Karhutla Juga Berdampak pada Satwa Liar
Dampak kebakaran tidak hanya dirasakan manusia.
Satwa liar dapat kehilangan habitat, sumber makanan, dan tempat berlindung.
Asap juga dapat mengganggu sistem pernapasan satwa.
Jika kebakaran terjadi pada kawasan yang sudah terfragmentasi, kemampuan satwa untuk mencari habitat alternatif menjadi semakin kecil.
Karena itu, penanganan karhutla juga berkaitan langsung dengan konservasi keanekaragaman hayati.
Emisi Karbon dari Gambut Menjadi Persoalan Besar
Gambut merupakan penyimpan karbon dalam jumlah besar.
Ketika terbakar, karbon yang tersimpan selama sangat lama dapat dilepaskan kembali ke atmosfer.
Inilah salah satu alasan kebakaran gambut memiliki dampak iklim yang signifikan.
Selain menghasilkan CO₂, proses pembakaran tidak sempurna juga dapat menghasilkan gas dan partikel lain.
Karena itu, perlindungan gambut merupakan bagian penting dari strategi mitigasi perubahan iklim.
Karhutla Bukan Hanya Masalah Musiman
Karhutla sering muncul sebagai isu setiap musim kemarau.
Namun jika persoalan hanya ditangani ketika kebakaran terjadi, akar masalahnya tidak pernah benar-benar selesai.
Pengelolaan lahan, tata air gambut, perubahan penggunaan lahan, aktivitas manusia, dan pengawasan kawasan harus dilihat sebagai satu sistem.
Pendekatan jangka panjang jauh lebih penting daripada respons darurat semata.
Kota Membutuhkan Sistem Peringatan Dini
Dengan jumlah kejadian mencapai ratusan dalam beberapa bulan, Palangka Raya membutuhkan sistem pemantauan yang kuat.
Data hotspot, kelembapan tanah, kondisi cuaca, arah angin, dan ketersediaan air dapat digunakan sebagai sistem peringatan dini.
Teknologi seperti citra satelit, sensor, drone, dan pemetaan digital juga dapat membantu petugas menentukan wilayah prioritas.
Semakin cepat ancaman terdeteksi, semakin kecil kemungkinan api meluas.
Peran Masyarakat Sangat Penting
Masyarakat Peduli Api menjadi salah satu elemen penting dalam penanganan karhutla.
Warga lokal biasanya memiliki pengetahuan paling baik tentang kondisi wilayah.
Mereka mengetahui akses jalan, sumber air, lahan rawan, dan perubahan kondisi lingkungan.
Pelibatan masyarakat juga dapat meningkatkan kecepatan pelaporan.
Dalam kebakaran gambut, selisih beberapa jam dapat sangat menentukan.
567 Kejadian Menjadi Alarm Serius
Sebanyak 567 kejadian karhutla dalam periode sekitar tiga setengah bulan menunjukkan tingginya tekanan terhadap lingkungan Palangka Raya.
Angka tersebut seharusnya tidak hanya dilihat sebagai statistik.
Setiap kejadian membawa risiko terhadap kesehatan masyarakat, ekosistem, emisi karbon, dan biaya penanganan.
Karena itu, evaluasi terhadap pola lokasi, penyebab, waktu kejadian, dan efektivitas respons sangat penting.
Dari Pemadaman ke Pencegahan Berbasis Data
Ke depan, pengendalian karhutla perlu semakin berbasis data.
Wilayah dengan kejadian berulang dapat dipetakan.
Sumber air dapat ditempatkan lebih strategis.
Patroli dapat difokuskan pada kawasan dengan risiko tertinggi.
Sementara edukasi dan pengawasan dapat diarahkan pada lokasi yang memiliki riwayat kebakaran tinggi.
Pendekatan ini membuat sumber daya penanganan menjadi lebih efektif.
Menjaga Gambut Berarti Menjaga Kota
Karhutla di Palangka Raya memperlihatkan bahwa perlindungan lahan gambut bukan hanya isu konservasi.
Ia juga berkaitan dengan kesehatan, ketahanan kota, ekonomi, kualitas udara, dan perubahan iklim.
Ketika gambut tetap basah, risiko kebakaran menurun.
Ketika kebakaran dapat dicegah, asap berkurang.
Ketika asap berkurang, kesehatan masyarakat lebih terlindungi.
Dan ketika gambut tetap utuh, karbon tetap tersimpan.
Karena itu, tantangan terbesar bukan hanya memadamkan api yang sudah muncul.
Tantangan yang lebih penting adalah memastikan api tidak terus kembali setiap musim kemarau.




